Rabu, 22 April 2026

Berita Jember

Rumah Pintar Silo  Beri Solusi Pendidikan Bagi Anak Putus Sekolah di Jember

Sekolah Alam Rumah Pintar Kecamatan Silo, Jember menjadi solusi pendidikan bagi mereka yang putus sekolah, meski usianya sudah dewasa

Penulis: Imam Nawawi | Editor: Sri Wahyunik
TribunJatimTimur.com/Imam Nawawi
Kegiatan di Sekolah Alam Rumah Pintar Silo, Jember 

 TRIBUNJATIMTIMUR.COM, JEMBER - Kemunculan Sekolah Alam Rumah Pintar di Kecamatan Silo Jember, Jawa Timur rupanya menjadi fenomena baru dalam cakrawala sistem pendidikan Indonesia.

Lembaga Pendidikan yang berada di Dusun Sumber Pinang Desa Karangharjo Kecamatan Silo Jember ini, sengaja dibentuk untuk menampung anak-anak yang putus sekolah.

Terlihat, lokasi yayasan dibawah naungan Dinas Pendidikan Jember ini berada di Jalan Simpang Tiga, berada di tengah sawah, berdekatan gumuk. Bahkan bersebelahan dengan kandang ayam potong.

Lembaga non formal yang diresmikan Tahun 2016 ini juga menfasilitasi anak putus sekolah, melalui program kejar paket. Supaya mereka memperoleh hak pendidikan yang layak.

Selain itu, yayasan ini juga mewadahi anak Sekolah Dasar (SD), dalam mengembangkan cakrawala pengetahuan baru , yang tidak diajarkan di lembaga formal mereka.

Founder Rumah Pintar Jember Samsul Hadi Saputra mengatakan jumlah siswa di yayasannya, ada 113 anak umur SD. Serta 61 orang yang tergabung dalam Kelompok Belajar (Pokjar) untuk program kejar paket.

"Alumni pertama itu ada 13 orang yang telah diwisuda dari Sekolah Kejar Paket C, dan dapat ijasah yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan . Mereka sekarang ada yang sudah melanjutkan kuliah, ada yang jadi PPPK, lalu PKM juga. Dan tahun ini mungkin ada 30 siswa yang akan ujian kejar paket," urainya, Senin (6/3/2023).

Dia membeberkan para siswa yang ikut kejar paket mayoritas sudah berusia dewasa, serta telah bekerja. Bahkan mereka berasal dari lintas kecamatan di Kabupaten Jember.

"Ada yang dari Kecamatan Ambulu, ada yang dari Kalisat, Mayang juga ada. Untuk umur sangat variatif, ada yang 18 tahun. Ada yang sudah 20 tahun, ada pula yang 30 tahun," kata pria yang akrab disapa Hadi.

Kalau yang 113 siswa yang sekolah alam dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) . Kata dia. berasal dari dua desa di Kecamatan Silo Kabupaten Jember saja.

"Dari Desa Karangharjo dan Harjomulyo Kecamatan Silo. Sebenarnya ada dari desa Pace, tapi kami tidak mau, soalnya kasihan, berangkatnya jauh. jadi kami utus alumni kami untuk mendirikan rumah pintar juga di Pace sana," tuturnya.

Menurutnya, untuk para siswa yang ingin belajar sekolah alam, tidak ditarik biaya. Justru bagi mereka tidak memiliki fasilitas belajar, akan dibantu.

"Untuk yang Pokjar, karena itu pendidikan yang ada lisensinya, itu ditarik pungutan sesuai kesepakatan dengan pihak dinas terkait," papar Hadi.

Dari pengalaman yang telah dilakukan, kata dia, 13 siswa yang telah diwisuda tersebut, dimintai biaya sebesar Rp1.800.000 untuk mengikuti ujian sekolah kejar peket C dan segala kelengkapannya.

"Tetapi kalau untuk iuran pribadi ke lembaga nggak ada, itu untuk waktu ujian saja. Kalau untuk yang tahun ini, baik paket B atau A, masih belum tahu. Soalnya itu ditetapkan oleh dinas terkait," jelasnya.

Jadwal aktivitas belajar mengajar, untuk Pokjar, dilakukan setiap dua minggu sekali. Karena, kata Hadi, mereka kebanyakan adalah orang-orang yang sudah usia dewasa dan telah bekerja.

"Jadwalnya adalah hari Minggu, karena kegiatan ini adalah pembelajaran untuk bebas putus sekolah. Memberikan pendampingan bagi mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolah, agar mereka memperoleh legal ijazah resmi, supaya bisa melanjutkan karier pendidikan mereka atau masuk dunia kerja," paparnya.

Sedangkan untuk waktu pembelajaran, disesuaikan dengan petunjuk teknis dan kurikulum pendidikan dari Kementerian Pendidikan, dari Jam 08.00 WIB hingga Pukul 12.00 WIB," katanya.

Baca juga: BREAKING NEWS : Rumah Pak Kades di Probolinggo Dilempar Bondet, Mobil Baru Beli 14 Hari Pun Rusak

Sementara jadwal sekolah alam bagi anak yang masih SD dilakukan setiap hari jumat pada Pukul 14.00 WIB hingga 16.00 WIB. Biasanya, katanya, kegiatannya berupa memberikan pendampingan bagi pelajar.

"Ketika mereka menemukan persoalan yang tidak terpecahkan di lembaga formalnya, semisal pelajaran Matematika, Bahasa Inggris. Bahkan kami juga memberikan pendampingan dalam pengembangan minat dan bakat masing-masing siswa,baik sepak bola ataupun ketrampilan lain yang ingin mereka kembangkan," jlentehnya.

Hadi menjelaskan awal mulai mendirikan Rumah Pintar ini, karena banyak sekolah formal yang tidak mau menerima siswa yang melebihi batas usia. Dari hal tersebut akhirnya didirikanlah yayasan tersebut sebagai solusi bagi mereka.

"Atau bisa disebut sekolah alternatif, baik untuk anak yang tidak mampu, maupun berhenti sekolah,"katanya.

Dia mengaku perintisan pendidikan komunitas tersebut dimulai pada Tahun 2014. Kata dia, saat itu aktivitas belajar mengajar dilakukan di ruang tamu rumah pribadi.

"Dan siswanya itu adalah keponakan sendiri, jumlahnya cuma empat orang. Lalu berkembang ke saudara, lalu tetangga sehingga secara jumlah kuantitas jadi cukup banyak. Akhirnya kami merekrut beberapa orang untuk jadi tutor dan pendamping," katanya.

Karena ruangan di rumah pribadi tidak muat menampung siswa, akhirnya pada Tahun 2016. Hadi mengaku harus memindah lokasi belajar mengajar dengan mendirikan bangunan tersendiri.

"Sampai akhirnya tepat pada tanggal 1 Juni 2016, bangunan Rumah Pintar ini diresmikan langsung oleh Wakil Bupati Jember Muqit Arief," ulasnya.

Sementara untuk program pendidikan kejar paket, baru dilakukan pada Tahun 2018. Dan 13 siswa yang diwisuda itu adalah angkatan pertama Pokjar.

(TribunJatimTimur.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved