Berita Bondowoso
Nursalim Seniman Pengrajin Anyaman Bambu dari Bondowoso, Tetap Berkarya di Masa Senja
Dari tangan pemilik UMKM anyaman "Bambu House" itu telah banyak menghasilkan berbagai karya.
Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Haorrahman
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Di Desa Taman, Kecamatan Grujugan, Bondowoso, ada seorang pengrajin dan seniman anyaman bambu. Nursalim begitu dia dipanggil, telah berkarya sejak 1997, dan karya-karya uniknya telah sampai ke berbagai negara.
Dari tangan pemilik UMKM anyaman "Bambu House" itu telah banyak menghasilkan berbagai karya. Tidak hanya alat-alat kebutuhan rumah tangga, namun beragam karya unik seperti sayap kupu-kupu untuk penari, design interior cafe dan villa, miniatur gerbong maut, miniatur vespa, bajai, dan beragam karya unik lainnya.
Pria berusia 62 tahun itu menceritakan, usahanya berawal dari keinginannya membelikan kursi untuk istrinya pada tahun 1997.
Ia mengenang kisahnya dulu yang hanya punya uang Rp 150 ribu untuk beli kursi keinginan istrinya. Kemudian Nursalim punya ide setelah melihat temannya mengangkut kursi dari bambu.
Baca juga: UMKM Business Expo 2025 - Panggung Pengusaha UMKM Jatim Pamerkan Produk Berkualitas Ekspor
Akhirnya dia membuat kursi dengan bermodal uang Rp 150 ribu. Ia menebang bambu di belakang rumahnya untuk buat kursi.
Setelah jadi ternyata banyak saudara dan tetangganya yang memuji, bahkan ada yang langsung pesan minta dibuatkan yang sama.
"Ini kursinya, tak akan saya jual," ujarnya sembari menunjuk kursi pertama yang dibuatnya untuk sang istri.
Sejak saat itu Nursalim menggeluti anyaman bambu. Kian hari kian ramai orang mengenalnya, tim dari Dinas Perindustrian dan Kecamatan datang memberikan apresiasi, hingga membantunya meningkatkan kemampuan mengayam bambunya dengan magang ke Surabaya dan Yogjakarta.
Baca juga: Persema Malang vs Persewangi Banyuwangi 1-2, Kedua Tim Lolos Babak Semifinal Liga 4 Jatim
Bahkan pada 2000 pernah menjalin kerjasama dengan Jepang, untuk diminta mengirim bahan setengah jadi anyaman bambu.
Setelah tuntas kerjasama itu selama lima tahun. Kemudian tahun 2005 menjajal kerjasama dengan Perancis, kendati tak berhasil. Namun, Nursalim tak putus asa dan tetap berkarya sembari menerima pesanan-pesanan lokal dan interlokal.
Kini setiap hari dirinya terima banyak pesanan untuk membuat beragam miniatur dari bambu.
Dia juga menjadi salah satu pengajar di Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja Bondowoso sejak tahun 2007.
"Sering ngelatih di Diskoperindag, yang belajar dari daerah lain juga ada," ungkapnya.
Baca juga: Hadirkan Tiga Menu Baru, CLG Taman Dayu Sajikan Olahan Wagyu dan Salmon
Hingga tahun 2010 dirinya berhasil kerjasama dengan Pabrik rotan dari Gersik. Mengirim bahan lingkaran ukuran 1,2 meter untuk bahan produk pabrik. Banyaknya pesanan ini membuat Nursalim harus merekrut karyawan.
Namun tantangan tiba saat pandemi Covid-19 melanda. "Tapi mulai Corona stop tidak kirim kemana-mana," ujarnya.
Kini memulai lagi dari nol. Karena hanya ada pesanan dari peminat lokal. Selain itu, dirinya sibuk menerima orang-orang yang hendak belajar. Baik dari BLK maupun orang datang langsung ke rumahnya.
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur
Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur
(Sinca Arie Pangestu/TribunJatimTimur.com)
| Danu Kaget Temukan Jenazah di Saluran Irigasi, Jadi Buah Bibir Warga Tenggarang Bondowoso |
|
|---|
| Sosok Mr X yang Ditemukan Tergeletak di Jalan Sukowiryo Bondowoso Akhirnya Terungkap |
|
|---|
| Pemerintah Daerah Bondowoso Beri 15.300 Buruh Tani Tembakau Jaminan Sosial |
|
|---|
| 41 Truk Didistribusikan untuk Koperasi Merah Putih di Bondowoso |
|
|---|
| Harga BBM Non-Subsidi Resmi Naik, Pengawas SPBU di Bondowoso Prediksi Konsumen Ganti Bahan Bakar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/anyaman-bambu-bondowoso.jpg)