Harga Solar Dex Naik, Harga Pasir Lumajang juga Ikut Naik hingga 30 Persen
Harga pasir Lumajang naik hingga 30 persen akibat mahalnya solar non subsidi, tekan penambang hingga sopir truk.
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
Ringkasan Berita:
- Harga pasir Lumajang naik hingga 30 persen akibat mahalnya BBM non subsidi.
- Kenaikan dipicu penggunaan Pertamina Dex untuk alat berat tambang.
- Sopir truk menyiasati dengan muatan berlebih dan menimbun sebagian pasir.
- Penambang mengaku kenaikan biaya operasional mulai terasa sejak April 2026.
- Daya saing pasir Lumajang terancam jika harga terus meningkat.
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Harga pasir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami kenaikan signifikan hingga sekitar 30 persen. Lonjakan ini dipicu oleh naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi atau solar dex yang digunakan dalam aktivitas pertambangan.
Salah satu sopir dump truk asal Pasirian, Iwan, menyebut harga pasir per truk kini mencapai Rp 650 ribu dari sebelumnya sekitar Rp 450 ribu.
“Kalau operasional truk tidak ada kendala. Cuma kenaikan harga pasir ini yang menekan pihak kami semua driver. Ini yang jadi pertimbangan,” ujar Iwan, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Kasus Penyelewengan Solar Subsidi di Jember, Polisi Belum Tetapkan Tersangka
Kenaikan Solar Dex
Iwan menjelaskan, operasional truk sebenarnya tidak terlalu terdampak karena masih bisa menggunakan biosolar subsidi melalui sistem barcode. Namun, kenaikan harga terjadi di sisi produksi, terutama pada penggunaan BBM jenis Pertamina Dex untuk alat berat.
“Kalau alat berat kan harus pakai Dex, tidak boleh pakai biosolar. Akibatnya harga pasir naik hampir 30 persen,” jelasnya.
Hal serupa disampaikan Antok, seorang penambang pasir di Kecamatan Pasirian. Ia menyebut kenaikan harga sudah terasa sejak pertengahan April 2026.
“Kenaikan terjadi mulai 18 April 2026. Harga solar non subsidi membuat kerja makin bingung,” katanya.
Baca juga: Tumpahan Solar di Jalan Binakal Bondowoso Sebabkan Banyak Pengendara Motor Terjatuh
Menurut Antok, kenaikan harga pasir berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per rit (pengangkutan).
Kondisi ini memaksa pelaku usaha mencari cara untuk tetap bertahan. Iwan mengaku harus mengangkut pasir melebihi kapasitas normal demi menutup biaya operasional.
“Biasanya saya bawa 7 kubik, sekarang harus 8 kubik lebih. Tapi risikonya kendaraan jadi cepat rusak,” ujarnya.
Ia juga menyiasati dengan menyisihkan sebagian muatan untuk ditimbun sebelum dikirim ke konsumen.
“1,5 sampai 2 kubik kami simpan di rumah. Itu jadi cadangan untuk nutup pembengkakan biaya,” tambahnya.
Langkah tersebut diambil karena sopir tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi di tingkat konsumen.
Baca juga: Pemkab Lumajang Daftarkan 1.900 Buruh Tambang Pasir BPJS Ketenagakerjaan
Daya Saing
Di sisi lain, pemerintah daerah mengingatkan bahwa kenaikan harga ini bisa berdampak pada daya saing pasir Lumajang di pasar regional.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Lumajang, Muhammad Ridha, menilai kualitas pasir Lumajang masih unggul, namun faktor harga menjadi penentu utama.
“Pasir Lumajang tetap melimpah dan berkualitas. Tetapi rantai pasoknya kini menghadapi ujian berat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaku usaha harus mulai beradaptasi dengan kondisi baru, baik melalui efisiensi maupun diversifikasi usaha.
“Di dunia tambang pasir, yang bertahan bukan yang punya pasir terbanyak, melainkan yang bisa menjualnya dengan harga yang masih masuk akal,” tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/Tambang-pasir-lumajang-naik.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.