Selasa, 12 Mei 2026

Berita Banyuwangi

Kerajinan Tangan dari Desa di Banyuwangi Tembus Pasar Mancanegara

Kerajinan dari olahan limbah di Desa Tambong, Kabat, Banyuwangi rupanya mampu menembus pasar mancanegara

Tayang:
Editor: Sri Wahyunik
TribunJatimTimur.com/Aflahul Abidin
Kriya olahan limbah dari ibu-ibu Desa Tambong, Kabat, Banyuwangi, yang bisa menembus pasar mancanegara 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Puluhan ibu-ibu di Desa Tambong, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi berhasil menyulap aneka bahan dari alam menjadi kerajinan. Tak tanggung-tanggung, hasil sulap tangan mereka berhasil merambah pasar mancanegara.

Luluk (34) tampak terlatih memilah dan memilih bahan-bahan yang selama ini dianggap limbah oleh kebanyakan orang.

Di hadapannya, terdapat beberapa bahan seperti serat pelepah pohon pisang, batok kelapa, hingga potongan kayu. Tangannya cekatan menyulap bahan-bahan itu menjadi kerajinan yang punya niai rupiah.

Luluk tak sendiri. Bersamanya, ada puluhan ibu-ibu lain yang bekerja membuat kerajinan tangan dari bahan-bahan dari alam.

Luluk mengatakan, aktivitas membuat kerajinan dilakukan di sela waktunya mengurus rumah tangga.

"Hasilnya lumayan, bisa untuk menambah penghasilan keluarga," kata dia.

Usaha kerajinan itu dikelola oleh Bumdes Desa Tambong. Sejak Tahun 2000, para perajin di sana telah menciptakan ribuan atau bahkan puluhan ribu produk yang telah dikirim ke banyak daerah.

"Tidak hanya dalam negeri, tapi juga luar negeri," kata Nuri, salah satu pengelola Bumdes Desa Tambong.

Nuri menyebut, ada beberapa jenis kerajinan yang dihasilkan oleh para perajin di desa itu. Dua di antaranya yang paling banyak diproduksi adalah tas anyaman berbagai model dan tempat parfum.

Produk tas, aku dia, telah sejak lama dikirim ke Thailand, Hawai, hingga Jamaika.

"Yang paling banyak dikirim adalah tas yang bahannya di buat dari batok kelapa," kata dia.

Sementara untuk tempat pembungkus botol parfum lebih banyak dijual ke berbagai daerah untuk cinderamata.

Bahkan, menurut Nuri, produk itu juga diboyong sebagai salah satu cinderamata yang dipasarkan dalam pagelaran MotoGP Mandalika, Maret lalu.

"Kalau untuk tempat parfum, pasarnya masih tanah Air. Paling banyak kami kirim ke Jakarta. Dan dijual sebagai souvernir saat MotoGP di Indonesia waktu itu," sambung dia.

Selain dua produk itu, para perajin di Desa Tambong juga memproduksi kerajinan lain seperti wadah buah, nampan, peralatan makan-minum, hingga kebutuhan rumah tangga lain yang terbuat dari bahan limbah alam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved