Minggu, 10 Mei 2026

Berita Lumajang

Petani Muda di Lumajang Rasakan Manisnya Hasil Perkebunan Pisang Cavendish

Seorang petani muda di Lumajang memilih pisang cavendish sebagai produk unggulannya, karena memiliki potensi pasar luas nan menghasilkan

Tayang:
Editor: Sri Wahyunik
TribunJatimTimur.com/Erwin Wicaksono
Muhammad Jamaluddin, petani muda Lumajang memilih pisang cavendish sebagai tanaman unggulan yang menghasilkan keuntungan 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Muhammad Jamaluddin jeli melihat potensi suburnya tanah di Kabupaten Lumajang. Bermodal pengetahuannya akan tanaman, petani muda berusia 34 tahun asal Desa Rojopolo, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang ini dapat meraup uang ratusan juta rupiah dari hasil panen menanam pisang cavendish.

"Usaha perkebunan pisang cavendis ini punya prospek menjanjikan. Perputaran uangnya cepat dan namanya pisang ini kan pasti berbuah. Tinggal bagaimana kita merawatnya secara baik," ujar Jamal ketika ditemui pada Jumat (27/1/2023).

Jamal menghitung dalam sekali panen, keberhasilan ribuan pisang cavendish yang ia tanam memiliki persentase 80 persen.

Pria ramah ini menyewa lahan di dua tempat berbeda. Lahan di Desa Rojopolo, Kecamatan Jatiroto seluas 1 hektar dengan populasi 1.600 pohon. Kemudian lahan di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono seluas 0,5 hektar dengan populasi 1.000 pohon

"Estimasi dari 1.600 tanaman bisa 80 persen yang berbuah bagus. Sehingga estimasi omzet di lahan satu hektar dengan jumlah tanaman tersebut mencapai Rp 120-an juta sekali panen. Satu tundung pisang beratnya mencapai 20 kilogram," bebernya.

Sebelum mencapai keberhasilannya dalam berkebun pisang cavendish, Jamal menyatakan hasilnya kini didapat dengan usaha yang tak mudah. Ia bahkan sempat menemui hasil yang kurang tidak sepadan ketika menanam pohon sengon hingga akhirnya ia beralih ke tanam pisang cavendish dalam setahun terakhir.

Jamal menjelaskan jika kunci keberhasilan penanaman pisang cavendish berasal dari pemilihan bibit yang berkualitas. Ia mengambil bibit dari salah satu lembaga penelitian tanaman di Mojokerto dengan harga Rp 15 ribu per pohon.

"Tips wajib harus memulai dengan menanam bibit berkualitas. Awal pembibitan selama 5 hari kemudian dilakukan pemupukan. Setelah itu baru dilakukan penanaman. Kemudian selang 1 bulan dilakukan pemupukan kimia," bebernya.

Setelah penanaman bibit berhasil, Jamal mengatakan masih banyak proses yang harus dilalui. Di antaranya disiplin dalam perawatan pohon pisang cavendish. Menurut Jamal, pohon pisang cavendish rentan terserang virus.

Penyakit tersebut menyerang bagian buah serta akar pisang hingga membuat pohon roboh dan dipastikan gagal panen.

"Tantangan dalam perawatan pisang cavendish hingga berbuah apik adalah disiplin dalam perawatan. Kendalanya adalah serangan virus," ungkap Jamal.

Namun, kendala tersebut ia atasi dengan berbagai upaya perawatan ketat untuk menjaga kualitas pisang yang ia tanam.

"Penyemprotan daun harus rutin dua pekan sekali. Lalu wajib menjaga pembuahan dari hama serangga dengan cara disuntik jantung pisangnya. Lalu harus bisa menjaga kesuburan tanaman. Terakhir, irigasi harus cukup dikala musim kemarau," jelas Jamal.

Jamal menjelaskan jika masa pembibitan hingga akhirnya berbuah memakan waktu tumbuh selama 9 bulan. Baru setelah periode tersebut pisang dapat dipanen setiap 4 bulan dalam sepanjang tahun.

"Pada tahun pertama, cavendish baru bisa berbuah pada usia 9 bulan. Baru setelahnya 4 bulan dapat berbuah. Masa produktif dari pisang cavendish sendiri mencapai 8 tahun. Baru setelahnya harus diganti bibit," tutur Jamal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved