Berita Jember
Harga Tetes Tebu di Jember dan Banyuwangi Anjlok di Musim Giling 2025
Para petani tebu di Jember dan Banyuwangi mengalami rugi besar di masa panen, sebab harga tetes tebu anjlok di masa musim giling
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Sri Wahyunik
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, JEMBER - Para petani tebu di Jember dan Banyuwangi mengalami rugi besar di masa panen, sebab harga tetes tebu anjlok di masa musim giling.
Hal tersebut dikatakan Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) PG) Glenmore Siswono, dikonfirmasi di Jember, Jumat (6/6/2025).
Dia mengaku harus mengirimkan surat resmi kepada Menteri Perdagangan, DPR RI, Direktur Utama Holding Sugar Group (SGN), dan Direktur Utama SGN supaya harga tetes tebu bisa kembali stabil.
"Harga tetes tebu yang anjlok, tentu berdampak langsung pada pendapatan petani. Dan harga tetes tebu saat ini tidak mencerminkan kondisi pasar yang adil bagi petani," ungkapnya.
Siswono menilai jika harga tetes tebu sebesar Rp 2.200 per kilonya, seperti 2024 kemarin. Menurutnya, para petani masih bisa sedikit untung.
"Penurunan harga ini sangat merugikan kami sebagai petani. Kami meminta agar harga tetes tebu minimal sama dengan harga pada musim giling tahun 2024, yaitu sebesar Rp 2.200 hingga Rp 3.000 per kilogram," ucapnya.
Baca juga: Pererat Silaturrahmi, LDII Situbondo Kurban 35 Ekor Sapi dan 29 Ekor Kambing
Siswono mengatakan dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 40 Tahun 2023 tentang percepatan swasembada nasional, seharusnya petani tebu juga diberikan perhatian serius dalam penetapan harga panen.
"Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap nasib petani tebu, terutama dalam hal penetapan harga yang adil dan berkelanjutan," ucap pria yang menjadi anggota DPRD Jember ini.
Siswono meminta Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTR Pusat dan APTR Provinsi Jawa Timur juga mengawal seruan ini, agar petani tebu dalam negeri tidak dirugikan dalam situasi tersebut.
"Kami berharap dengan mengadukan masalah ini ke berbagai pihak, suara kami didengar dan ada tindakan nyata untuk memperbaiki situasi ini," ujarnya.
Mengingat penurunan harga tetes tebu ini, kata Siswono, akan menimbulkan dampak signifikan bagi petani, karena komoditas tersebut menjadi mata pencaharian mereka.
"Tetes tebu merupakan salah satu produk sampingan yang memiliki nilai ekonomis bagi petani, dan harga yang tidak stabil dapat mengancam keberlangsungan usaha mereka," tambahnya.
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur
Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur
(TribunJatimTimur.com)
| Verifikasi Faktual Kemiskinan Jember Libatkan 21 Ribu ASN, Ini Temuan di Lapangan |
|
|---|
| Pemkab Jember Mulai Desain Kawasan Street Food di Jalan Kartini |
|
|---|
| Fatmawati Resmi Jadi Wakil Ketua DPRD Jember, Perempuan Kedua dalam Sejarah Pimpinan Dewan |
|
|---|
| Dalam Tiga Bulan, 10 Ibu Meninggal Saat Melahirkan di Jember |
|
|---|
| Tradisi Kupatan Jember, 36 Pegon Diarak 6 Km ke Pantai Watu Ulo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/Siswono-dewan-jember.jpg)