Rabu, 29 April 2026

Idul Adha 2025

Tradisi Sate Lanjeng Ponpes Bani Rancang, Filosofi Belajar Sepanjang Hayat

Tradisi ini melibatkan ratusan santri putra dan putri yang bersama-sama membakar daging kurban di atas tungku panjang sepanjang 50 meter.

Tayang:
Penulis: Ahsan Faradisi | Editor: Haorrahman
TribunJatimTimur.com/Ahsan Faradisi
SATE PANJANG: Ratusan santri di Pondok Pesantren Bani Rancang, Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur saat menggelar tradisi Sate Lanjeng, Senin (9/6/2025). 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Probolinggo – Perayaan Idul Adha di Pondok Pesantren (Ponpes) Bani Rancang, Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, selalu diwarnai oleh tradisi unik yang terus dijaga lintas generasi: Sate Lanjeng.

Tradisi ini melibatkan ratusan santri putra dan putri yang bersama-sama membakar daging kurban di atas tungku panjang sepanjang 50 meter. Daging yang telah dibakar kemudian disantap bersama-sama dalam tradisi makan bersama yang disebut polokan, menggunakan alas daun pisang dan nasi putih.

Ketua Pengurus Ponpes Bani Rancang, Suhud Alfauzi, menjelaskan bahwa tradisi Sate Lanjeng telah berlangsung turun-temurun di lingkungan pesantren, khususnya saat momentum Idul Adha.

Baca juga: BPBD Bondowoso Hentikan Sementara Pencarian Lansia yang Hilang di Sungai Sampean Baru

"Tujuannya karena para santri tidak pulang ke rumah untuk merayakan Idul Adha bersama keluarga. Jadi, Sate Lanjeng ini menjadi cara kami menjaga semangat kebersamaan dan merayakan hari besar dengan cara khas pesantren," ungkap Suhud, Senin (9/6/2025).

Filosofi di Balik Sate Lanjeng
Penamaan Sate Lanjeng sendiri tak hanya merujuk pada panjangnya tungku pembakaran yang digunakan. Tradisi ini juga sarat dengan nilai filosofis.

"Filosofinya adalah Kulli Hayat, atau belajar sepanjang hayat. Ini sejalan dengan semangat pesantren dalam mendidik santri untuk terus menuntut ilmu tanpa henti," tambah Suhud.

Tahun ini, Ponpes Bani Rancang menerima hewan kurban berupa dua ekor sapi dan 90 ekor kambing dari para donatur. Setelah proses penyembelihan dan pembakaran, daging kemudian disajikan untuk dimakan bersama dalam suasana sederhana namun hangat.

Baca juga: Sempat Dikabarkan Menghilang Bahkan Diculik, Kusnadi Mengaku ke Madura Cari Obat Kanker Getah Bening

Menurut Suhud, tradisi polokan menjadi momen penting yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesederhanaan antar-santri.

“Yang paling penting itu kebersamaannya. Seenak apapun makanan, kalau tidak ada kebersamaan, rasanya akan kurang. Inilah yang kami tekankan setiap tahun melalui tradisi ini,” tuturnya.

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur

Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved