Minggu, 12 April 2026

Ramadan 2026

Napi Lapas Banyuwangi Tulis Al-Qur’an Raksasa Setinggi 1 Meter, Rampung dalam 10 Bulan

Napi Lapas Banyuwangi menulis Al-Qur’an raksasa setinggi 1 meter selama 10 bulan sebagai bagian pembinaan pesantren.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Aflahul Abidin
AL-QURAN BESAR - Narapidana Lapas Banyuwangi bertadarus menggunakan Al-Quran besar. Al-Quran berukuran panjang 1 meter itu disusun oleh tiga warga binaan lapas. 
Ringkasan Berita:
  • Tiga napi Lapas Banyuwangi menulis Al-Qur’an raksasa setinggi 1 meter.
  • Proses penulisan berlangsung sekitar 10 bulan sejak Ramadan tahun lalu.
  • Para penulis awalnya tidak memiliki kemampuan kaligrafi.
  • Naskah telah melalui proses tashih oleh pesantren sebelum digunakan.
  • Al-Qur’an raksasa kini dipakai untuk kegiatan tadarus Ramadan di lapas.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Tiga narapidana di Lapas Kelas IIA Banyuwangi berhasil menyelesaikan penulisan Al-Qur’an berukuran raksasa dengan tinggi mencapai satu meter. Karya tersebut kini digunakan sebagai sarana tadarus selama Ramadan di dalam lapas.

Al-Qur’an berukuran besar ini merupakan hasil program pembinaan berbasis pondok pesantren yang dijalankan pihak lapas. Proses penulisan berlangsung selama sekitar 10 bulan, dimulai sejak Ramadan tahun lalu hingga selesai pada Ramadan tahun ini.

Setiap hari, tiga warga binaan secara bergantian menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an di atas lembaran kertas berukuran besar. 

Ketiganya mengaku sebelumnya tidak memiliki kemampuan menulis Al-Qur’an maupun keahlian kaligrafi.

Baca juga: Jadwal Buka Puasa Banyuwangi Kamis 5 Maret 2026, Kapan Waktu Magrib dan Isya?

Kemampuan tersebut diperoleh melalui bimbingan dari pengrajin kaligrafi profesional yang bekerja sama dengan pihak lapas.

Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, mengatakan karya tersebut menjadi bukti keberhasilan program pembinaan berbasis pesantren di lapas.

“Al-Quran ini pembinaan berbasis pondok pesantren kami. Meskipun para penulisnya berangkat dari nol tanpa keahlian kaligrafi, berkat ketekunan dan bimbingan pengrajin yang kami hadirkan, mereka mampu melahirkan mahakarya yang luar biasa ini,” ujar Wayan, Kamis (5/3/2026).

Ia menjelaskan aspek ketepatan penulisan ayat menjadi perhatian utama. Sebelum digunakan, naskah Al-Qur’an tersebut telah melalui proses tashih atau pemeriksaan oleh lembaga pendidikan Al-Qur’an.

Baca juga: Kualitas Menu dan Sarana Tak Standar, BGN Tangguhkan 3 SPPG di Banyuwangi

Proses pemeriksaan dilakukan oleh Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Quran. Setelah proses koreksi selesai, naskah kembali diperbaiki pada beberapa bagian sebelum akhirnya dijilid ulang untuk memastikan kualitas fisik dan kerapian.

“Kami memastikan setiap huruf dan harakatnya benar. Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, dilakukan pembetulan pada bagian-bagian tertentu hingga akhirnya dijilid kembali untuk kedua kalinya guna memastikan kualitas fisik dan kerapiannya,” kata Wayan.

Pihak lapas berharap karya tersebut dapat memberikan manfaat serta menjadi motivasi bagi warga binaan lain untuk terus berkarya selama menjalani masa pembinaan.

Salah satu penulis Al-Qur’an raksasa tersebut, Chanafi, mengaku proses menulis selama hampir setahun memberikan pengalaman spiritual yang mendalam.

“Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Quran raksasa ini, apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali,” ujarnya.

Menurut Chanafi, kegiatan menulis ayat-ayat suci tersebut mengajarkannya tentang kesabaran dan membantu dirinya lebih memahami makna dari setiap ayat yang ditulis.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved