Rabu, 22 April 2026

LPG Nonsubsidi Naik Bisnis Laundry Tertekan, Lebih Parah dari Masa Covid-19

Usaha laundry di Banyuwangi terhimpit kenaikan harga bahan dan elpiji, tarif sulit naik karena daya beli pelanggan melemah.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Aflahul Abidin
LAUNDRY - Pegawai salah satu tempat laundry di Kabupaten Banyuwangi menyusun pakaian milik pelanggan di rak, Selasa (21/4/2026). Kenaikan beberapa bahan produksi membuat usaha laundry tertekan. 

Ringkasan Berita:
  • Usaha laundry di Banyuwangi terdampak kenaikan harga metanol, plastik, dan elpiji nonsubsidi
  • Tarif laundry sudah naik, namun pelaku usaha menahan kenaikan lanjutan
  • Elpiji menjadi komponen penting dengan konsumsi tinggi untuk operasional
  • Pelaku usaha melakukan efisiensi, termasuk mengurangi penggunaan plastik
  • Jumlah pelanggan menurun hingga 30 persen, membuat kondisi usaha semakin tertekan

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Usaha laundry di Kabupaten Banyuwangi menghadapi tekanan berlapis akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan operasional. Setelah sebelumnya terdampak lonjakan harga metanol untuk parfum dan plastik, kini pelaku usaha kembali dibebani naiknya harga LPG nonsubsidi. Situasi ini dirasa lebih parah daripada saat masa pandemi Covid-19.

Kondisi ini membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit. Di satu sisi biaya produksi meningkat, namun di sisi lain mereka tidak leluasa menaikkan tarif karena khawatir kehilangan pelanggan.

Wulan Vita, pemilik Qta Laundry, mengungkapkan dirinya sudah lebih dulu menaikkan tarif layanan dalam waktu kurang dari sebulan terakhir.

“Menaikkan harga sudah tidak bisa dihindarikan,” kata Wulan, Selasa (21/4/2026).

Baca juga: Pesona Senja Glenmore Banyuwangi, Ngopi di Kaki Gunung Raung Sambil Nikmati Sunset

Ia menjelaskan, tarif laundry reguler yang sebelumnya Rp 7.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 8.000 per kilogram. Namun setelah kenaikan tersebut, muncul tekanan baru dari naiknya harga LPG nonsubsidi.

Menurut Wulan, LPG menjadi kebutuhan utama dalam proses pengeringan dan penyetrikaan pakaian.

“LPG dipakai untuk pengeringan dan setrika. Kebutuhannya lumayan. Untuk LPG 12 kg itu habis untuk kebutuhan 2–3 hari, atau setara 200 kg cucian,” ujarnya.

Baca juga: KA Sangkuriang Segera Meluncur, Banyuwangi Kini Tersambung Langsung dengan Bandung

Meski beban operasional bertambah, pelaku usaha laundry memilih menahan diri untuk tidak kembali menaikkan harga dalam waktu dekat. Mereka mempertimbangkan kondisi ekonomi pelanggan yang dinilai semakin sensitif terhadap kenaikan tarif.

“Untuk saat ini belum ada rencana menaikkan harga lagi karena mempertimbangkan kondisi ekonomi konsumen. Jika harga dinaikkan terus dalam waktu berdekatan, dikhawatirkan pelanggan akan semakin terbebani,” tambahnya.

Pandemi Covid-19

Hal senada disampaikan Joko Supaat, pemilik Bening Laundry. Ia menilai kenaikan harga bahan baku terjadi cukup signifikan, terutama pada metanol yang digunakan sebagai campuran parfum pakaian.

“Biasanya 400 ribu per jeriken. Sekarang 800 ribu,” ujarnya.

Selain itu, harga plastik juga mengalami lonjakan hingga dua kali lipat. Kenaikan ini disebut berkaitan dengan eskalasi situasi di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok bahan baku.

Baca juga: Banyuwangi Ethno Carnival 2026, Pemkab Banyuwangi Gelar Proses Audisi

Untuk menyiasati kondisi tersebut, pelaku usaha mulai melakukan efisiensi. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik besar untuk pengemasan. Pelanggan kini diminta membawa kantong sendiri dari rumah, sementara pelaku usaha hanya menyediakan plastik pembungkus pakaian yang sudah disetrika.

Menurut Joko, kondisi ini membuat margin usaha semakin tertekan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved