Minggu, 17 Mei 2026

Berbeda dengan Daerah Lain, Tradisi Tiban Banyuwangi Digelar Awal Kemarau

Tradisi Tiban digelar di Banyuwangi saat awal kemarau sebagai upaya melestarikan budaya lokal agar dikenal generasi muda.

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Haorrahman
ist/Disbudpar Banyuwangi
TIBAN - Dua peserta tampil di atas panggung dalam penyelenggaraan tradisi kesenian tiban di di Pasar Wit-Witan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Pagelaran ini digelar untuk merawat tradisi. 

Ringkasan Berita:
  • Tradisi Tiban digelar di Pasar Wit-Witan, Desa Karetan, Banyuwangi pada 10–17 Mei 2026.
  • Tiban biasanya identik dengan ritual meminta hujan di wilayah Mataraman.
  • Di Banyuwangi, tradisi ini difokuskan untuk pelestarian budaya leluhur.
  • Pertunjukan memperlihatkan dua peserta saling mencambuk dengan aturan khusus dan menjunjung persaudaraan.
  • Pagelaran mendapat antusias tinggi dari masyarakat lintas usia dan wilayah.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Berbeda dengan daerah lainnya, di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Tradisi Tiban dengan ritual meminta hujan digelar saat awal musim kemarau, berlangsung di Pasar Wit-Witan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, 10–17 Mei 2026. 

Tiban merupakan tradisi yang lebih dikenal berkembang di wilayah Mataraman seperti Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar. Kesenian ini sejak lama dipercaya sebagai bagian dari ritual masyarakat untuk memohon turunnya hujan saat musim kering berkepanjangan.

Namun di Banyuwangi, tradisi tersebut lebih difokuskan sebagai upaya pelestarian budaya leluhur agar tetap dikenal masyarakat, terutama generasi muda.

Koordinator Pagelaran Tiban, Suharsoyo, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk menjaga eksistensi budaya tradisional di tengah perkembangan zaman modern.

“Kegiatan ini kami gelar dalam rangka melestarikan kesenian tradisional nenek moyang supaya tetap eksis dan dikenal luas,” kata Suharsoyo, Sabtu (16/5/2026).

Baca juga: Residivis 6 Kali Dipenjara Kembali Ditangkap, Curi Motor di SPBU Banyuwangi

Menurutnya, masyarakat Banyuwangi telah lama mengenal tradisi Tiban. Meski awalnya berkaitan dengan ritual meminta hujan, saat ini pertunjukan tersebut lebih dimaknai sebagai warisan budaya yang perlu terus dijaga.

Ia berharap anak-anak muda tetap mengenal dan mencintai budaya daerah sendiri meski hidup di era modern.

“Harapan ke depan, semoga generasi muda jangan sampai lupa. Kesenian ini harus tetap dilestarikan. Meskipun di era modern seperti sekarang, kita harus tetap memegang teguh budaya sendiri,” ujarnya.

Dalam pertunjukannya, Tiban mempertemukan dua peserta di sebuah arena untuk saling mencambuk menggunakan pecut. Para peserta tampil tanpa mengenakan baju, sementara penggunaan helm dianjurkan guna mengurangi risiko cedera pada bagian vital tubuh.

Meski terlihat keras, tradisi ini memiliki aturan khusus. Cambukan tidak boleh diarahkan ke bagian tubuh yang membahayakan. Sasaran utama para peserta adalah bagian badan lawan, dilakukan secara bergantian sesuai tata cara yang berlaku.

Baca juga: Program Banyuwangi Hijau Jangkau 23.410 Rumah Tangga, Kelola 14 Ribu Ton Sampah

Nilai persaudaraan juga menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut. Para peserta naik ke arena tanpa rasa dendam. Setelah pertarungan selesai, mereka meninggalkan arena dengan tenang meski tubuh dipenuhi bekas cambukan.

Salah satu peserta, Bagus Tirta Samudra (22), mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi Tiban. Warga Desa Grajagan itu merasakan pengalaman berbeda saat berada di atas arena pertunjukan.

Meski tubuhnya terasa perih akibat sabetan cambuk, ia mengaku puas karena bisa ikut melestarikan budaya lokal.

“Saya baru pertama kali ikut kesenian Tiban ini. Menurut saya sangat bagus diselenggarakan sebagai ajang nguri-uri budaya lokal agar tidak punah dimakan zaman,” ujar Bagus.

Pagelaran Tiban tahun ini juga menarik perhatian masyarakat dari berbagai kecamatan di Banyuwangi. Warga dari berbagai usia, mulai anak muda hingga orang tua, tampak antusias menyaksikan atraksi para peserta di atas panggung.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kesenian lokal masih memiliki tempat di tengah masyarakat dan tetap mampu menarik minat generasi muda.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved