Senin, 8 Juni 2026

Berita Banyuwangi

Imbas Rupiah Melemah, Biaya Perawatan Angkutan Kapal Turut Membengkak

Usaha angkutan penyebrangan terdampak pelemahan rupiah. Biaya perawatan kapal membengkak akibat kenaikan beberapa suku cadang.

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Luky Setiyawan
TribunJatimTimur.com/Aflahul Abidin
OLI KAPAL - Pekerja kapal mengecek drum berisi oli di dalam salah satu kapal milik perusahaan PT Sadina Mitra Bahari di Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi. Operator kapal mengeluhkan kenaikan kebutuhan perawatan dan suku cadang. 

Ringkasan Berita:
  • Usaha angkutan penyebrangan terdampak pelemahan rupiah.
  • Biaya perawatan kapal membengkak akibat kenaikan beberapa suku cadang.
  • Menurut Ketua Gapasdap Jawa Timur I Putu Gede Widiana, suku cadang yang terasa kenaikannya adalah oli.
  • Sempat berada di di kisaran Rp 4,5 juta per drum berkapasitas 209 liter, kini menjadi Rp 9,33 juta per drum.

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Usaha angkutan penyebrangan terdampak pelemahan rupiah. Biaya perawatan kapal membengkak akibat kenaikan beberapa suku cadang.

Per Minggu (7/6/2026), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 18.095. Pelemahan rupiah menambah beban kenaikan beberapa kebutuhan kapal setelah perang Timur Tengah.

Ketua Gapasdap Jawa Timur I Putu Gede Widiana mengatakan, ongkos untuk perawatan kapal meningkat cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

"Yang paling terasa, kenaikan harga oli yang lebih dari dua kali lipat," kata Putu, Minggu (7/6/2026).

Baca juga: International Lecture UI Cordoba Banyuwangi, Membahas Masa Depan AI Bersama Profesor AS dan Malaysia

Sebelum perang di Timur Tengah pecah, harga oli untuk kapal produk Pertamina berada di kisaran Rp 4,5 juta per drum berkapasitas 209 liter.

"Pada awal April, harganya naik menjadi Rp 6,950 juta per drum. Lalu pada 2 Juni lalu, naik lagi menjadi Rp 9,33 juta per drum," tambah Putu.

Satu unit kapal ferry, kata dia, membutuhkan oli sekitar 2-4 drum untuk sekali pergantian. Tergantung ukuran kapal. Rata-rata pergantian oli dilakukan antara 500 hingga 1.000 jam operasional.

Selain oli, beberapa sparepart kapal yang bersifat fast moving juga naik harga. Sparepart yang dimaksud, misalnya, filter oli dan nozzle injector.

"Produk yang bagus itu impor. Dan harganya mengikuti kurs dollar AS," lanjutnya.

Akibat kenaikan harga kebutuhan perawatan, pihak operator kapal harus berhemat. Pergantian-pergantian barang di kapal yang tak berpengaruh terhadap sektor keselamatan akhirnya harus ditunda.

"Yang bisa dilakukan, ya, efesiensi. Barang yang harusnya ganti tapi bisa dibersihkan, ya dibersihkan dulu. Pipa-pipa yang bisa dilas, ya dilas dulu. Tidak diganti dulu," tambahnya.

Ketua Gapasdap Banyuwangi Nurjatim menambahkan, harga-harga barang perawatan yang baik membuat ongkos yang harus dikeluarkan operator kapal bertambah. Meski demikian, belum ada perusahaan kapal di lintas Jawa-Bali yang berencana mengurangi tenaga kerja.

"Isu pengurangan tenaga kerja tidak ada. Tapi pengeluaran memang meningkat," kata Nurjatim.

Pihaknya berharap, pemerintah pusat bisa merealisasikan penyesuaian tarif penyebrangan agar operasional kapal bisa maksimal. 

"Kami berharap pemerintah bisa menaikkan tarif penyebrangan. Karena tarif penyebrangan memang sudah lama tidak naik. Terakhir naik seingat kami tahun 2019," kata dia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved