Senin, 13 April 2026

Ponpes Mahfilud Duror Bondowoso Rayakan Idulfitri Hari Ini

Ponpes Mahfilud Duror Bondowoso rayakan Idul Fitri lebih awal pakai metode khumasi, berbeda dari pemerintah.

Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Haorrahman
ist/Hilmi
SALAT ID- Tangkapan layar video sejumlah santri dan jamaah Pondok Pesantren Mahfilud Duror yang beralamat di Kecamatan Maesan, Bondowoso telah mengikuti sholat Idul Fitri 1447 Hijriah lebih awal, yakni pada Kamis, 19 Maret 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Ponpes Mahfilud Duror Bondowoso rayakan Idul Fitri pada 19 Maret 2026
  • Perayaan lebih awal dari pemerintah yang menunggu sidang isbat
  • Awal puasa juga dimulai dua hari lebih cepat
  • Penentuan menggunakan metode khumasi berbasis kitab klasik
  • Santri tetap ikut salat Id bersama masyarakat sekitar

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Sejumlah santri dan jamaah Pondok Pesantren Mahfilud Duror di Kecamatan Maesan, Bondowoso, merayakan Idulfitri 1447 Hijriah, Kamis (19/3/2026).

Perayaan tersebut berlangsung sebelum penetapan resmi pemerintah, karena Kementerian Agama RI baru akan menggelar sidang isbat pada sore harinya.

Tidak hanya Idulfitri, awal Ramadan di lingkungan pesantren ini juga dimulai lebih cepat. Pada tahun 2026, para santri telah memulai puasa sejak Selasa (17/2/2026), atau dua hari lebih awal dibandingkan jadwal pemerintah.

Baca juga: Gas Elpiji 3 Kg Langka di Bondowoso, Harga Tembus Rp 24 Ribu

Salah satu santri, Hilmi, menjelaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan tradisi yang telah berlangsung lama di pesantren.

“Pelaksanaan puasa dan Idul Fitri di sini memang biasanya lebih dulu satu atau dua hari dibanding pemerintah,” ujarnya.

Ia menambahkan, para santri merayakan Idul Fitri setelah menyelesaikan puasa selama 30 hari penuh.

“Kami hari ini sekeluarga sudah makan dan minum, karena puasa kami genap 30 hari,” jelasnya.

Baca juga: Pesanan Parsel Lebaran di Bondowoso Naik 100 Persen Jelang Lebaran

Metode Khumasi

Penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri di Ponpes Mahfilud Duror mengacu pada kitab Nushatul Majaalis karya Syekh Abdurrahman As Shufuri As Syafi’i. Kitab tersebut telah digunakan sebagai pedoman selama hampir dua abad.

Metode yang digunakan dikenal sebagai sistem khumasi, yaitu perhitungan berbasis siklus lima hari.

Dalam praktiknya, awal Ramadan tahun berjalan dihitung dengan menambahkan lima hari dari awal puasa tahun sebelumnya. Metode ini memungkinkan penentuan kalender ibadah dilakukan jauh hari, bahkan untuk tahun-tahun berikutnya.

Sebagai ilustrasi, jika awal puasa tahun ini jatuh pada hari Selasa, maka lima hari berikutnya akan jatuh pada hari Minggu. Pola ini kemudian digunakan untuk memperkirakan awal Ramadan di tahun selanjutnya.

Baca juga: Polres Bondowoso Sediakan Pospam untuk Pemudik, Lengkap dengan Layanan Kesehatan 24 Jam

Salat Id Bersama Warga

Meski telah merayakan Idul Fitri lebih awal, Hilmi menyebut pihaknya tetap menjaga hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.

Ia mengaku tetap akan mengikuti salat Id bersama warga yang mayoritas mengikuti keputusan pemerintah.

Selain itu, alumni Mahfilud Duror yang ingin merayakan Lebaran lebih awal biasanya datang langsung ke pesantren yang berada di wilayah Suger Kidul.

“Di sana, mereka bisa mengikuti salat Id sesuai ketetapan pondok,” pungkasnya.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved