Minggu, 17 Mei 2026

Berita Bondowoso

Program Jembatan Garuda Perintis, Penghubung Desa di Bondowoso yang Ada Sejak 1880-an Kini Direnov

Jembatan penghubung di Bondowoso yang ada sejak 1880-an kini tengah diperbaiki oleh TNI dalam program Jembatan Garuda Perintis. 

Tayang:
Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Luky Setiyawan
Tribun Jatim Timur/Sinca Ari Pangistu
JEMBATAN - Seorang petani melintas di tengah proyek perbaikan jembatan penghubung Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan, dan Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso yang dikerjakan oleh TNI dan warga dalam program Jembatan Garuda Perintis, Minggu (17/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Jembatan penghubung Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan, dan Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso kini tengah diperbaiki. 
  • Sudah sebulan terakhir, perbaikan dilakukan oleh TNI dan pekerja dalam program Jembatan Garuda Perintis.
  • Jembatan ini diketahui sudah ada sejak 1880-an.

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Jembatan penghubung Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan, dan Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso kini tengah diperbaiki. 

Sudah sebulan terakhir, perbaikan dilakukan oleh TNI dan pekerja. Jika musim libur, warga sekitar turut membantu. Jembatan kayu ini diperbaiki oleh Presiden Prabowo Subianto melalui TNI Kodim 0822 dalam program Jembatan Garuda Perintis

Jembatan ini dikenal dengan sebutan Jembatan Tètèh yang dalam bahasa Madura memiliki arti 'meniti'. Sejak zaman dulu, warga memanfaatkan jembatan ini sebagai akses perlintasan untuk efisiensi waktu menuju kawasan kota Bondowoso.  

Jembatan tersebut tidak hanya menjadi penunjang sektor perdagangan dan pertanian, tetapi juga dimanfaatkan oleh anak-anak untuk pergi sekolah dan mengaji. 

Menurut Sadrumo (61), warga Desa Sukowiryo, jembatan ini telah ada sejak tahun 1880-an.

Dulunya, posisi jembatan berada di sisi utara dari lokasi saat ini.  

Namun, beberapa kali jembatan bambu swadaya masyarakat itu dipindah karena terbawa arus deras aliran sungai, hingga akhirnya presisi di lokasi sekarang. 

"Kalau tidak keliru, tahun 1880-an ke atas," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (17/5/2026). 

Dia ingat betul jembatan ini beberapa kali memakan korban. Pengendara kerap terjatuh, terutama saat musim hujan. Maklum saja, jembatan tersebut terbuat dari kayu dan sisi kanan-kirinya hanya diberi pegangan dari bambu. 

Pernah sekitar empat tahun lalu, Sadrumo menemukan jenazah seorang pengendara mengapung di aliran sungai.

Korban yang merupakan seorang pria penjual pisang itu diperkirakan jatuh ke sungai pada malam hari karena kondisi jembatan yang licin. 

"Saat mengambil pisang, saya tidak tahu kalau ada sepedanya. Kaget saya, langsung saya lepas. Pas saya lihat ke hilir, ternyata ada orangnya meninggal tersangkut," kenang suami dari Marwati (51) ini. 

Meski pernah memakan korban, jembatan itu tetap digunakan oleh warga. Mereka biasanya terus berswadaya membeli kayu dan bahan bangunan agar jembatan tetap aman dilalui. 

Bahkan, pohon kayu jenis nyamplong milik Sadrumo pun diberikan secara sukarela untuk perbaikan jembatan tersebut. Pemerintah desa setempat juga sempat memperbaikinya, namun karena usianya yang sudah tua, jembatan ini memerlukan perbaikan total. 

Karena itulah, kini warga menyambut bahagia perbaikan jembatan kayu ini menjadi jembatan gantung permanen. Apalagi, berdasarkan informasi yang didapat Sadrumo, jembatan tersebut akan dibuat lebih lebar sehingga nantinya kendaraan roda dua bisa melintas secara berpapasan. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved