Berita Jember
Harga Kedelai Tembus Rp9.500, Produsen Tempe di Jember Kurangi Produksi
Harga kedelai melonjak hingga Rp 9.500 per kg, produsen tempe di Jember terpaksa mengurangi produksi dan tenaga kerja.
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
Ringkasan Berita:
- Harga kedelai naik hingga Rp9.500 per kilogram di awal 2026.
- Produsen tempe di Jember mengurangi produksi akibat mahalnya bahan baku.
- Produksi turun dari 1,8 kuintal menjadi sekitar 1 kuintal per hari.
- Tenaga kerja dikurangi untuk menekan biaya operasional.
- Harga jual tempe tetap Rp5.000, namun ukuran diperkecil.
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Kenaikan harga kedelai di awal tahun 2026 mulai berdampak pada pelaku usaha tempe di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Salah satunya dirasakan Mariyono (50), pemilik rumah produksi tempe di Kelurahan Tegalbesar, yang terpaksa mengurangi jumlah produksinya.
Mariyono mengatakan, harga kedelai sebagai bahan baku utama tempe terus mengalami kenaikan sejak akhir 2025. Saat ini, harga kedelai di pasaran telah mencapai Rp9.500 per kilogram.
“Lonjakan harga kedelai sudah terjadi sejak akhir 2025, hingga kini terus merangkak naik,” ujar Mariyono, Sabtu (24/1/2026).
Menurutnya, harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun 2026 yang masih berada di kisaran Rp8.500 hingga Rp8.900 per kilogram. Kondisi ini membuat biaya produksi melonjak dan tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.
Baca juga: Digugat Wabup Jember Rp 25 Miliar, Fawait:Tak Nonton Drakor Atau Dracin
Akibatnya, Mariyono terpaksa mengurangi penggunaan bahan baku. Jika sebelumnya mampu memproduksi sekitar 1,8 kuintal tempe per hari, kini produksinya turun drastis.
“Kalau sebelumnya sekitar 1,8 kuintal per hari, sekarang turun menjadi sekitar 1 kuintal,” jelasnya.
Tak hanya mengurangi produksi, Mariyono juga memangkas jumlah tenaga kerja demi menekan biaya operasional di tengah mahalnya harga kedelai.
“Penghasilan jelas berkurang karena modal bertambah. Jadi sekarang saya kerjakan sendiri,” tambahnya.
Baca juga: Rayakan HUT Megawati ke-79, PDIP Jember Tanam 150 Pohon di Bantaran Sungai Bedadung
Meski biaya produksi meningkat, Mariyono memilih tidak menaikkan harga jual tempe. Ia khawatir, kenaikan harga akan memicu protes dari konsumen dan berdampak pada penurunan penjualan.
“Harga tempe masih bertahan di Rp5.000, sama seperti saat masa pandemi,” imbuhnya.
Sebagai langkah bertahan, Mariyono mengaku mengurangi takaran kedelai dalam setiap cetakan tempe. Akibatnya, ukuran tempe menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
“Saya kurangi sekitar satu ons per kilogram. Cara ini supaya harga tetap terjangkau bagi konsumen,” paparnya.
Mariyono mengungkapkan, harga kedelai sempat relatif stabil sebelum pandemi Covid-19, yakni di kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Namun setelah pandemi, harga terus merangkak naik hingga saat ini.
“Dua hari lalu harganya masih sekitar Rp8.900 sampai Rp9.000, sekarang sudah Rp9.500 per kilogram,” tuturnya.
| Nanik S Deyang Dilantik Sebagai Kepala BGN, Bupati Jember Gus Fawait Ucapkan Selamat |
|
|---|
| Kembali Terjadi Temuan Kerangka Manusia di Jember, Rupanya Warga Mayang yang Hilang 1,5 Bulan |
|
|---|
| Demi Beli Ponsel dan Jajan, Dua Bocah di Jember Curi Brankas Tante, Belasan Juta Raib |
|
|---|
| Imbas Dana Bantuan Pemerintah Belum Cair, Sejumlah SPPG di Jember Berhenti Operasi Sementara |
|
|---|
| Bareskrim Polri Kabarnya Tangani Kasus Dugaan Penimbunan BBM Ilegal di Jember, Polda Jatim Menjawab |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/KEDELAI-MAHAL-Mariyono-membuat-tempe.jpg)