Sabtu, 13 Juni 2026

Berita Jember

Harga Kedelai Tembus Rp9.500, Produsen Tempe di Jember Kurangi Produksi

Harga kedelai melonjak hingga Rp 9.500 per kg, produsen tempe di Jember terpaksa mengurangi produksi dan tenaga kerja.

Tayang:
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Imam Nawawi
KEDELAI MAHAL: Mariyono, membuat tempe di rumah produksinya di Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates Jember, Jawa Timur, Jumat (23/1/2026). Dia mengurangi produksi tempe di Jember akibat lonjakan harga kedelai. 

Ringkasan Berita:
  • Harga kedelai naik hingga Rp9.500 per kilogram di awal 2026.
  • Produsen tempe di Jember mengurangi produksi akibat mahalnya bahan baku.
  • Produksi turun dari 1,8 kuintal menjadi sekitar 1 kuintal per hari.
  • Tenaga kerja dikurangi untuk menekan biaya operasional.
  • Harga jual tempe tetap Rp5.000, namun ukuran diperkecil.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Kenaikan harga kedelai di awal tahun 2026 mulai berdampak pada pelaku usaha tempe di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Salah satunya dirasakan Mariyono (50), pemilik rumah produksi tempe di Kelurahan Tegalbesar, yang terpaksa mengurangi jumlah produksinya.

Mariyono mengatakan, harga kedelai sebagai bahan baku utama tempe terus mengalami kenaikan sejak akhir 2025. Saat ini, harga kedelai di pasaran telah mencapai Rp9.500 per kilogram.

“Lonjakan harga kedelai sudah terjadi sejak akhir 2025, hingga kini terus merangkak naik,” ujar Mariyono, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun 2026 yang masih berada di kisaran Rp8.500 hingga Rp8.900 per kilogram. Kondisi ini membuat biaya produksi melonjak dan tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

Baca juga: Digugat Wabup Jember Rp 25 Miliar, Fawait:Tak Nonton Drakor Atau Dracin

Akibatnya, Mariyono terpaksa mengurangi penggunaan bahan baku. Jika sebelumnya mampu memproduksi sekitar 1,8 kuintal tempe per hari, kini produksinya turun drastis.

“Kalau sebelumnya sekitar 1,8 kuintal per hari, sekarang turun menjadi sekitar 1 kuintal,” jelasnya.

Tak hanya mengurangi produksi, Mariyono juga memangkas jumlah tenaga kerja demi menekan biaya operasional di tengah mahalnya harga kedelai.

“Penghasilan jelas berkurang karena modal bertambah. Jadi sekarang saya kerjakan sendiri,” tambahnya.

Baca juga: Rayakan HUT Megawati ke-79, PDIP Jember Tanam 150 Pohon di Bantaran Sungai Bedadung

Meski biaya produksi meningkat, Mariyono memilih tidak menaikkan harga jual tempe. Ia khawatir, kenaikan harga akan memicu protes dari konsumen dan berdampak pada penurunan penjualan.

“Harga tempe masih bertahan di Rp5.000, sama seperti saat masa pandemi,” imbuhnya.

Sebagai langkah bertahan, Mariyono mengaku mengurangi takaran kedelai dalam setiap cetakan tempe. Akibatnya, ukuran tempe menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

“Saya kurangi sekitar satu ons per kilogram. Cara ini supaya harga tetap terjangkau bagi konsumen,” paparnya.

Mariyono mengungkapkan, harga kedelai sempat relatif stabil sebelum pandemi Covid-19, yakni di kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Namun setelah pandemi, harga terus merangkak naik hingga saat ini.

“Dua hari lalu harganya masih sekitar Rp8.900 sampai Rp9.000, sekarang sudah Rp9.500 per kilogram,” tuturnya.

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved