Harga Cabai Tembus Rp 45.000, Petani Jember Pilih Panen Lebih Awal
Harga cabai merah di Jember naik hingga Rp 45 ribu per kilogram. Petani di Wuluhan memilih panen lebih awal untuk raih keuntungan.
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
Ringkasan Berita:
- Harga cabai merah di Jember tembus Rp45 ribu per kilogram
- Petani di Wuluhan memilih panen cabai lebih awal
- Usia tanaman baru dua bulan, seharusnya belum ideal dipanen
- Cuaca ekstrem dan hujan lebat sebabkan produksi cabai terbatas
- Banyak petani beralih ke padi karena lebih tahan musim hujan
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Harga cabai merah di pasaran yang cukup tinggi, membuat petani di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, memilih melakukan panen lebih awal. Pada Jumat (30/1/2026), harga cabai merah di tingkat petani dilaporkan menembus Rp 45.000 per kilogram.
Kondisi tersebut dimanfaatkan petani untuk meraih keuntungan lebih cepat, meski usia tanaman sebenarnya belum ideal untuk dipanen.
Salah satunya dilakukan Puji Rahayu Ningsih, petani cabai di wilayah Jember Selatan. Bersama seorang pekerja, ia mulai memetik cabai pertama atau dikenal dengan istilah nyangkla’i di lahan pertaniannya.
Mereka memilah dan memetik buah cabai yang baru memerah, meski sebagian masih tertutup rimbunnya daun tanaman cabai.
“Ini petik cabai lebih awal, mumpung harganya mahal, jadi cepat-cepat dipetik,” ujar Puji.
Baca juga: Terendam Banjir, SPPG di Sumbersari Jember Berhenti Beroperasi
Tiga Kali Lipat
Puji menyebut, harga cabai merah pada awal Januari 2026 melonjak signifikan. Dari sebelumnya hanya sekitar Rp 15 ribu per kilogram, kini melonjak hingga Rp 45 ribu per kilogram di tingkat petani.
“Sekarang Rp 45 ribu, sebelumnya harganya Rp15 ribu. Alhamdulillah sudah untung bagi petani,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui usia tanaman cabai miliknya baru sekitar dua bulan, sehingga sebetulnya masih terlalu dini untuk dilakukan panen.
“Nanamnya agak sulit sekarang. Saat hujan lebat, bunganya banyak yang rontok, jadi kualitas buahnya juga tidak bagus,” imbuhnya.
Baca juga: Rawan Banjir, DPRD Temukan 54 Perumahan Jember Dekat Sempadan Sungai
Cuaca Ekstrem
Hadi Suroso, anggota Kelompok Tani Manju Tresno Dua Desa Tanjungrejo, menjelaskan cabai saat ini menjadi komoditas minoritas di wilayah tersebut. Luas tanam cabai hanya sekitar tiga hektare, sehingga pasokannya terbatas.
“Harganya mahal karena tanam cabai sekarang sulit. Cuaca kurang bagus akibat hujan lebat,” ungkap Hadi.
Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem membuat mayoritas petani memilih menanam padi yang dinilai lebih tahan terhadap penyakit di musim hujan.
“Kalau tanam cabai, biayanya lebih besar. Obat dan pupuk yang dikeluarkan juga lebih banyak,” tambahnya.
| Kondisi Pasar Tradisional di Jember Memprihatinkan, Tapi Ditarget PAD Optimal |
|
|---|
| Polres Jember Bongkar Penimbunan Pertalite di Silo, Pelaku Modifikasi Mobil Carry |
|
|---|
| Pemkab Jember Mulai Berlakukan WFH, Tak Berlaku untuk ASN Eselon 2 |
|
|---|
| Pemkab Jember Mulai Desain Kawasan Street Food di Jalan Kartini |
|
|---|
| Fatmawati Resmi Jadi Wakil Ketua DPRD Jember, Perempuan Kedua dalam Sejarah Pimpinan Dewan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/PANEN-AWAL-Petani-mulia-petik-cabai-sreet-merah-di-Desa-Tanjungrejo.jpg)