Senin, 4 Mei 2026

Berita Jember

Wamendagri Bima Arya Dorong Desa Jember Kurangi Ketergantungan Dana Pusat

Wamendagri Bima Arya minta desa di Jember perkuat tata kelola dan sumber pendapatan lain di tengah pengurangan dana desa.

Tayang:
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Imam Nawawi
PENGAWASAN DANA DESA: Bima Arya Sugiarto, Wakil Menteri Dalam Negeri saat di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Jawa Timur, Kamis (12/2/2026). Dia paparkan hasil pengawasan dana desa di Jember. 

Ringkasan Berita:
  • Wamendagri Bima Arya kunjungi Jember dan soroti ketergantungan desa pada dana pusat.
  • Pengurangan dana desa dinilai tak menghambat pembangunan karena ada program pusat lain.
  • Desa didorong optimalkan potensi lokal dan tata kelola keuangan.
  • Pemkab Jember optimistis Program Makan Bergizi Gratis menggerakkan ekonomi desa.
  • Sebanyak 48 desa belum cairkan DD tahap II 2025 akibat aturan koperasi desa.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (12/2/2026). Dalam agenda yang berlangsung di Pendapa Wahyawibawagraha, Bima Arya memaparkan kebijakan pengawasan pemerintah desa, khususnya terkait pengelolaan dan serapan dana desa.

Di hadapan para kepala desa, Bima Arya mengungkapkan bahwa serapan dana desa di Jember secara umum tergolong baik. Namun, ia menyoroti masih tingginya ketergantungan desa terhadap anggaran transfer dari pemerintah pusat.

“Saya lihat data di Jember ini bagus, serapannya juga baik. Tapi yang menonjol, persentasenya masih sangat bergantung pada pusat,” ujarnya.

Baca juga: 8.377 PPPK Paruh Waktu Jember Digaji di Bawah UMK, Hanya Rp 1 hingga Rp 1,6 Juta dan Banyak Potongan

Dana Desa Dipangkas

Bima Arya menjelaskan, pemangkasan dana desa tidak serta-merta menghambat pembangunan desa. Pasalnya, pemerintah pusat menyiapkan berbagai program alternatif yang juga berdampak langsung ke masyarakat desa.

“Banyak program pemerintah pusat yang manfaatnya besar untuk desa. Misalnya kampung nelayan dan koperasi Desa Merah Putih. Jadi ada banyak insentif lain selain dana desa,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Bima mendorong kepala desa agar mengoptimalkan tata kelola pemerintahan desa dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki.

“Aparatur desa harus bisa mengoptimalkan semua potensi yang ada di desa. Dana desa itu hanya salah satu sumber pendapatan,” tegasnya.

Ia menambahkan, pendapatan desa juga dapat bersumber dari pajak, serta bantuan keuangan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Karena itu, penguatan kapasitas aparatur desa dalam pengelolaan keuangan menjadi hal yang krusial.

“Perlu terus diperkuat kemampuan aparatur desa, khususnya dalam tata kelola keuangan,” ucap Bima.

Baca juga: Bayi Perempuan Ditinggalkan di Teras Rumah Warga Kaliwates Jember

Makan Bergizi Gratis

Menanggapi hal tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait menyampaikan meskipun terjadi pengurangan dana desa, pemerintah pusat telah menggulirkan program lain yang berpotensi besar menggerakkan ekonomi daerah, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kalau nanti sampai 300 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berjalan, kurang lebih ada Rp 4 triliun uang yang masuk ke Kabupaten Jember. Tinggal bagaimana kami memaksimalkannya,” ujar Fawait.

Ia menilai, dampak ekonomi akan semakin besar jika SPPG diwajibkan menggunakan bahan baku lokal dari Jember.

“Kami akan membuat surat edaran agar SPPG menggunakan produk lokal Jember, baik dari petani, nelayan, maupun pelaku UMKM,” paparnya.

Dana Desa 2025 Belum Cair

Dalam kesempatan tersebut, juga terungkap bahwa 48 desa di Kabupaten Jember belum dapat mencairkan dana desa tahap II tahun anggaran 2025. Total anggaran yang belum bisa dicairkan mencapai Rp13,078 miliar.

Baca juga: Bayi Perempuan Ditinggalkan di Teras Rumah Warga Kaliwates Jember

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved