Rabu, 13 Mei 2026

PDIP Usulkan Program Bunga Desaku Jember Ditiadakan Demi Efisiensi Anggaran

PDIP Jember mengusulkan program Bunga Desaku agar ditiadakan sementara karena efisiensi anggaran.

Tayang:
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
ist/Humas DPRD Jember
EFISIENSI ANGGARAN: Widarto Ketua DPC PDIP Jember, Jawa Timur, Rabu (25/3/2026). Dia minta kegiatan Bunga Desaku Ditiadakan di Jember untuk efisiensi anggaran. 

Ringkasan Berita:
  • PDIP Jember mengusulkan program Bunga Desaku untuk sementara ditiadakan.
  • Ini langkah efisiensi anggaran menghadapi ancaman krisis ekonomi global.
  • Ketua DPC PDIP Jember Widarto menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus 90 dolar per barel.
  • Ia khawatir kenaikan harga BBM akan memicu lonjakan harga barang dan menekan daya beli masyarakat.
  • Widarto menilai penyerapan aspirasi masyarakat bisa dilakukan lebih efektif melalui platform digital seperti Wadul Gus’e.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengusulkan program Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan (Bunga Desaku) untuk sementara ditiadakan, karena efisiensi anggaran di tengah potensi krisis ekonomi global akibat kenaikan harga minyak dunia serta konflik militer di kawasan Timur Tengah.

Ketua DPC PDIP Jember, Widarto, mengatakan pemerintah daerah perlu mulai mengantisipasi dampak ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat.

“Bunga Desaku itu salah satu instrumen. Poin pokoknya adalah menghadapi ancaman krisis pasca kenaikan harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika,” ujar Widarto, Rabu (25/3/2026).

Baca juga: Suwar Suwir Jadi Oleh-oleh Favorit Lebaran di Jember, Omzet Penjual Rp 6 Juta Sehari

Harga Minyak Dunia

Widarto menjelaskan harga minyak dunia saat ini telah melampaui 90 dolar Amerika per barel, sementara asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada di angka 70 dolar per barel.

Menurutnya kondisi tersebut berpotensi membuat subsidi bahan bakar minyak (BBM) membengkak.

“Harga minyak dunia per hari ini sudah lebih dari 90 dolar per barel. Asumsi di APBN kita masih tertulis 70 dolar per barel,” jelasnya.

Ia menilai jika pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM bersubsidi untuk menyesuaikan kondisi tersebut, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan.

“Tambah berat lagi hidup masyarakat, karena harga barang-barang akan ikut naik. Kalau daya beli tidak naik, masyarakat akan kesulitan,” katanya.

Baca juga: Wisata Papuma dan Watu Ulo Jember Dipadati Wisatawan Selama Libur Lebaran

Fokus Program Ekonomi

Widarto menilai Pemkab Jember sebaiknya memprioritaskan program-program yang mampu meningkatkan daya beli masyarakat dibanding kegiatan yang bersifat seremonial.

“Ketimbang kegiatan yang seremonial dan menelan biaya besar. Apakah kami tidak setuju dengan kegiatan Bunga Desaku? Setuju saja, tapi dalam situasi normal silakan,” ucapnya.

Selain itu, pria yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Jember tersebut menilai kegiatan Bunga Desaku kurang efektif dalam menyerap aspirasi masyarakat.

Menurutnya, penyampaian aspirasi masyarakat justru bisa dilakukan secara lebih efisien melalui platform digital milik pemerintah daerah.

“Ada saluran Wadul Gus’e, live TikTok dan IG Wadul Gus’e jauh lebih efektif ketimbang harus mengumpulkan banyak orang dengan anggaran besar,” tuturnya.

Selain itu, Widarto menambahkan jika tujuan Bunga Desaku untuk memetakan potensi desa, hal itu sebenarnya dapat dilakukan oleh perangkat pemerintah yang sudah ada.

Menurutnya, tugas tersebut dapat dijalankan oleh organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah desa, maupun kecamatan.

“Kami tidak anti Bunga Desaku, tapi di tengah situasi yang tidak mudah ini, kenapa kalau dikurangi, ditunda atau ditiadakan sementara. Tidak ada masalah,” tambahnya.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved