Kamis, 21 Mei 2026

Unej Tak Bisa Dirikan SPPG untuk MBG Tahun Ini, Terkendala Anggaran

Unej masih mengkaji pendirian SPPG untuk program makan bergizi gratis karena belum ada surat resmi dan terkendala anggaran.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Sri Wahyunik
MBG KAMPUS-Wakil Rektor IV Universitas Jember Bambang Kuswandi. Dia menjelaskan perihal wacana pendirian SPPG di kampus. 
Ringkasan Berita:
  • Unej belum menerima surat resmi terkait kewajiban mendirikan SPPG hingga Mei 2026.
  • Kampus Tegalboto menyatakan terbuka mendukung program makan bergizi gratis nasional.
  • Kajian pendirian SPPG mencakup aspek keamanan pangan, rantai pasok, dan analisis ekonomi.
  • Unej memiliki dukungan akademik dari Prodi Gizi dan Teknologi Hasil Pangan.
  • Realisasi pembangunan SPPG diperkirakan baru dapat dilakukan tahun depan karena keterbatasan anggaran.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Universitas Jember (Unej) masih mengkaji rencana pendirian Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebagai bagian dari dukungan terhadap program makan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah.

Hingga Mei 2026, kampus yang dikenal sebagai Kampus Tegalboto itu mengaku belum menerima surat resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) terkait kewajiban pendirian SPPG di lingkungan perguruan tinggi.

Wakil Rektor IV Universitas Jember, Bambang Kuswandi, mengatakan bahwa arahan dari BGN sejauh ini masih berupa imbauan.

“Kalau tentang keharusan sampai saat ini belum ada surat resmi. Pernyataan dari BGN itu masih imbauan. Pada prinsipnya Unej sangat terbuka, dan tentu saja bisa berperan dalam menyukseskan program nasional, termasuk makan bergizi gratis di dalamnya,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: DPRD Jember Bahas 23 Raperda 2026, RTRW hingga Ketahanan Keluarga Masuk Prioritas

Menurut Bambang, Unej perlu melakukan kajian menyeluruh sebelum memutuskan mendirikan SPPG. Kajian tersebut mencakup sistem keamanan pangan berbasis Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), kesiapan rantai pasok, hingga analisis ekonomi terkait biaya operasional dan keberlanjutan program.

Ia mengatakan aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama agar tidak terjadi kasus keracunan makanan maupun penurunan kualitas makanan saat diterima penerima manfaat.

“Kalau memang nanti mendirikan SPPG, tentu saja harus zero accident, termasuk rantai pasok harus aman,” tegasnya.

Dari sisi sumber daya, Unej dinilai memiliki dukungan akademik yang memadai untuk menunjang program tersebut. Kampus ini memiliki Program Studi Gizi di Fakultas Kesehatan Masyarakat serta Program Studi Teknologi Hasil Pangan di Fakultas Teknologi Pertanian.

Baca juga: Anggota DPRD Jember yang Viral Merokok dan Main Game, Ternyata Lupa Kasih Makan Sapi di Hay Day

Selain itu, Unej juga memiliki praktik Zona Kuliner Halal di Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang dinilai dapat mendukung standar keamanan dan kehalalan pangan dalam operasional SPPG.

Meski demikian, rencana pembangunan SPPG dipastikan belum dapat direalisasikan pada tahun 2026. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan anggaran di tengah kebijakan efisiensi yang juga dihadapi perguruan tinggi.

Bambang menyebut kebutuhan anggaran pembangunan satu unit SPPG diperkirakan mencapai Rp1 miliar hingga Rp 2 miliar.

“Kalau kajian bisa dilakukan tahun ini, namun untuk realisasi jika harus mendirikan maka baru bisa dilakukan tahun depan,” tambahnya.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved