Tradisi Manten Sapi Pasuruan, Simbol Syukur dan Potensi Wisata
Tradisi Manten Sapi di Pasuruan jadi simbol syukur warga sekaligus berpotensi menjadi wisata budaya unggulan.
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Haorrahman
Ringkasan Berita:
- Tradisi Manten Sapi di Desa Watestani, Pasuruan, rutin digelar setiap Iduladha.
- Sepasang sapi dihias seperti pengantin Jawa dan diarak keliling desa.
- Tradisi menjadi simbol syukur, kemakmuran, dan kebersamaan warga.
- Pemerintah mendorong pelibatan generasi muda untuk menjaga kelestarian budaya.
- Manten Sapi dinilai berpotensi menjadi wisata budaya yang menggerakkan ekonomi lokal.
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - Tradisi Manten Sapi yang rutin digelar masyarakat Desa Watestani, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, terus dipertahankan sebagai warisan budaya lokal yang sarat makna syukur, gotong royong, dan harapan kemakmuran.
Tradisi yang dilaksanakan setiap Hari Raya Iduladha itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat petani dan peternak setempat. Dalam prosesi tersebut, sepasang sapi dihias menyerupai pengantin Jawa menggunakan kain batik, rangkaian bunga, hingga riasan wajah sebelum diarak keliling desa.
Arak-arakan budaya itu biasanya diiringi musik tradisional dan kesenian rakyat yang melibatkan banyak warga desa.
Baca juga: DPRD Kabupaten Pasuruan Jadikan Kurban Idul Adha Momentum Memperkuat Kepedulian Sosial
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Nurul Puspitaningrum, mengatakan tradisi Manten Sapi bukan sekadar hiburan masyarakat, tetapi memiliki nilai filosofis yang kuat.
“Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen, kesehatan ternak, dan rezeki yang diberikan Tuhan. Selain itu juga menjadi simbol harapan kesuburan, kemakmuran, dan keberkahan bagi masyarakat petani,” ujar Nurul, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi ruang sosial yang mempererat kebersamaan warga. Masyarakat terlibat sejak tahap persiapan, menghias sapi, hingga pelaksanaan arak-arakan budaya.
Baca juga: Truk Tangki Tabrak 4 Kendaraan di Pasuruan, 5 Orang Alami Luka
Nurul menegaskan pelestarian tradisi Manten Sapi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tidak tergerus perkembangan zaman. Salah satu upaya yang dinilai penting adalah dokumentasi budaya dan keterlibatan generasi muda dalam setiap rangkaian kegiatan.
“Anak-anak muda harus dikenalkan sejak dini agar mereka memahami nilai budaya lokal dan ikut menjaga keberlangsungannya,” katanya.
Selain memiliki nilai budaya, tradisi Manten Sapi juga dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Pasuruan. Tradisi tersebut dinilai dapat menarik wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bromo maupun wilayah pesisir timur Pasuruan.
Baca juga: Pasuruan United Siap 100 Persen Hadapi Putaran Nasional Liga 4 Piala Presiden
Pemerintah daerah menilai kegiatan itu bisa dikembangkan menjadi agenda budaya tahunan yang berdampak pada pergerakan ekonomi masyarakat, mulai dari UMKM, pelaku seni, hingga perajin hiasan tradisional.
“Kalau dikemas dengan baik, tradisi ini bisa menjadi atraksi budaya khas Pasuruan yang memiliki nilai wisata sekaligus berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Meski demikian, pelestarian tradisi juga diingatkan agar tetap memperhatikan kesejahteraan hewan. Pemerintah meminta penggunaan aksesoris dan rangkaian prosesi tidak menimbulkan penderitaan bagi sapi yang diarak.
“Esensinya bukan menyamakan sapi dengan manusia, tetapi sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan ternak yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/DILESTARIKAN-Tradisi-manten-sapi.jpg)