Selasa, 9 Juni 2026

Senewi dan Harapan Ribuan Warga di Tengah Ketidakpastian Sengketa Lahan

Warga Alas Tlogo meminta kepastian hukum dalam sengketa lahan dengan TNI AL yang telah berlangsung lebih dari 65 tahun.

Tayang:
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Haorrahman
ist/Tangkap Layar TV Parlemen
BERSUARA - Senewi, warga Sumberanyar, Nguling. Saat pembahasan sengketa lahan antara masyarakat Alas Tlogo dan TNI Angkatan Laut bergulir dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi II DPR RI. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Alas Tlogo menyampaikan langsung dampak sengketa lahan dalam RDPU Komisi II DPR RI.
  • Sengketa antara masyarakat dan TNI AL disebut telah berlangsung lebih dari 65 tahun.
  • Warga mengaku menghadapi keterbatasan pembangunan akibat ketidakpastian status lahan.
  • Tiga desa yang berbatasan langsung dengan area sengketa disebut mengalami tekanan psikologis saat latihan militer berlangsung.
  • Masyarakat berharap pemerintah menghadirkan kepastian hukum.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - Saat pembahasan sengketa lahan antara masyarakat Alas Tlogo dan TNI Angkatan Laut bergulir dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi II DPR RI, berbagai data, dokumen, dan argumentasi hukum disampaikan para pihak.

Namun di tengah pembahasan yang sarat aspek hukum dan administrasi itu, suara Senewi terdengar berbeda.

Warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan itu tidak datang membawa setumpuk berkas.

Ia membawa cerita tentang kehidupan yang dijalani ribuan warga selama puluhan tahun di tengah ketidakpastian status lahan yang mereka tempati.

“Saya cinta Indonesia dan saya cinta TNI,” ucapnya saat diberi kesempatan berbicara di hadapan anggota DPR RI.

Baca juga: Sengketa Lahan TNI AL di Pasuruan Belum Tuntas, 34 Ribu Warga Masih Menunggu Kepastian Hukum

Kalimat pembuka itu seolah ingin menegaskan bahwa apa yang disampaikannya bukanlah bentuk penolakan terhadap negara maupun institusi pertahanan.

Sebaliknya, ia ingin menyampaikan kegelisahan masyarakat yang selama puluhan tahun hidup di tengah sengketa yang tak kunjung menemukan penyelesaian.

Sebagai generasi keempat yang lahir dan besar di Desa Sumberanyar, Nguling, Senewi tumbuh bersama cerita yang diwariskan dari orang tua dan kakek-neneknya.

Cerita tentang desa yang telah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, tentang lahan yang digarap turun-temurun, serta tentang harapan akan kepastian yang terus diperjuangkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Beberapa hari sebelum menghadiri RDPU, Senewi mengaku menyaksikan tayangan berita mengenai konflik yang terjadi di Gaza.

Baca juga: Pasuruan United Puncaki Klasemen Grup N Piala Presiden usai Kalahkan Bolsel FC

Tayangan itu membangkitkan kembali ingatan tentang pengalaman yang menurutnya pernah dirasakan sebagian masyarakat di wilayah sengketa.

“Dua hari lalu saya melihat berita tentang Gaza. Petani dirusak lahannya, kami pernah merasakan itu. Rumah dirusak, kami pernah merasakan itu. Membangun sarana keagamaan dihalangi, kami pernah merasakan itu,” ujarnya.

Bagi Senewi, perbandingan tersebut bukan untuk menyamakan dua peristiwa yang berbeda.

Ia hanya berusaha menggambarkan bagaimana rasanya hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved