Minggu, 10 Mei 2026

Banjir Lahar Semeru

Gerus Jalan Hingga Rusak 11 Rumah, Banjir Lahar Semeru Kali Ini Terparah Sejak 1981

Ganasnya banjir lahar dingin Gunung Semeru berdampak pada kerusakan 11 rumah yang berada di dekat sungai.

Tayang:
Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Haorrahman
tribunjatimtimur/Erwin Wicaksono
Jalan sepanjang 200 meter di Dusun Rojobalen, Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang tergerus habis diterjang aliran banjir bercampur bebatuan. 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Banjir lahar dingin semeru kembali menerjang, Rabu (25/4/2024) malam. Akibatnya, salah satu bagian jalan sepanjang 200 meter di Dusun Rojobalen, Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang tergerus habis diterjang aliran banjir bercampur bebatuan.

Di seberang jalan, tampak tanggul yang difungsikan untuk membendung air pun jebol tak kuat menahan debit air beserta bebatuan yang menghujam deras.

Akses jalan menuju beberapa desa sempat terhenti. Tak hanya itu, ganasnya banjir lahar dingin Gunung Semeru berdampak pada kerusakan 11 rumah yang berada di dekat sungai.

Baca juga: Polda Jatim Selidiki Jual Beli Jabatan Perangkat Desa di Kabupaten Kediri, 29 Orang Diperiksa

Juminah salah warga terdampak banjir mengatakan, awalnya sekira pukul 14:30 hujan dengan intensitas sedang perlahan menjadi deras. Hingga pada akhirnya malam hari tiba, air semakin tinggi dan memporak-porandakan jalan desa.

"Aliran air awalnya biasa saja. Namun menjelang petang hingga malam air semakin menjadi. Suaranya begitu keras saat menghantam tanggul dan ternyata merusak jalan," ujar Juminah di lokasi kejadian, Kamis (25/4/2024).

Perempuan yang sehari-hari bekerja sèbagai buruh tani tersebut bercerita jika banjir turut merusak rumah sanak keluarganya. Tampak bagian samping rumah tergerus air lantaran begitu dekat dengan longsoran jalan.

Juminah tak bisa membayangkan betapa besarnya banjir lahar dingin Semeru saat ini. Dirinya merasakan jika banjir yang menerjang baru-baru ini merupakan yang paling parah. Kata dia, lebih parah sekarang daripada peristiwa banjir tahun 1981.

"Ini yang terparah selama kami tinggal di sini. Dulu sungai masih dalam dan kini sungai dangkal karena pasir. Jadi air juga cepat membludak," kenangnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi menegaskan kini pihaknya berfokus melakukan normalisasi di aliran sungai agar aliran air semakin lancar.

Pantauan di lokasi, akses jalan yang tergerus pasir dan bebatuan besar mulai dibersihkan agar sementara dapat terlewati.

Baca juga: MALAM Ini! Link Live Streaming Persib Bandung Vs Borneo FC di Liga 1 2023, Siaran Indosiar

"Selama beberapa hari kedepan kami tetap menerjunkan alat berat di lokasi. Ada beberapa bagian yang perlu dinormalisasi agar air tak semakin merembet ke permukiman warga," bebernya.

Patria mengkonfirmasi tidak ada korban jiwa pada banjir semalam. Kata Patria warga terdampak banjir juga saat ini berada di tempat aman.

Baca juga: Beredar Surat Panggilan dari Polda Jatim untuk Pejabat Pemkab Jember

"Saat ini kondisi memang masih darurat bencana alam. Untuk keparahannya memang tak jauh beda dengan banjir lahar dingin beberapa tahun terakhir," paparnya.

Di sisi lain, Patria menginstruksikan kepada jajarannya agar terus meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, potensi terjadinya banjir lahar dingin masih dikhawatirkan terjadi kembali.

"Potensi masih tinggi mengingat cuaca di Lumajang belum membaik hingga saat ini hampir setiap hari mendung. Sementara itu Gunung Semeru juga masih berstatus level III Siaga," pesan Patria.

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur

Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur

(Erwin Wicaksono/TribunJatimTimur.com)

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved