Ramadan 2025
Hikmah Ramadan : Nantikan Aku di Pintu Sorga
Cerita Hamka tentang percakapan beliau dengan sang istri ditulis Hamka ketika menafsirkan ayat 21 suat at Thur di atas
Dengan ayat-ayat ini maka Allah menjanjikan suami istri dan anak cucu akan bisa bertemu di akhirat nanti. Dengan syarat sama-sama beriman dan sama-sama masuk sorga. Kalau tidak sama-sama masuk sorga tentu tidak bisa. Dimana akan bertemu kalau tempatnya berbeda?
Cerita Hamka tentang percakapan beliau dengan sang istri ditulis Hamka ketika menafsirkan ayat 21 suat at Thur di atas. Bertemu dengan anak cucu bisa dengan mereka yang sewaktu di dunia penah bertemu atau belum pernah bertemu. Misalnya ada cucu kita yang lahir setelah kita sudah meninggal. Kita tidak sempat bertemu. Tetapi nanti di akhirat akan dipertemukan. Sungguh Bahagia. Memang di sorga tempat serba bahagia.
Repotnya sering cara pandang kita pada sorga seperti cara pandang kita dalam kehidupan dunia. Padahal pasti berbeda jauh. Maka muncul pertanyaan yang kadang aneh karena kita menanyakan kehidupan di sorga seperti kehidupan dunia. Misalnya kalau laki-laki disediakan bidadari yang cantik apakah suami nanti masih tertarik dengan mantan istrinya di dunia yang tentu kalah jauh dengan kecantikan bidadari. Kalau suami waktu menduda kawin lagi, istri mana yang dipilih, yang lama atau baru? Dan macam-macam pertanyaan remeh temeh lainnya. Yang pasti di sorga hanya ada kebahagiaan. Tidak ada duka sedikitpun. Allah Maha pengatur yang terbaik.
Kita tidak tahu bagaimana kehidupan di sorga. Dilukiskan dengan singkat: La ainun raat, wa la uzunun samiat, wa la qathra fi qalbi basyar. “Mata tidak pernah melihat, telinga tidak pernah mendengar. Bahkan tidak pernah terlintas di hati manusia”
Pertanyaan utama telah terjawab dalam alquran. Bisakah suami istri berjumpa di akhirat nanti? Ternyata bisa asalkan sama-sama masuk sorga. Karena itu berpesanlah para suami kepada istri: “Tunggulah aku dipitu sorga”. Berpesanlah seorang istri kepada suami: “Kakanda, nantikakanlah aku dipintu sorga”. Ini untuk memberi semangat agar masing-masing kita selalu menyiapkan bekal akhirat.
Drs. KH. Nurcholis Huda, M.Si
Ketua MUI Jawa Timur
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur
(TribunJatimTimur.com)
Kemabruran Puasa 30 : Dari Religiousness dan Religious Mindedness |
![]() |
---|
Merawat Kemabruran Puasa 29 : Dari Salam, Islam dan ke Istislam |
![]() |
---|
Hikmah Ramadan : Puasa Ramadhan di Indonesia, Indah dan Nikmat! |
![]() |
---|
Merawat Kemabruran Puasa 28 : Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati |
![]() |
---|
Hikmah Ramadan : Berpuasa, Media Sosial dan Bertapa |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.