Selasa, 14 April 2026

Berita Jember

Bulog Jember Serap 99 Ribu Ton Gabah, Siap Hadapi Panen Gaduh di Musim Kemarau

Perum Bulog Cabang Jember mencatat total penyerapan gabah kering panen (GKP) dari petani mencapai 99 ribu ton.

Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
tribunjatimtimur/Imam Nawawi
SERAPAN GABAH: Muhammad Ade Saputra Kepala Kantor Bulog Jember, Jawa Timur, Senin (21/7/2025). Dia paparkan serapan gabah petani Jember periode Januari-Juli 2025. 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember – Perum Bulog Cabang Jember mencatat total penyerapan gabah kering panen (GKP) dari petani mencapai 99 ribu ton sepanjang Januari hingga Juli 2025. Jika dikonversi ke bentuk beras, angka ini setara dengan sekitar 78 hingga 80 ribu ton beras yang telah masuk ke Gudang Bulog Jember.

Kepala Kantor Bulog Jember, Muhammad Ade Saputra, menjelaskan serapan terbesar terjadi selama masa panen raya awal tahun. Namun, pihaknya kini tengah bersiap menghadapi musim panen gaduh yakni masa panen yang terjadi di tengah musim kemarau, yang diperkirakan berlangsung mulai Agustus hingga Oktober 2025.

Baca juga: Pemkab Jember dan Bulog Salurkan Bantuan Beras untuk 203 Ribu Warga

“Sasarannya berada di tujuh kecamatan di Jember dengan total luas tanam sekitar 14 ribu hektare. Ini menjadi potensi serapan berikutnya selama panen gaduh,” ujar Ade saat ditemui pada Senin (21/7/2025).

Harga gabah kering panen di tingkat petani saat ini berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Ade mengungkapkan, para pedagang (tengkulak) membeli gabah dengan harga mencapai Rp 7.000 per kilogram, lebih tinggi dari HPP yang ditetapkan pemerintah.

Baca juga: Operasi SAR KMP Tunu Pratama Jaya Resmi Ditutup setelah 20 Hari Pencarian

“Memang pada panen gaduh sekarang, harga di lapangan melebihi harga pembelian Bulog. Tapi kami tetap membeli sesuai HPP, yaitu Rp 6.000 per kilogram, karena itu menjadi batas bawah harga pengambilan gabah oleh Bulog,” jelasnya.

Bulog tetap membuka opsi bagi petani yang ingin menjual gabahnya di atas harga HPP. Namun penjualan tersebut di luar skema resmi Bulog.

Baca juga: Respon Persib Bandung Soal Masalah Ramon Tanque, Bomber Brasil Tetap Main untuk Pangeran Biru?

“Kalau petani bisa dapat harga lebih tinggi di luar Bulog, silakan. Itu menjadi rezeki tambahan bagi mereka,” tambah Ade.

Meski total akumulasi serapan cukup tinggi, Ade mengakui terjadi penurunan serapan selama dua bulan terakhir, terutama setelah panen raya berakhir pada Mei lalu.

“Usai panen raya berakhir, sejak Juni hingga Juli 2025 jumlah serapan hanya sekitar 4 ribu ton. Sementara saat panen raya, kami mampu menyerap hingga 60 ribu ton,” ungkapnya.

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur

Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur

(TribunJatimTimur.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved