Kamis, 16 April 2026

Berita Jember

Petani Kopi Jember Kecewa, Harga Robusta Anjlok Saat Panen Raya

Harga kopi robusta di tingkat petani Kabupaten Jember, Jawa Timur, anjlok pada musim panen raya tahun ini. 

Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
tribunjatimtimur/Imam Nawawi
ANJLOK: Warga menjemur kopi di Lapangan Desa Garahan Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, Minggu (3/8/2025) Harga kopi di tingkat petani Jember menurun tahun ini. 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Harga kopi robusta di tingkat petani Kabupaten Jember, Jawa Timur, anjlok pada musim panen raya tahun ini. 

Kondisi ini membuat para petani di Desa Garahan, Kecamatan Silo kecewa.

Abdus Salam, seorang petani kopi setempat, harga kopi kering atau oce saat ini hanya berkisar Rp48.000 per kilogram. Penentuan harga sepenuhnya ditetapkan oleh pengepul.

“Sementara untuk kopi glondongan, harganya cuma Rp15.000 per kilogram, atau Rp1,5 juta per kuintal,” ujar Salam, Senin (4/8/2025).

Baca juga: Update Perbaikan Jalur Gumitir Jember, Masuki Tahap Pengeboran Tanah di Tepi Jurang

Dibandingkan tahun lalu, harga kopi robusta glondongan sempat menyentuh angka Rp30.000 per kilogram, atau Rp3 juta per kuintal. Sementara untuk kopi kering, harganya bahkan bisa mencapai Rp75.000 per kilogram.

“Tahun lalu jauh lebih menguntungkan. Sekarang harganya turun drastis, padahal kualitas kopinya sama,” tambahnya.

Salam menjelaskan, cuaca menjadi salah satu faktor lain yang menyulitkan petani tahun ini. Curah hujan di kawasan Jember Timur terbilang tinggi selama masa panen, sehingga memperlambat proses penjemuran kopi.

“Kalau cuaca normal, butuh empat hari saja untuk mengeringkan kopi. Tapi karena sering hujan seperti kemarin, penjemuran bisa memakan waktu hingga seminggu,” ujarnya.

Baca juga: Keluarga Korban Tewas Usai Nonton Sound Horeg Nyatakan Ikhlas, Bupati Lumajang Evaluasi Perizinan

Meski demikian, kualitas hasil panen tahun ini dinilainya tidak kalah dengan tahun sebelumnya. Namun harga jual yang rendah membuat hasil panen terasa kurang memuaskan.

“Buat petani, harga itu yang utama. Kualitas bagus tapi harga jatuh, tetap tidak menutup biaya produksi,” tegas Salam.

Petani di wilayahnya lebih memilih menanam kopi jenis robusta daripada arabika. Alasannya sederhana, ukuran biji arabika dinilai terlalu kecil dan kurang diminati petani lokal.

Baca juga: Dua Anggota Polres Situbondo Dipecat karena Narkoba dan Perselingkuhan

“Kalau buahnya bagus, satu hektare lahan bisa menghasilkan dua ton kopi glondongan. Tapi kita di sini memang tidak tertarik menanam arabika,” katanya.

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur

Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur

(TribunJatimTimur.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved