Sabtu, 25 April 2026

Liputan Khusus Beras Oplosan

Diduga Hanya Permainan! Meski Tarik Produk Pabrik Besar Masih Serap Gabah Petani

Di tengah pemerintah gencar memerangi peredaran beras oplosan yang merugikan konsumen, diduga ada indikasi permainan pasar. 

|
Penulis: David Yohanes | Editor: Haorrahman
TribunJatimTimur.com/David Yohanes
MENGAMBIL BERAS: Warga Desa Srikaton, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mengambil beras bantuan pangan di gudang kantor desa, Sabtu (26/7/2025) silam. Di tengah upaya pemerintah memerangi beras oplosan, para pengusaha beras skala kecil dan pemilik penggilingan belum merasakan dampaknya. 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Tulungagung - Di tengah pemerintah gencar memerangi peredaran beras oplosan yang merugikan konsumen, diduga ada indikasi permainan pasar. 

Ini dilihat sejumlah merek beras premium banyak ditarik dari pasaran, namun di sisi lain banyak pabrik besar tetap menyerap gabah dari petani. 

Pemilik usaha penggilingan padi di Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Fahrurozi, menilai pabrik besar masih aktif membeli gabah langsung dari petani.

“Beberapa merek memang ditarik dari pasaran, alasan setop produksi atau karena ada sidak. Tetapi di lapangan ditemukan masih ada pembelian gabah petani,” ujar Rozi, Rabu (13/8/2025).

Ia menduga penghentian produksi oleh pabrik besar hanya bersifat sementara, sekadar menunggu situasi mereda. 

Baca juga: Bupati Pasuruan Tekankan Semua Kegiatan Perayaan 17 Agustus Wajib Izin Resmi

Dengan modal yang kuat, pabrik-pabrik tersebut tetap menyerap gabah dalam jumlah besar. Diduga nantinya ketika kondisi dinilai kondusif, mereka bisa kembali memproduksi dan membanjiri pasar.

Situasi ini, kata Rozi, merugikan penggilingan kecil karena harga gabah di tingkat petani di Tulungagung masih tinggi, mencapai Rp 7.800 hingga Rp 7.900 per kilogram. 

Seharusnya, ketika pabrik besar berhenti produksi, penggilingan kecil seperti milik Rozi, dapat mengisi kekosongan pasar. Namun kenyataannya, bahan baku atau gabah justru sulit diperoleh karena sudah terserap pabrik besar.

Baca juga: Rugikan Konsumen dan Petani, DPD Tani Merdeka Pasuruan Dukung Pemerintah Berantas Beras Oplosan 

Banyak penggilingan akhirnya memilih bekerja sama dengan pabrik, hanya memasok beras pecah kulit sebagai bahan setengah jadi. 

“Sudah jarang penggilingan yang memproduksi beras jadi. Rata-rata memasok beras pecah kulit ke pabrik,” ujarnya.

Bulog sebenarnya menawarkan kerja sama kepada penggilingan untuk memasok beras medium dengan harga Rp 12.800 - Rp 12.900 per kilogram. 

Namun tawaran ini dianggap kurang menarik karena jika dijual langsung sebagai beras curah di pasar, harganya bisa mencapai Rp13.000 per kilogram, dan pedagang akan menjualnya ke konsumen seharga Rp13.500 per kilogram.

Baca juga: Buka Cabang Baru di Jember, CIMB Niaga Dukung Pengembangan UMKM dan Pengusaha Perempuan

Selain itu, penggilingan kecil juga harus bersaing dengan pabrik besar yang memproduksi beras dari segmen harga medium hingga premium. 

Rozi mengungkapkan, sebelum kondisi ini terjadi, kapasitas produksinya bisa mencapai dua ton beras curah per minggu. Kini, produksinya merosot sekitar 200 kilogram per minggu.

“Selama ini kami sudah bersaing dengan pabrik di semua segmen harga. Mereka menang karena punya brand,” tegasnya.

Baca juga: Untuk Dapatkan Alejandro Garnacho, Chelsea Siap Tumbalkan 4 Pemainnya, Man United Minat?

Rozi menyimpulkan, penertiban beras oplosan sejauh ini belum membawa dampak positif bagi penggilingan kecil. Meski demikian, ia tetap berharap kebijakan tersebut pada akhirnya dapat membantu usaha kecil bertahan dan berkembang.

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur

Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur

(TribunJatimTimur.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved