Jumat, 17 April 2026

Harga Plastik Mahal, Besek Bambu di Banyuwangi Laris Manis

Harga plastik yang terus naik dan mahal, membuat besek bambu buatan warga Banyuwangi laris manis.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Haorrahman
ist/Widie Nurmahmudy
BESEK - Perajin besek bambu di Lingkungan Papring, Desa/Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Pesanan semakin meningkat usai harga plastik melonjak. 
Ringkasan Berita:
  • Harga plastik yang naik memicu peningkatan permintaan besek bambu di Banyuwangi
  • Pesanan besek di Papring melonjak, pembeli bahkan harus inden
  • Harga besek naik dari Rp1.500 menjadi Rp2.500 per buah
  • Produksi meningkat, lebih banyak warga terlibat sebagai perajin
  • Besek diminati karena lebih awet, bisa digunakan ulang, dan ramah lingkungan

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Mahalnya harga plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Salah satu dampaknya terlihat di Kabupaten Banyuwangi, di mana permintaan terhadap besek bambu meningkat signifikan.

Fenomena ini terjadi di Lingkungan Papring, Desa Kalipuro, yang sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu. Warga setempat kini kebanjiran pesanan besek, seiring tingginya kebutuhan wadah alternatif pengganti kantong plastik.

Widie Nurmahmudy, tokoh masyarakat Papring, mengungkapkan lonjakan permintaan terjadi dalam waktu singkat setelah harga plastik naik tajam.

"Seminggu ini pesanan jauh meningkat. Pemesan sampai harus inden," kata Widie, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Penempatan Pedagang di Pasar Banyuwangi, Tunggu Penyerahan dari Kementerian PU

Menurutnya, sebagian besar pembeli memesan dalam jumlah besar untuk dijual kembali. Hal ini menunjukkan besek bambu tidak hanya diminati sebagai kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi sebagai produk dagangan.

Lonjakan permintaan ini turut mendorong kenaikan harga. Jika sebelumnya besek dijual sekitar Rp1.500 per buah, kini harganya naik menjadi Rp2.500 per buah. Meski begitu, minat pasar tetap tinggi.

Selain faktor harga plastik, besek bambu dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Produk ini lebih awet, bisa digunakan berulang kali, serta lebih ramah lingkungan dibanding kantong plastik sekali pakai.

Permintaan yang meningkat juga membawa dampak ekonomi bagi warga. Jumlah perajin bertambah karena kebutuhan produksi yang terus naik. Para perajin kini tidak lagi bekerja sendiri, melainkan melibatkan lebih banyak warga, terutama ibu rumah tangga.

Baca juga: Perhutani Banyuwangi Raya-Kejari Teken MoU Terkait Penangangan Hukum Pengelolaan Hutan

"Dulu perajin mengerjakan sendiri. Kini karena banyak permintaan, mereka mengajak ibu-ibu lain untuk membuatnya," ujar Widie.

Langkah ini dilakukan untuk mempercepat produksi agar pesanan dapat dipenuhi tanpa waktu tunggu yang terlalu lama.

Widie menambahkan, besek bambu saat ini banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kemasan makanan hingga hampers. Tren ini menunjukkan pergeseran ke arah penggunaan produk yang lebih berkelanjutan.

"Besek bisa dipakai berulang kali, tahan air, dan semakin awet saat terkena panas. Yang penting adalah ramah lingkungan," tuturnya.

Dengan tren ini, besek bambu tidak hanya menjadi solusi sementara akibat mahalnya plastik, tetapi juga berpotensi menjadi pilihan utama masyarakat dalam jangka panjang.

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved