Jumat, 8 Mei 2026

Berita Bondowoso

Warga Prajekan Bondowoso Ciptakan Gapura Unik dari Bahan Daur Ulang

Warga Desa Prajekan Lor, Bondowoso membuat gapura dari limbah daur ulang sebagai kampanye peduli lingkungan.

Tayang:
Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Haorrahman
TribunJatimTimur.com/Sinca Ari Pangestu
GAPURA: waSalah satu gapura yang terbuat dari bahan daur ulang dibuat oleh warga Desa Prajekan Lor, Kecamatan Prajekan, Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (3/9/2025). 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Kreativitas warga Desa Prajekan Lor, Kecamatan Prajekan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengubah limbah dan barang bekas menjadi gapura unik yang berdiri di 10 pintu masuk lingkungan desa.

Setiap gapura memiliki desain berbeda sesuai imajinasi dan kreasi warga.

Ada yang berbentuk burung Garuda, helikopter, benteng pejuang, hingga tokoh robotik Robocop yang memegang bendera merah putih.

Baca juga: Potensi Chelsea dan Man United Adu Sikut di Bursa Transfer Januari, Pemain Timnas Inggris Sebabnya

 Semua dibuat dari bahan daur ulang seperti botol plastik, sak semen yang dikeraskan, limbah bangunan, sisa perbengkelan, hingga sampah rumah tangga.

Kepala Desa Prajekan Lor, Fandi Shofan Hidayat, menjelaskan ide ini lahir sebagai bagian dari kampanye pelestarian lingkungan.

Pemerintah desa sedang berupaya mengajak masyarakat mengelola sampah secara terpadu.

Baca juga: Dari Demo Ricuh dan Penyerangan Polres Blitar, Polisi Temukan Ladang Ganja, Sita 800 Batang Ganja

“Kita ingin mengedukasi warga melalui karya seni. Kampanye utamanya adalah pengelolaan sampah. Misalnya, bekas kertas semen yang dikeraskan bisa menjadi bahan utama pembuatan gapura,” ujarnya, Rabu (3/9/2025).

Shofan mencontohkan salah satu gapura berbentuk Garuda yang dibuat dari potongan limbah kayu mebel. Kayu bekas tersebut disusun menyerupai Garuda, lalu diperkuat dengan limbah kertas yang dihancurkan hingga membentuk miniatur kokoh di atas gapura.

Baca juga: Sindikat Pencuri Pikap di Lumajang Ditangkap, Mobil Curian Dijual ke Madura Rp 20 Juta

Menurutnya, selain sebagai sarana kampanye lingkungan, kegiatan ini juga memperkuat kebersamaan warga. Proses pembuatan gapura dilakukan secara gotong royong dan melibatkan kreativitas seni.

“Seni itu lahir dari proses yang rumit, tapi bisa disajikan dalam bentuk sederhana. Dari sini muncul karya-karya yang membanggakan,” katanya.
Festival inovasi gapura ini awalnya digelar dalam rangka memperingati bulan kemerdekaan. Namun, hingga September, banyak warga tetap membiarkan gapura mereka berdiri karena merasa bangga dengan hasil karya yang sepenuhnya dibuat dari sampah dan bahan daur ulang.

(TribunJatimTimur.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved