Rabu, 15 April 2026

MBG Bondowoso

Ada 13 Dapur MBG Bondowoso, Perputaran Ekonomi Capai Rp 520 Juta per Hari

Dari 13 dapur SPPG Bondowoso yang menyalurkan makanan bergizi gratis ke ribuan siswa tiap hari, mampu menggerakkan ekonomi lokal hingga Rp 500 juta.

Penulis: Sinca Ari Pangistu | Editor: Haorrahman
TribunJatimTimur.com/Sinca Ari Pangistu
MAKAN GRATIS: Siswa siswi di SDN Wonosuko, Kecamatanan Tamanan Bondowoso saat menikmati makan bergizi gratis (MBG) pertama kali pasca launching SPPG di Kecamatanan Tamanan, Sabtu (23/8/2025). 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Hingga September 2025, tercatat sudah ada 13 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso, yang setiap hari mendistribusikan makanan bergizi untuk belasan ribu siswa.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi, mengatakan perputaran uang untuk satu dapur SPPG sekitar Rp 40 juta per hari. Dengan terdapat 13 SPPG berarti, berarti satu hari perputaran ekonominya mencapai Rp 520 juta. Apabila 22 hari operasional, dalam sebulan perputaran ekonomi MBG rata-rata mencapai Rp 11,4 miliar.

“Kalau kebutuhan pangan bisa dipenuhi masyarakat lokal, maka kesejahteraan Bondowoso juga akan ikut meningkat,” ujarnya usai rapat evaluasi MBG di Aula Pemkab Bondowoso, Jumat (19/9/2025).

Baca juga: Bondowoso Ajukan 20 Nama Pejabat Eselon II ke BKN, Tunggu Persetujuan Mutasi OPD

Selain itu, MBG juga memberikan dampak positif lainnya yakni membuka lapangan kerja. Satu dapur SPPG dapat menyerap hingga 49 tenaga kerja, mayoritas dari kalangan ibu rumah tangga sekitar. Dengan begitu mereka bisa bekerja tanpa harus meninggalkan rumah terlalu jauh.

“Mereka cukup bekerja di sekitar lingkungan saja, jadi lebih produktif sekaligus membantu keluarga,” tambahnya.

Saat ini 13 dapur yang telah beroperasi di antaranya SPPG Badean, Jambesari DS, Pakem, Wonosuko Tamanan, Dadapan Grujugan, Pujer, Kademangan Bondowoso, Ponpes Al Islah, Ponpes Manbaul Ulum, Tapen, Kerang Sukosari, Rejoagung Sumberwringin, dan Jembung Kidul Tlogosari.

Baca juga: Jalan Rusak di Bondowoso Capai 494 KM, Tonase Kendaraan Jadi Penyebab Utama

Gerakkan Ekonomi Lokal

Program MBG juga menggerakkan ekonomi lokal, utamanya kebutuhan bahan-bahan pokok. 

Mila Afriana Agustin, Kepala SPPG Dapur Badean, menjelaskan satu dapur rata-rata melayani sekitar 3.000 siswa. 

Memenuhi kebutuhan tersebut, setiap hari diperlukan beras sekitar 3 kwintal, sayur 200–300 kilogram, lauk pauk (ayam, lele, telur, dll.) 200–300 kilogram, Susu sekitar 150 ml per porsi untuk 3.000 anak.

“Kalau dihitung, kebutuhan susu saja dalam sehari bisa mencapai ratusan liter,” ungkap Mila.

Baca juga: Angkutan Desa Bondowoso Nasibmu Kini, dari 130 Kini Hanya Tersisa 13 Armada

Terkait ketersediaan bahan pangan, SPPG berkoordinasi dengan Diskoperindag, Dinas Pertanian, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). 

Salah satunya menggandeng Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) agar masyarakat bisa ikut menanam sayur dan menghasilkan tambahan pendapatan.

“Dengan bantuan Bumdes, ibu-ibu bisa menanam sayur sendiri. Jadi tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur SPPG, tapi juga bisa jadi pemasukan,” jelas Mila.

Meski sebagian besar bahan pangan diperoleh dari petani dan pedagang lokal Bondowoso, ada beberapa komoditas yang masih harus dipasok dari luar daerah. 

Baca juga: Bondowoso Alokasikan Rp 2,6 Miliar DBHCHT 2025 untuk Pelatihan dan Perlindungan Tenaga Kerja

Misalnya wortel buah dan produk susu yang sudah diolah, karena Bondowoso baru memiliki peternakan sapi perah tanpa unit pengolahan skala UMKM.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved