Selasa, 14 April 2026

Pertanian Jember

Swasembada Pangan Nasional, Panen Padi Jember Justru Turun Drastis

Produksi padi Jember turun 54 ribu ton pada 2025 akibat cuaca ekstrem, hama, dan alih fungsi lahan.

Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
TribunJatimTimur.com/Imam Nawawi
TURUN: Petani di Desa/Kecamatan Ajung Jember, Jawa Timur saat panen padi, Jumat (11/4/2025). Produksi padi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, turun sepanjang Januari–November 2025.  

Ringkasan Berita:
  • Produksi padi Jember 2025 turun menjadi 934 ribu ton, berkurang 54 ribu ton dibanding 2024.
  • Penurunan karena cuaca ekstrem, tingginya curah hujan, dan kemunculan hama.
  • Luas tanam padi turun dari 163 ribu hektare (2024) menjadi sekitar 139 ribu hektare (2025).
  • Banyak lahan beralih menjadi tanaman tembakau dan minim regenerasi petani muda.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Di tengah gencarnya pemerintah pusat memperkuat swasembada pangan, produksi padi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, turun sepanjang Januari–November 2025. 

Menurut data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Jember, total produksi gabah kering giling (GKG) pada 2025 mencapai 934.403,8 kilogram atau sekitar 934 ribu ton. Angka ini turun dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 988.885 kilogram atau sekitar 988 ribu ton. Secara keseluruhan, produksi padi Jember berkurang sekitar 54 ribu ton.

Cuaca Ekstrem dan Mutasi Hama Tekan Produksi
Kepala Bidang Tanaman Pangan TPHP Jember, Luhur Prayogo, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem menjadi faktor utama turunnya produksi. Intensitas hujan yang tinggi hampir setiap bulan membuat pertumbuhan tanaman terganggu.

Baca juga: Penyerapan Pupuk Subsidi Jember Baru 60 Persen, Potensi Terjadi Penimbunan

“Penurunan hasil panen karena cuaca ekstrem, di mana kita ketahui setiap bulan selalu turun hujan,” kata Luhur, Selasa (9/12/2025).

Luhur mengatakan perubahan iklim di wilayah Bumi Pandhalungan juga memicu kemunculan hama yang bermutasi dan menyerang tanaman padi.

“Beberapa daerah yang digenjot tiga kali tanam, tiba-tiba muncul hama seperti tikus dan wereng, sehingga padi yang dihasilkan menurun,” ujarnya.

Alih Fungsi

Penurunan produksi juga disebabkan oleh menurunnya luas tanam padi. Pada 2024, luas area mencapai 163 ribu hektare, namun pada 2025 berkurang menjadi sekitar 139 ribu hektare.

Sebagian lahan beralih fungsi menjadi ladang tembakau saat memasuki musim panas.

Baca juga: Banjir Luapan Sungai Curah Ampel Rendam Puluhan Rumah di Gumukmas Jember

“Saat itu cuaca panas cukup, akhirnya petani beralih tanam tembakau. Jadi luasan tanam tahun ini dibanding sebelumnya ada penurunan,” jelas Luhur.

Selain itu, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian semakin rendah.

“Padahal sektor pertanian adalah yang paling kuat dalam berbagai situasi ekonomi. Tetapi mereka menganggap dengan luasan lahan terbatas, hasilnya kurang menjanjikan,” tambahnya.

Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, menilai penurunan produksi tidak semata disebabkan cuaca atau hama. Ia mengindikasikan adanya alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi kawasan permukiman.

Baca juga: Pembuangan Bayi di Jember, Polisi Tangkap Ibu, Ayah dan Nenek

“Kami mengindikasikan banyak alih fungsi lahan pertanian produktif di Jember. Akibatnya lahan produktif berkurang,” kata Candra.

Dia mengatakan Jember harus tetap membuka ruang investasi, namun bukan dengan mengorbankan lahan pangan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved