Tangis Haru Sang Ibu, Saat Remaja 16 Tahun di Jember Dibebaskan dari Pasung
Remaja 16 tahun di Jember dibebaskan dari pasung oleh Dinsos Jatim setelah 1,5 bulan. Akan menjalani rehabilitasi di Pasuruan.
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
Ringkasan Berita:
- Remaja 16 tahun di Kecamatan Mayang, Jember, dibebaskan dari pasung oleh Dinsos Jatim.
- MAM dipasung keluarga selama 1,5 bulan karena mengalami gangguan mental setelah ayahnya meninggal.
- Evakuasi dilakukan setelah laporan masyarakat viral di media sosial.
- Remaja tersebut akan menjalani rehabilitasi di UPT Bina Laras Pasuruan selama satu tahun.
- Seluruh biaya pengobatan dan rehabilitasi ditanggung oleh Pemprov Jawa Timur.
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Seorang remaja berinisial MAM (16) di Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, akhirnya terbebas dari pasung setelah dievakuasi oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur (Dinsos Jatim), Kamis (2/4/2026). Tumyati, sang ibu, terlihat menahan haru saat menyuapi putranya sebelum dibawa oleh tim Dinsos Jatim.
Remaja tersebut diketahui mengalami gangguan kesehatan mental sejak ayahnya meninggal dunia beberapa bulan lalu. Kondisi itu membuat keluarga terpaksa memasung MAM selama sekitar 1,5 bulan di sebuah ruang sederhana berlantai tanah di rumahnya.
Tim respons cepat Dinsos Jatim membuka pasung kayu yang dikunci dengan rantai menggunakan alat tang. Saat pasung dilepas dari kedua kakinya, MAM yang mengenakan kemeja putih dan sarung biru tampak tersenyum.
Karena kondisinya lemah akibat lama dipasung, petugas harus membopong remaja tersebut keluar dari rumah.
Setelah itu, tim membersihkan tubuhnya dan memandikannya sebelum dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh tenaga medis dari Puskesmas setempat.
Baca juga: Hari ke-6 Pencarian Wisatawan Hanyut di Pantai Papuma Jember, Tim SAR Gunakan Drone
Berharap Sembuh
“Semoga lebih membaik dan sembuh total,” ujar Tumyati.
Ia mengungkapkan kondisi mental putranya mulai tidak stabil sejak sang ayah meninggal dunia. MAM sering mengamuk dan menyerang orang di sekitarnya.
“Merusak barang-barang di rumah, bahkan saya dicekik,” ungkapnya.
Situasi tersebut membuat keluarga besar akhirnya memutuskan memasung MAM demi keselamatan orang di sekitarnya.
“Sejak saat itu keputusan memasung MAM dibuat bersama keluarga besar,” ujarnya.
Baca juga: Dalam Tiga Bulan, 10 Ibu Meninggal Saat Melahirkan di Jember
Hidup Berdua
Sejak suaminya meninggal sekitar tiga bulan lalu, Tumyati tinggal berdua dengan MAM di rumah sederhana berlantai tanah.
Anak pertamanya sudah menikah, sedangkan anak kedua tinggal bersama kerabat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Tumyati bekerja sebagai buruh cuci.
Paman MAM, Bakri, menjelaskan bahwa keponakannya pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Lawang, Malang selama sekitar 20 hari ketika ayahnya masih hidup.
Namun saat pulang dari rumah sakit, MAM mengetahui bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Kondisi itu diduga membuat mentalnya kembali memburuk.
| Rayz UMM Hotel Malang Hadirkan Kartini Bloom, Wadah Talenta Anak dalam Semangat Hari Kartini |
|
|---|
| KA Sangkuriang Segera Meluncur, Banyuwangi Kini Tersambung Langsung dengan Bandung |
|
|---|
| Meriahkan Harjakapro, Pemkab-Jasa Raharja dan Polres Probolinggo Gelar Kopdar Bareng Komunitas Motor |
|
|---|
| Lantik Pengurus KNPI, Mas Rusdi Pesan Jaga Kekompakan untuk Kontribusi Bangun Pasuruan |
|
|---|
| Hadiri Wisuda Tahfidz, Gus Shobih : Ini Jadi Bekal Karakter Berakhlak Berlandas Al-Qur’an |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/LEPAS-PASUNG-Pelepasan-pasung-kayu-di-kaki-MAM-jember.jpg)