Kamis, 7 Mei 2026

Setelah LPG, MinyaKita juga Naik Tembus Rp 22.000 per Liter di Jember, Stok Langka di Pasaran

Setelah LPG, kini harga MinyaKita juga naik di Jember hingga Rp22.000 per liter, bahkan sulit ditemukan di pasaran.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Haorrahman
TribunJatimTimur.com/Izi Hartono
IKUT NAIK-MinyaKita di salah satu toko di Situbondo. Di Jember harga MinyaKita naik bahkan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). 
Ringkasan Berita:
  • Harga MinyaKita di Jember sempat tembus Rp 22.000 per liter
  • Rata-rata harga saat ini Rp18.570, di atas HET Rp 15.700
  • Harga tertinggi ditemukan di beberapa pasar tradisional
  • Stok MinyaKita sulit didapat sejak setelah Lebaran
  • Pedagang beralih ke merek lain dengan harga serupa namun volume lebih kecil

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Setelah LPG utamanya non subsidi naik di berbagai daerah, kini harga minyak goreng bersubsidi MinyaKita di Kabupaten Jember juga naik dalam beberapa waktu terakhir. Tidak hanya mahal, produk ini juga semakin sulit ditemukan di pasaran.

Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, mengungkapkan lonjakan harga sudah terpantau sejak beberapa waktu lalu.

“Iya, dari pantauan kami, harga MinyaKita memang naik signifikan. Bahkan beberapa waktu lalu sempat di harga Rp 22.000 per liter. Hari ini rata-rata harganya di kisaran Rp 18.570 per liter,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: Bupati Banyuwangi Cek Stok Minyakita di Bulog, Siap Tambah 100 Ribu Liter Jelang Ramadan

Harga Melebihi HET

Berdasarkan rekapitulasi harian harga bahan pokok dari Komisi B DPRD Jember bersama Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan, harga tertinggi ditemukan di sejumlah pasar tradisional.

Pasar Rambipuji, Umbulsari, Sempolan, dan Menampu mencatat harga MinyaKita mencapai Rp 22.000 per liter pada 23 April 2026. Secara rata-rata, harga di seluruh pasar berada di angka Rp 18.570 per liter.

Angka ini jelas melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 15.700 per liter.

Candra mengatakan pihaknya terus memantau harga karena minyak goreng merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Baca juga: Minyakita Langka dan Mahal, Satgas Pangan Sidak Pasar Tanjung Jember 

Kesulitan Stok

Kelangkaan MinyaKita juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil. Wati, pemilik warung kelontong di kawasan Kaliwates, mengaku sudah tidak menjual MinyaKita selama sekitar satu bulan.

“Saya sudah sebulan nggak jual MinyaKita. Sejak setelah Lebaran itu barangnya sulit, kulakan nggak pernah dapat. Terakhir Lebaran itu jual juga harganya sudah mahal,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini memaksanya mencari alternatif minyak goreng lain untuk tetap memenuhi kebutuhan pelanggan.

“Saya nyari merek lain, ada harganya Rp 18.500 itu bukan seliter tapi 800 mililiter. Itu sudah yang paling murah, sekarang minyak goreng mahal,” tambahnya.

Baca juga: Harga MinyaKita Dijual di Atas HET, Pemkab Lumajang akan Gelar Operasi Pasar

Kenaikan harga dan keterbatasan stok MinyaKita membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan sehari-hari. Alternatif yang tersedia pun umumnya memiliki volume lebih kecil dengan harga hampir setara.

 


Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved