Selasa, 7 April 2026

Berita Banyuwangi

Antisipasi Risiko Bencana Alam di Banyuwangi dengan Mitigasi Dini

Kajian Risiko Bencana (KRB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi mencatat, sebanyak 16 risiko ancaman bencana.

Editor: Haorrahman
TribunJatim-Timur.com/Aflahul Abidin
Diskusi "Jurnalis Melek Mitigasi: di Balik Eksotisme Banyuwangi" yang digelar, Kamis (22/12/2022). 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Kajian Risiko Bencana (KRB) yang disusun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi mencatat, sebanyak 16 risiko ancaman bencana alam ada di wilayah tersebut.

Antisipasi dini mutlak diperlukan untuk meminimalisir adanya korban jiwa dari setiap bencana yang terjadi.

Peran serta seluruh pihak mulai dari pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, hingga media perlu ditingkatkan.

Hal tersebut mencuat dalam diskusi "Jurnalis Melek Mitigasi: di Balik Eksotisme Banyuwangi" yang digelar, Kamis (22/12/2022).

Diskusi yang digagas oleh Forum Edukasi Wartawan itu menghadirkan dua narasumber, yakni Ketua Harian Geopark Ijen Abdillah Baraas dan Plt Kalaksa BPBD Kabupaten Banyuwangi Mujito.

Diskusi itu dihadiri oleh puluhan jurnalis, relawan kebencanaan, dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan instansi lain terkait.

Abdillah mengatakan, bencana skala besar beberapa kali terjadi di Banyuwangi pada masa lampau.

Salah satunya, Tsunami di Pancer tahun 1994 yang menyebabkan 250 orang tewas, 127 hilang, dan 1.500-an rumah rusak parah.

Contoh lainnya, bencana letusan Gunung Raung. Gunung yang berada di wilayah Banyuwangi, Jember, Bondowoso itu tercatat meletus hebat pada 1586.

Letusan Gunung Raung terulang beberapa kali dan menyebabkan banyak korban.

Menurut Abdillah, bencana sejatinya adalah fenomena alam. Fenomena itu memiliki siklus alami yang akan berulang.

"Ada tidaknya manusia, fenomena alam itu akan terjadi. Ada siklusnya. Akan tetapi, keberadaan manusia mempercepat siklus tersebut," kata dia.

Ia mencontohkan, bencana banjir akan tetap terjadi andai manusia tak ada. Banjir terjadi karena keberadaan gunung berapi yang membuat aliran sungai di masa lalu.

"Banjir itu punya siklus. Misalnya, 100 tahunan terjadi banjir karena adanya sedimentasi yang terjadi secara alami. Tapi, aktivitas manusia yang memproduksi sampah di daerah sungai membuat siklus itu berlangsung lebih cepat, misalnya menjadi 2 atau 3 tahun sekali," sambung dia.

Pun demikian dengan tanah longsor. Tanpa adanya aktivitas manusia, tanah longsor bisa terjadi akibat kandungan mineral dalam bebatuan habis terhisap oleh tumbuhan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved