Berita Banyuwangi
Antisipasi Risiko Bencana Alam di Banyuwangi dengan Mitigasi Dini
Kajian Risiko Bencana (KRB) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi mencatat, sebanyak 16 risiko ancaman bencana.
Tak adanya kandungan mineral membuat batu lapuk hingga menyebabkan tanah mudah longsor.
"Namun, aktivitas manusia yang padat membuat tanah longsor semakin mudah terjadi," sambung Abdillah.
Menurut Abdillah, risiko-risiko bencana di Banyuwangi bisa dicegah dengan peran serta semua pihak.
Seluruh lapisan masyarakat, kata dia, harus diedukasi agar mengerti ancaman bencana di daerahnya.
Dengan mengetahui ancaman, mereka bisa mempersiapkan diri apabila sewaktu-waktu bencana terjadi. Hal ini meminimalisir risiko korban jiwa.
Selain itu, rencana tata ruang harus diperketat untuk kepentingan kebencanaan. Rencana tata ruang wilayah harus disesuaikan dengan kajian risiko bencana.
Hal lain yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan struktur bangunan di suatu wilayah dengan risiko ancaman bencana.
Bangunan tahan gempa, misalnya, harus dibangun di daerah dengan tingkat kerawanan gempa tinggi.
"Perlu juga adanya kurikulum tanggap bencana. Dulu tahun 1930, di sekolah rakyat (SR) diajarkan soal kebencanaan. Ini sekarang yang tidak kita temukan," lanjut Abdillah.
Terakhir, diperlukan pengawasan ketat terhadap perubahan kondisi geologi.
"Ini menjadi tanggung jawab kita bersama," tutur Abdillah.
Plt Kalaksa BPBD Kabupaten Banyuwangi Mujito mengatakan, untuk meningkatkan mitigasi bencana di tingkat terbawah, pihaknya telah membentuk kelompok desa tangguh bencana (Destana) di 17 desa.
Jumlah itu masih minim apabila dibandingkan dengan jumlah desa/kelurahan di Banyuwangi yang mencapai 217.
Mujito berharap, jumlah destana ke depan bisa bertambah lebih banyak dari tahun ke tahun.
Untuk edukasi dini, BPBD Banyuwangi juga akan meluncurkan program bocah tangguh bencana. Anak-anak usia SD hingga SMA bakal diedukasi untuk memahami bahaya bencana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/Jurnalis-Melek-Mitigasi.jpg)