Selasa, 19 Mei 2026

Hikmah Ramadan

Menjemput Hari Kemenangan Bersama Ramadan

SELAMA Ramadan 1445 H ini terjadi beragam fenomena. Ramainya masjid-masjid, surau-surau di kampung-kampung dan gang-gang kecil perkotaan

Tayang:
Editor: Sri Wahyunik
TribunJatimTimur.com/Dok pribadi
Suparto Wijoyo, Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga - Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup-SDA MUI Jatim 

Suparto Wijoyo

Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup-SDA MUI Jatim

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM - SELAMA Ramadan 1445 H ini terjadi beragam fenomena. Ramainya masjid-masjid, surau-surau di kampung-kampung dan gang-gang kecil perkotaan. Tadarus menggema dalam segmen yang membingkai kebersamaan umat. Suaranya bersahut-sahutan menjalinkan persatuan antarkawasan. Muncul semacam konstruksi sosial baru yang unik berupa War Takjil. Pesona Ramadan menjadi beragam. Di beranda depan rumah atau di pinggir-pinggir jalan para pedagang membuka lapak jualan takjil. Pembelinya datang seperti sedang menghadapi “musuh” rasa haus dan lapar. Mereka maju serentak untuk mendapatkan aneka makanan takjil. Justru itu dilakukan oleh saudara-saudara sebangsa nonmuslim yang berbaur dengan saudaranya yang muslim. Ini berkah besar Ramadan sebagai bulan kebangsaan.

Dengan realitas War Takjil terdapat penanda bahwa Ramadan pun adalah bulan persatuan, setelah di pemilu ada perseteruan. Ramadan menjadi bulan yang membuat alasan keragaman iman, perbedaan keyakinan, warna kulit dan suku serta agama tampaklumer tanpa sekat. Mereka bermetamorfosis alias mlungsungi menuai kesadaran kolektif yang akur, guyup, rukun. Bangsa ini sungguhmemanen nilai-nilai dalam Al-Qur'an surat Al Hujurat ayat 13 yang mengajarkan: Ya ayyuhan-nasu inna khalaqnakum min zakariw wa unsa wa ja'alnakum syu'ubaw wa qaba`ila lita'arafu, inna akramakum 'indallahi atqakum, innallaha 'alimun khabir.

Firman Tuhan itu memberikan panduan tata kelola kehidupan: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Kemampuan saling mengenal yang dihadirkan komunitas sosial di kala Ramadan dalam episode War Takjil saja, sangat mengagumkan, sekaligus membuat hati membuncahkan keakraban bersama.

Dalam konteks ini terasa sumendal (alias jiwa sedikit melankolis), karena Ramadan terus beranjak memungkasi dirinya. Ramadan yang telah mendekap sepanjang waktunya harus “melambaikan tangan” guna merentang jarak dengan segenap manusia. Pengambilan jarak yang sangat kondrati untuk mengukur apakah para pemuasa hari ini akan semakin kamanungsanesok waktu atau tidak. Ramadan niscaya harus direngkuhnya berkelanjutan dengan kalkulasi bahwa setiap hari ke depan pada kesejatiannya memberi selisik kepadamanusia untuk mempuasakan diri, sehingga tatatan hari-hari mendatang tetap berjiwa Ramadan. Hidup dengan bersukma Ramadan berarti hidup yang terus lelaku kebaikan, mepes raga, menyuwungkan sukma dengan luaran tumindak mulya. Muncul akhlak tidak jahil dengan siapa saja, apalagi korupsi. Ramadan akan disemat dan dihidupkan dalam diri tanpa henti sehingga tiada hari yang lowong mempuasakan jiwa-raga alias tidak hendak rakus lan nggeragas.

Hidup yang terjaga adalah hidup yang mempuasakan setiap detak jantung serta desah nafas. Hidup yang meramadankan hari-harinya merupakan pijakan yang selama ini dipanjatkan doanya. Doa pengharapan agar bentara jiwa ini mampu menaiki tangga-tangga langit kemuliaan. Orang yang usai memasuki “gua peradaban Ramadan” diyakini mampu menata dirinya dalam rumpun kebaikan tanpa ada kecurangan, keculasan, kecerobohan, apalagi kesombongan. Adanya klaim-klaim bahwa tiada sosok lain yang mampu menjadi pemimpin di sebuah wilayah kalau tidak dirinya sendiri, kalaulah itu ada, maka ini penanda hadirnya aroma pemberhalaan citra menjadi milik, hingga lainnya dianggap liyan.

Pada titik itu saya teringat bahwa pada saat kekuasaan di Perancis di tangan Raja Louis XIV – Louis-Dieudonne: Raja Matahari – Le Roi Soleil (1638-1715), pernah main klaim bahwa negara adalah saya (l’etat c’est moi), meski mampu bertahan selama 72 tahun, tetaplah roboh jua oleh geliat rakyat. Pada batas demikian ada pelajaran jangan main-main dengan kekuatan kuasa. Semua ada saatnya (sa'atan sa'atan). Dan kini kita fokus untuk membula lembaran waktu berupa saatnya menikmati sisa-sisa Ramadan dengan menyemai hikmah. Apalagi sambil mudik alias menempuh jalan kerinduan ke kampung halaman.

Ramadan pada saatnya musti menghantarkan perekaman jejak langkah manusia yang telah berpuasa untuk mengawali babakan perabadan baru (the new civilization) atas hidupnya. Umat sedang siap-siap menjemput 1 Syawal 1445 H. Ini adalah titik poin yang akan memberangkatkan langkah ke depan dalam pendulum Ramadhan ataukah justru menjadi penyintas semata, bahwa puasa tempo hari itu sekadar parade lapar nan dahaga. Apabila dalam hari-hari mendatang masih saja ada ketidakadilan dan eksploitasi para pendukung tanpa mampu move on, sehingga fenomenanya adalah kerumunan kaum “penyorak”, berarti memang ada yang masih melumpuhkan nalar dalam skala yang sangat rawan. Panjer-panjer peribadatan Ramadan sudah memberikan sinyal datangnya hari kemenangan. Ini yang hendak kita jemput dengan menjumput hikmahnya. Jangan sampai “trayek terakhir” Ramadan masih diwarnai cermin gelap urusan perebutan kekuasaan yang mampu menggelapkan suasana Lebaran-mu.

Marilah kita makmurkan Ramadan di saat-saat “terminal kemenangan” sudah di depan mata dengan memetik pelajarannya. Ramadan dan Hari Kemenangan adalah generator keumatan dan kenegaraan. Betapa aparatur negara dibuat sibuk menyiapkan mobilitas orang, barang dan jasa. Arus mudik ditata dan manusia-manusia pencari kampung kelahiran terus meramaikan alur pelayaran, penerbangan dan ramainya jalan-jalan raya. Ini jelas menggerakkan ekonomi publik. Agama yang hadir dengan ajaran Ramadan telah mampu memberikan bukti bahwa tauhid menemukan jalannya sendiri untuk dijemput kemenangannya. Jadi setiap orang beriman itu adalah para pemenang. Maka tidak perlu diskusi berbusa-busa apalagi melibatkan adu kekuatan massa.

Hari Kemenangan kali ini harus menjadi pembelajaran untuk mampu menghentikan laku memiskinkan dan mengeksploitasi ruhani yang adigang-adigung-adiguna. Laku zalim nan jahil dengan hadirnya kedekilan bersikap menyebarkan ketidakadilan alias laku zulm, dalam bahasa literatur-literatur Persia harus dipungkasi, dilebur saat Lebaran, dihapus dengan menghadirkan tabiat baru yang memang sejiwa kesepakatan bernegara. Selamat bermudik untuk menjumpakan diri bersama keluarga. Bayangkan indahnya ruas rest area yang tengah menggeliat, pasti di situ bersemi harapan-harapan baru.  Akhirnya, jalan mudik adalah bentang silaturahmi yang diajarkan dalam kerangka menjemput Hari Kemenangan itu. Abu Aiyub Al-Ansari menceritakan pesan Rasulullah SAW mengenai silaturahmi sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari: "Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna, jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orang tua dan saudara." Salam kepada keluarga ya. Dariku.    (*)

 

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur

Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur

(TribunJatimTimur.com)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved