Hikmah Ramadan
Puasa, Menjaga Keseimbangan Metabolisme Tubuh
Puasa Ramadhan bagi umat muslim adalah kewajiban, sebagaimana yang tertulis pada Surat Albaqoroh ayat 183
Oleh: Djoko Santoso
Guru Besar Kedokteran Unair
Ketua Badan Kesehatan MUI Prop. Jatim
TRIBUNJATIMTIMUR.COM - Puasa Ramadhan bagi umat muslim adalah kewajiban, sebagaimana yang tertulis pada Surat Albaqoroh ayat 183, agar menjadi umat yang bertaqwa. Umat muslim menjalankan kewajiban puasa Ramadhan dan amalan sunah lainnya, ini adalah dimensi fiqih. Akan tetapi, puasa Ramadhan tidak hanya memiliki dimensi fiqih saja. Berpuasa, setidaknya menahan diri tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu, secara medis bisa membuat keseimbangan metabolisme sehingga akan menyehatkan tubuh. Inilah dimensi medis dari berpuasa.
Bagaimana berpuasa bisa menghasilkan manfaat medis, akan tergantung dari banyak hal, seperti kultur dan pola makan yang beragam antar masyarakat dan wilayah geografis yang berbeda. Misalnya, masyarakat di wilayah Asia yang terbiasa mengkonsumsi nasi yang diolah dari beras sebagai makanan pokoknya. Kita mengonsumsi nasi yang dominan mengandung karbohidrat, dan tubuh akan mengolahnya menjadi sumber energi, bahan bakar untuk menjalankan gerak dan aktivitas tubuh sehari hari. Jadi, sumber energi kita selama ini dominan berasal dari karbohidrat.
Apakah ada sumber energi selain karbohidrat? Tentu saja ada, misalnya makanan hewani yang dominan protein seperti daging, telur dan susu. Oleh system metabolisme tubuh, protein ini utamanya akan diolah menjadi asam amino yang berperan penting dalam pembentukan struktur dan enzim tubuh. Proses metabolisme ini juga menghasilkan lemak yang merupakan cadangan energi. Secara garis besar komponen gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, merupakan sumber utama penghasil energi dalam tubuh kita. Secara umum, tubuh kita membutuhkan asupan harian karbohidrat sekitar 45-65 persen, lemak 20-35 % , dan protein sekitar 10-35 % .
Baca juga: Hampers Popsicle Cake, Kue Berbentuk Es Krim Karakter Nuansa Ramadan
Walaupun dibutuhkan paling banyak sebagai sumber energi, 1 gram karbohidrat hanya dapat menghasilkan 4 kalori. Demikian juga 1 gram protein dapat menghasilkan 4 kalori. Sedangkan 1 gram lemak mampu menghasilkan 9 kalori.
Namun perlu diketahui, karbohidrat adalah komponen yang paling mudah dicerna oleh tubuh dan diubah menjadi energi. Karbohidrat yang masuk ke dalam mulut akan langsung dicerna di mulut menggunakan beberapa enzim di mulut, lalu masuk ke lambung dan usus halus untuk menghasilkan gula sederhana, dan dengan proses tertentu sebelumnya lalu dialirkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Jadi, karbohidrat ini paling gampang dan cepat diproses menjadi energi.
Inilah yang menjelaskan, saat lapar dan kita makan nasi, hanya dalam waktu singkat kita langsung merasa kenyang dan bertenaga. Komponen gula ini mutlak diperlukan oleh tubuh, karena beberapa organ penting di tubuh kita hanya dapat menggunakan gula sebagai sumber energinya.
Secara umum, setelah kita makan, tubuh akan mengalami beberapa tahap proses lanjutannya. Tahap pertama adalah proses anabolik, yang terjadi hingga 4 jam setelah makan terakhir. Dalam konteks puasa Ramadhan, maka periode anabolik juga dalam kondisi terbalik, terjadi setelah sahur hingga sekitar 4 jam kemudian.
Baca juga: Puluhan Narapidana Lapas Perempuan Malang Wisuda Al-Quran
Dalam periode ini, tubuh menggunakan zat gizi utama untuk menjalankan proses pembentukan struktur, membangun molekul besar dari molekul yang lebih kecil (biosintesis) atau yang dikenal sebagai proses anabolisme yang membutuhkan energi, dan sisanya disimpan sebagai cadangan energi. Seluruh sel akan terlibat dalam proses molekuler ini untuk menyusun struktur kompleks dalam tubuh. Intinya, tubuh mengalami proses pembentukan dan penyimpanan cadangan energi, baik berupa glikogen ataupun lemak.
Proses selanjutnya adalah katabolik. Bila tubuh tidak menerima asupan makan dalam rentang waktu 4-16 jam setelah sahur, maka akan dilanjutkan dengan proses katabolisme. Yaitu, kondisi metabolisme tubuh sedang aktif memecah molekul kompleks, dan melepaskan energi yang akan digunakan sebagai bahan bakar mesin biologi tubuh. Katabolisme ini melepaskan energi hingga habis, yang digunakan untuk memecah molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil.
Dalam konteks puasa Ramadhan, inilah waktu yang sangat ideal untuk terjadi proses katabolik. Semakin lama berpuasa, misalkan mendekati jam berbuka, maka proses di dalam tubuh diarahkan untuk memecah cadangan makanan dan nutrisi untuk digunakan sebagai sumber energi. Simpanan cadangan energinya digunakan untuk bahan bakar aktivitas tubuh, sehingga berakibat berat badan turun. Maka, puasa bermanfaat untuk menurunkan berat badan. Saat berpuasa, tubuh akan memecah cadangan glikogen dalam otot dan liver, kemudian berlanjut pada jaringan lemak di perut dan paha, dan akhirnya ke protein.
Baca juga: Bupati Ipuk Perpanjang Kontrak 2.131 PPPK Pemkab Banyuwangi
Tetapi, manfaat puasa tidak hanya sebatas pada menurunkan berat badan. Puasa juga bagus untuk menjaga kesehatan organ penting seperti jantung dan ginjal, karena beban bekerjanya menjadi tidak terlalu berat. Bila proses katabolik ini terjadi lebih dari 16 jam, maka akan terjadi pemecahan asam lemak yang berlebih, dan menghasilkan zat sisa bernama keton. Jika menumpuk berlebihan di tubuh, keton ini bisa membahayakan beberapa organ vital, misalnya otak. Maka, berpuasa dalam durasi terlalu lama dan terus menerus secara tidak terkontrol, akan menjadi kontraproduktif untuk tubuh.
Otak merupakan organ yang sangat bergantung pada karbohidrat dan glukosa sebagai sumber energi. Jika periode berpuasanya sangat panjang, misal lebih dari 16 jam, maka tubuh akan kehabisan cadangan gula sebagai sumber energi, dan mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi penggantinya.
Proses mengolah lemak menjadi energi ini menghasilkan zat sisa bernama keton. Nah, keton ini bisa menjadi berbahaya karena tidak bisa digunakan oleh otak. Karena itu, puasa Ramadhan yang lamanya sekitar 14-16 jam (tergantung posisi geografis) ini bisa dibilang cukup ideal. Jika lamanya berpuasa sampai 20 jam tiap hari, dan dalam berjalan selama tiga bulan misalnya, maka sangat mungkin organ penting seperti otak akan mengalami kerusakan.
Fiqih mengatur lamanya berpuasa sejak waktu subuh hingga magrib, dan ternyata secara medis ini berada dalam ambang batas yang aman serta menyehatkan. Ini adalah salah satu hikmah berpuasa Ramadhan, tentu saja merupakan karunia Allah swt.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/Djoko-Santoso-Guru-Besar-Kedokteran-Unair.jpg)