Bentrok Perguruan Silat
9 Anak di Bawah Umur Terlibat Perkelahian Antar Kelompok Perguruan Silat di Tuban
Bentrokan antar kelompok perguruan silat kembali terjadi di Kabupaten Tuban. Insiden tersebut berlangsung di Jalan Cemoro Sewu, Kelurahan Sukolilo.
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Tuban - Bentrokan antar kelompok perguruan silat kembali terjadi di Kabupaten Tuban. Insiden tersebut berlangsung di Jalan Cemoro Sewu, Kelurahan Sukolilo, Kamis (27/3/2025) sekitar pukul 01.00 WIB.
Peristiwa ini bermula dari saling ejek antara dua kelompok yang berpapasan di sebuah warung kopi. Ketegangan meningkat hingga akhirnya berujung pada perkelahian.
Merasa resah dengan situasi tersebut, warga setempat segera melaporkan kejadian ini kepada Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban. Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) yang sedang melakukan patroli malam segera menuju lokasi untuk menangani situasi.
Baca juga: BREAKING NEWS: Polisi Ungkap Kecurangan Penjualan Solar dan Penyalahgunaan Barcode di SPBU Jember
"Saat tiba di tempat kejadian perkara (TKP), kami hanya berhasil mengamankan satu orang karena yang lainnya melarikan diri," ujar Kanit Jatanras Satreskrim Polres Tuban, Ipda Moch. Rudi, Kamis (27/3/2025).
Petugas kemudian melakukan penyisiran dan pengembangan kasus. Hasilnya, delapan orang lainnya yang terlibat dalam bentrokan berhasil diamankan. Dari peristiwa ini, diketahui satu orang mengalami luka ringan.
"Setelah dilakukan pengembangan, kami berhasil mengamankan delapan orang lagi. Total ada sembilan anak yang terlibat, dengan satu di antaranya mengalami luka ringan," imbuh Rudi.
Baca juga: Saluran Pengaduan Bupati Lumajang "Sambat Bunda" Pakai AI Murah, Respon Lambat dan Alakadarnya
Sebagai langkah pembinaan, kesembilan anak yang masih di bawah umur tersebut diberikan sanksi berupa latihan fisik, seperti push-up, serta diwajibkan melafalkan Sumpah Pemuda. Menurut Rudi, langkah ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan serta mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan.
"Melafalkan Sumpah Pemuda bukan tanpa alasan. Kami ingin mereka memahami bahwa keberagaman harus dihormati dan tidak menjadi pemicu konflik," jelasnya.
Setelah menjalani pembinaan, kesembilan anak tersebut diperbolehkan pulang dengan catatan tidak mengulangi perbuatannya. Mereka juga berjanji untuk menjauhi aksi tawuran di masa mendatang.
"Kejadian seperti ini sering terjadi karena anak-anak masih dalam proses mencari jati diri. Oleh karena itu, peran keluarga dalam membimbing mereka sangat penting," pungkasnya.
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur
Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur
(Muhammad Nurkholis/TribunJatimTimur.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.