Senin, 27 April 2026

Berita Situbondo

Belasan Hektare Terumbu Karang Rusak, KMBS Wadul DPRD Situbondo

Komunitas Misi Bahari Situbondo (KMBS), mendatangi kantor DPRD Situbondo, Jawa Timur

Penulis: Izi Hartono | Editor: Sri Wahyunik
TribunJatimTimur.com/Istimewa
WADUL - KMBS mengadukan kerusakan belasan hektare terumbu karang di Batu Kenong di perairan Pasir Putih, ke komisi III DPRD Situbondo, Jawa Timur, Jumat (20/6/2025). Mereka berharap ada solusi atas kerusakan terumbu karang itu. 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, SITUBONDO - Komunitas Misi Bahari Situbondo (KMBS), mendatangi kantor DPRD Situbondo, Jawa Timur, Jumat (20/06/2025).

Kedatangan mereka mengadu ke Komisi III terkiat kerusakan belasan hektare terumbu karang di perairan di kawasan obyek wisata bahari Pasir Putih.

Tepatnya di perairan pantai Batu Kenong, Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur

Ketua MBS, Aglendy RO mengatakan, dirinya ingin memgadukan hamparan kematian terumbu karang seluas  10 hektare di perairan Batu Kenong.

"Tapi akhir ini saat kami menyelam lagi, kerusakan terumbu karangnya semakin luas. Yang awalnya kami temukan 10 hektare, kini meluas hingga mencapai 13 hektare," ungkapnya usai bertemu Komisi III DPRD Situbondo.

Dampak kerusakan terumbu karang itu, kata Aglendy, masih perlu dilakukan kajian  ilmiah, namun penyebab kerusakan terumbu karang ada tiga faktor.

"Yakni kerusakan akibat faktor biologi, kimia, dan mekanis," jelasnya.

Dikatakan, kerusakan biologis itu disebabkan penyakit karang, akan tetapi kalau kerusakan kimia itu dikarenakan sedimen bahan kimia berbahaya.

"Sedangkan kerusakan karang yang ketiga , itu bisa sebabkan nelayan ngunjak karang atau perahu besandar di atas karang, tapi jika dibandingkan kerusakan yang hamparan itu tidak mungkin mencapai 10 hektare," bebernya.

Baca juga: Kepanikan Melanda saat Dua Jemaah Haji Bangkalan Meninggal Dunia di Pesawat

Saat ditanya apa hanya lokasi di Batu Kenong yang terumbu karangnya rusak, Aglendy mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan yang luas dan kerusakan terumbu karangnya yang cepat itu hanya terjadi di perairan itu (Batu Kenong, Red).

Menurutnya, sejak tahun 2017 lalu dirinya bersama teman yang lain mengelola CSR dengan melakukan konservasi di perairan tersebut.

"Tapi sekarang hasilnya sia sia, karena semuanya mati," ucapnya.

Padahal, sambungnya, tumbunya terumbu karang itu tergantung kondisi alam dan airnya.

"Paling cepat terumbu karang itu empat centi, kita merawat dengan dana yang sangat besar selama konservasi munkin hanya 5.000 meter persen," keluhnya.

Mereka mengadu karena berharap ada solusi atas persoalan tersebut. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved