Selasa, 14 April 2026

Macet Horor Saat Arus Mudik di Gilimanuk, Gapasdap Usul Tambah Dermaga

Gapasdap mengusulkan penambahan dermaga di penyeberangan Ketapang–Gilimanuk mencegah kemacetan panjang.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Aflahul Abidin
ANTRE - Kendaraan mengantre masuk ke dalam kapal di salah satu dermaga di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Jumat (27/3/2026). Gapadap pusat mengusulkan agar penambahan dermaga di Ketapang-Gilimanuk direalisasikan. 

Ringkasan Berita:
  • Kemacetan saat puncak arus mudik di Pelabuhan Gilimanuk memicu usulan perbaikan sistem penyeberangan.
  • Gapasdap mengusulkan penambahan dermaga di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
  • Saat ini tersedia 7 dermaga yang hanya mampu melayani sekitar 28 kapal.
  • Jumlah kapal di lintasan tersebut mencapai sekitar 56 unit.
  • Gapasdap juga mengusulkan pengembangan infrastruktur pelabuhan dan perubahan metode pengukuran kapasitas kapal.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Kemacetan horor yang terjadi di kawasan Pelabuhan Gilimanuk saat puncak arus mudik beberapa waktu lalu, menjadi perhatian banyak pihak. Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) mendorong pemerintah untuk menambah jumlah dermaga di lintasan penyeberangan Selat Bali yang menghubungkan Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi dengan Pelabuhan Gilimanuk di Bali.

Ketua Umum Gapasdap Pusat, Khoiri Soetomo, menilai penambahan dermaga merupakan solusi paling realistis untuk mengurai antrean kendaraan saat musim padat penumpang.

"Kami dari operator menyampaikan bahwa jika pemerintah menambah dermaga, khususnya di lintasan Ketapang–Gilimanuk, maka kami menjamin tidak akan terjadi kekurangan kapal, baik dari sisi jumlah, kapasitas, maupun kecepatan layanan," ujarnya di Banyuwangi, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga: Pemudik Diimbau Hindari Puncak Arus Balik Ketapang–Gilimanuk pada 28-29 Maret

Sangat Vital

Khoiri menjelaskan transportasi penyeberangan di Selat Bali memiliki peran yang sangat penting sebagai penghubung utama antara Pulau Jawa dan Bali.

Menurutnya, hal ini terlihat dari keterlibatan berbagai pejabat pusat yang turun langsung memantau operasional pelabuhan selama arus mudik dan arus balik Lebaran.

"Kami menilai sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap sektor ini, karena perannya sebagai angkutan massal yang sangat penting dan tidak tergantikan. Sedikit saja gangguan dalam manajemen dapat menyebabkan antrean panjang secara cepat," ungkapnya.

Baca juga: Berdampak Multiplier Effect Ekonomi, Bambang Haryo Desak Tambah Dermaga lintasan Ketapang-Gilimanuk

Kapal Banyak Dermaga Terbatas

Gapasdap menilai kemacetan yang terjadi salah satunya disebabkan keterbatasan jumlah dermaga yang tersedia di lintasan tersebut.

Saat ini terdapat tujuh dermaga yang beroperasi, dengan kapasitas optimal hanya mampu melayani sekitar 28 kapal.

Di sisi lain, jumlah kapal yang tersedia di lintasan Ketapang–Gilimanuk mencapai sekitar 56 unit.

Akibatnya, sebagian kapal tidak dapat beroperasi secara maksimal karena keterbatasan fasilitas sandar.

Baca juga: Kemacatan di Gilimanuk Terurai, ASDP: Seluruh Kendaraan Telah Masuk Buffer Zone

Selain penambahan dermaga, Gapasdap juga mengusulkan pengembangan infrastruktur di kawasan pelabuhan.

Salah satu rencana yang diusulkan adalah penyambungan akses antara Dermaga Bulusan dan Dermaga IV untuk meningkatkan kesiapan operasional pelabuhan di masa mendatang.

Menurut Khoiri, langkah ini diyakini dapat memperkuat sistem layanan penyeberangan di Selat Bali yang menjadi salah satu jalur transportasi tersibuk di Indonesia.

Dalam beberapa diskusi, sempat muncul opsi untuk mengganti kapal-kapal yang beroperasi dengan ukuran yang lebih besar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved