Berita Jember
Pertumbuhan Ekonomi Jember 2024 Menurun
Pertumbuhan ekonomi Jember pada 2024 mencapai 4,86 persen, mengalami penurunan sebesar 0,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Jember pada 2024 mencapai 4,86 persen, mengalami penurunan sebesar 0,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,93 persen.
Sektor transportasi dan pergudangan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi dengan kenaikan 10,41 persen. Sementara itu, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial tumbuh sebesar 7,45 persen, diikuti oleh jasa lainnya (7,41 persen), jasa konstruksi (7,17 persen), jasa perusahaan (6,77 persen), serta penyediaan akomodasi dan makanan/minuman (6,49 persen).
Menanggapi data tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait mengakui bahwa sektor pertanian belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
"Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden bahwa sektor pangan harus menjadi perhatian utama pemerintah di semua tingkatan," ujarnya, Senin (25/3/2025).
Baca juga: Pindahkan Server Wajib Pajak ke Kominfo, Mas Rusdi Mulai Membuat Pasuruan Satu Data
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Jember akan memberikan perhatian lebih pada sektor pertanian guna memperkuat ketahanan pangan. "Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah, terutama dalam pengelolaan sektor pangan," tambahnya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Jember, Imam Sudarmaji, menjelaskan bahwa meskipun sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi daerah, yakni sekitar 24 persen, pergerakannya lebih lambat dibandingkan sektor perdagangan.
"Produksi pertanian di Jember memang tinggi, tetapi harga di pasaran cenderung rendah. Ketika terjadi panen raya dan harga turun, otomatis pendapatan petani pun ikut terdampak," ungkapnya.
Baca juga: Telkomsel Perluas Jaringan di Pulau Gili Raja Sumenep
Selain itu, Imam menyoroti kendala dalam penyerapan gabah oleh Bulog yang masih rendah. "Bulog memerlukan alat pengering sebagai bagian dari proses penyerapan hasil panen, dan ini menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan pendapatan sektor pertanian," jelasnya.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga dan investasi tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Jember. Komponen konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,58 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,16 persen, diikuti oleh pengeluaran konsumsi pemerintah (5,06 persen) dan konsumsi rumah tangga (4,60 persen).
Meski menghadapi tantangan di sektor pertanian, pertumbuhan ekonomi Jember tetap menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Dengan strategi yang tepat dan koordinasi antara berbagai pihak, diharapkan sektor pertanian dapat lebih berkontribusi terhadap perekonomian daerah ke depannya.
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur
Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur
(Imam Nawawi/TribunJatimTimur.com)
| Meski Efisiensi Anggaran, Pemkab Jember Perpanjang Kontrak 813 PPPK |
|
|---|
| Jelang Forprov Jatim, Atap dan Stadion JSG Jember Rusak Parah |
|
|---|
| Penerbangan Jember-Jakarta Kembali Buka Pertengahan Januari, Harga Tiket Rp 1,5 Juta |
|
|---|
| Pemkab Jember Siapkan 6.000 Hektare Lahan Pertanian untuk Perkuat Ketahanan Pangan |
|
|---|
| Pemkab Jember Bentuk Tim Optimalisasi Aset untuk Dongkrak PAD 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/PERTUMBUHAN-EKONOMI-JEMBER-Bupati-Muhammad-Fawait.jpg)