Berita Pasuruan

Santriwati SMA Progresif Bumi Shalawat Raih Medali di Ajang Japan Design Idea & Invention Expo 2025

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh santriwati SMA Progresif Bumi Shalawat, Pasuruan, Jawa Timur

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Sri Wahyunik
TribunJatimTimur.com/Istimewa
SANTRI SMA : Lima santriwati SMA Progresif Bumi Shalawat, Pasuruan, Jawa Timur, berfoto bersama setelah berhasil meraih medali perak dalam ajang Japan Design, Idea & Invention Expo 2025, kategori Green Technology. 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, PASURUAN – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh santriwati SMA Progresif Bumi Shalawat, Pasuruan, Jawa Timur.

Tim yang terdiri dari Syakirah Halimah Khairunnisa, Rayya At Tamam, Alya Raniah Zahra, Anjani Jayaningrum, dan Faridah Zaskia Zannuba berhasil meraih medali perak dalam ajang Japan Design, Idea & Invention Expo 2025, kategori Green Technology.

Kompetisi berskala internasional ini berlangsung di Jepang dan diikuti oleh peserta dari 25 negara, meliputi kalangan pelajar tingkat SMP, SMA, mahasiswa universitas, pusat riset, institusi pemerintah, hingga perusahaan swasta.

Beberapa negara yang turut serta di antaranya Jepang, Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, Iran, hingga Arab Saudi dan Polandia.

Dalam kompetisi tersebut, tim santriwati dari Bumi Shalawat membawakan karya bertajuk ESCAPE 2.5, yaitu alat pemurni udara berbasis Electrostatic Precipitator (ESP) yang mereka rancang sendiri dengan bimbingan guru pembimbing sekaligus Koordinator Research SMASIF, Ustadz Farhan Fikri Safii.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas prestasi ini. Kemenangan ini bukan hanya soal medali, tapi menjadi bukti bahwa santri juga mampu berkarya dan berkontribusi nyata dalam menjawab isu global seperti pencemaran udara,” ujar Ustadz Farhan, Sabtu (12/7/2025).

ESCAPE 2.5 dirancang untuk menyaring partikel udara halus PM2.5 secara efektif.

Baca juga: Ko Hee Jin Jadi Sasaran Foto Bareng Saat Hadiri Ngunduh Mantu Megawati-Dio Novandra di Surabaya

Alat ini menggunakan elektroda berbahan tembaga dan aluminium yang menghasilkan medan listrik tegangan tinggi, memicu ionisasi partikel udara agar tertarik ke elektroda kolektor.

Proses ini diperkuat dengan penggunaan filter karbon aktif, HEPA filter, dan sistem kipas internal.

Hasil uji menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar PM2.5 hingga 77,78 persen dalam waktu 60 menit pada tegangan 400V.

Alat ini juga bersifat portabel, hemat energi, dan cocok digunakan di ruang semi-terbuka seperti kantin, ruang merokok, koridor, maupun area industri kecil.

Disampaikannya, proses persiapan menuju kompetisi ini memakan waktu berbulan-bulan.

Kelima santriwati tersebut menjalani tahapan riset literatur ilmiah, perencanaan desain, eksperimen, hingga validasi data, sembari tetap menjalankan aktivitas akademik dan ibadah sebagai santri.

“Mereka mengorbankan waktu istirahat untuk merancang dan menyempurnakan alat ini. Semangat kolaboratif, ketekunan, dan mental tangguh yang mereka tunjukkan sungguh luar biasa,” sambungnya.

Ia menegaskan, partisipasi tim dalam ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk dakwah keilmuan, bahwa pesantren bisa menjadi ruang lahirnya inovasi dan solusi konkret atas permasalahan dunia.

Baca juga: DPRD Kabupaten Pasuruan Dukung Penguatan SDM PAUD Lewat Bimtek Deep Learning

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved