Kamis, 7 Mei 2026

Arus Mudik 2026

Kekurangan Dermaga Picu Antrean Panjang di Penyeberangan Ketapang–Gilimanuk

Gapasdap menilai antrean panjang di penyeberangan Ketapang–Gilimanuk karena jumlah dermaga yang belum ideal.

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Aflahul Abidin
DERMAGA - Kepala Bidang Usaha dan Pentarifan DPP Gapasdap Rakhmatika Ardianto bersama mengurus Gapasdap Banyuwangi saat berada di Dermaga Ponton Pelabuhan Ketapang, Sabtu (14/3/2026). Menurut Gapasdap, jumlah dermaga di Ketapeng-Gilimanuk masih jauh dari ideal. 

Ringkasan Berita:
  • Gapasdap menilai antrean panjang di penyeberangan Ketapang–Gilimanuk disebabkan kekurangan dermaga.
  • Pelabuhan Ketapang memiliki 55 kapal tetapi hanya didukung tujuh pasang dermaga.
  • Kondisi ini membuat sekitar setengah kapal tidak bisa beroperasi setiap hari.
  • Gapasdap mengusulkan penambahan tiga pasang dermaga agar kapasitas angkut naik hingga 40 persen.
  • Desain dermaga model “sirip ikan” disebut dapat menjadi solusi peningkatan kapasitas pelabuhan.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) menilai kemacetan yang kerap terjadi di lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk dipicu oleh keterbatasan jumlah dermaga. Infrastruktur pelabuhan di salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia itu belum sebanding dengan jumlah kapal yang tersedia.

Kepala Bidang Usaha dan Pentarifan DPP Gapasdap, Rakhmatika Ardianto, mengatakan Pelabuhan Ketapang saat ini menjadi pangkalan bagi sekitar 55 kapal. Namun jumlah dermaga yang tersedia hanya tujuh pasang.

“Hari ini saya mendengar kemacetan di Gilimanuk mengular sampai 7 kilometer. Itu antrean yang panjang,” kata Rakhmatika, Sabtu (14/3/2026).

Baca juga: Arus Mudik Kendaraan di Pelabuhan Ketapang Mulai Meningkat

Banyak Kapal Tidak Bisa Beroperasi

Rakhmatika mengatakan keterbatasan dermaga membuat banyak kapal tidak dapat beroperasi setiap hari karena harus menunggu giliran sandar.

Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya telah diprediksi sejak lama oleh Gapasdap.

“Ini sebenarnya sudah kami prediksi sejak dulu. Kami sudah beberapa kali menyampaikan kepada pemerintah bahwa akar permasalahan di lintasan Ketapang–Gilimanuk ini adalah jumlah dermaga yang kurang,” ujarnya.

Ia menjelaskan satu pasang dermaga idealnya hanya melayani empat kapal dalam satu periode operasional.

Dengan kondisi tujuh pasang dermaga saat ini, kapasitas pelayanan di Pelabuhan Ketapang hanya mampu menampung sekitar 28 kapal per hari.

“Itu artinya kurang lebih 50 persen dari total kapal yang tersedia. Lalu sisanya ke mana? Sisanya harus off dan menunggu giliran,” katanya.

Baca juga: KMP Portlink VII Terbakar di Pelabuhan Ketapang, Penyeberangan Jawa-Bali Tetap Normal

Tambahan Dermaga

Gapasdap menilai jumlah ideal dermaga di lintasan Ketapang–Gilimanuk seharusnya mencapai 10 pasang.

Penambahan tiga pasang dermaga dinilai dapat meningkatkan jumlah kapal yang beroperasi sekaligus memperbesar kapasitas angkut kendaraan dan penumpang.

“Jika ada tambahan tiga pasang dermaga, maka kapal yang bisa beroperasi akan bertambah sekitar 12 kapal,” jelasnya.

Dengan tambahan kapal tersebut, kapasitas angkut di lintasan penyeberangan diperkirakan meningkat hingga sekitar 40 persen dari kapasitas saat ini.

Rakhmatika menyebut usulan penambahan dermaga sudah beberapa kali disampaikan kepada pihak eksekutif maupun legislatif. Namun hingga kini belum ada kepastian terkait realisasi pembangunan.

Baca juga: KMP Portlink VII Terbakar di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Ini Kronologi dan Kondisi Penumpang

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved