Kondisi Pasar Tradisional di Jember Memprihatinkan, Tapi Ditarget PAD Optimal
Pasar tradisional Jember butuh perbaikan, tapi tanpa anggaran 2026. PAD tetap ditarik pedagang keluhkan kondisi.
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Haorrahman
Ringkasan Berita:
- 70 persen dari 30 pasar tradisional di Jember membutuhkan perbaikan
- Tidak ada anggaran pemeliharaan pasar dalam APBD Jember 2026
- Pemkab tetap menarik retribusi harian dan bulanan dari pedagang
- Pasar Tanjung sebagai ikon kota dalam kondisi bocor, bau, dan semrawut
- Pedagang berharap perbaikan sederhana, kebersihan, dan relokasi yang adil
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Pemkab Jember mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pasar tradisional. Namun, upaya tersebut berbanding terbalik dengan kondisi fisik pasar yang dinilai memprihatinkan.
Data Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Jember mencatat terdapat 30 pasar tradisional yang tersebar di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen pasar membutuhkan perbaikan, bahkan dua pasar dilaporkan sudah tidak aktif.
Meski kondisi mayoritas pasar memerlukan pembenahan, Pemkab Jember tidak mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan maupun revitalisasi pasar dalam APBD 2026.
"Tahun 2026, tidak ada biaya pemeliharaan, perbaikan ataupun perawatan pasar," ujar Sekretaris Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Jember, Wiwik Supartiwi.
Di sisi lain, pemerintah tetap menarik retribusi dari pedagang, baik harian maupun bulanan. Selain itu, pedagang juga dikenakan biaya tambahan untuk fasilitas seperti kamar mandi dan kebersihan.
Baca juga: Polres Jember Bongkar Penimbunan Pertalite di Silo, Pelaku Modifikasi Mobil Carry
Wiwik menyebut, meski tanpa dukungan anggaran daerah, Pemkab Jember tengah mencari solusi melalui pemerintah pusat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengajukan bantuan ke Kementerian Pekerjaan Umum.
Ia mengungkapkan, pemerintah pusat telah memberi sinyal akan membantu perbaikan Pasar Tanjung pada 2026.
Baca juga: Pemkab Jember Mulai Berlakukan WFH, Tak Berlaku untuk ASN Eselon 2
Pasar Tanjung Memprihatinkan
Pasar Tanjung merupakan pasar terbesar sekaligus ikon perdagangan di Jember. Lokasinya strategis, hanya sekitar 2,5 kilometer dari Alun-Alun Jember dan pusat pemerintahan.
Namun, kondisi pasar ini dinilai jauh dari layak. Sejumlah titik mengalami kebocoran, genangan air bercampur sampah menimbulkan bau menyengat, dan penataan pedagang dinilai semrawut.
Padahal, aktivitas ekonomi di pasar ini berlangsung selama 24 jam.
"Tapi coba lihat sendiri, kondisinya. Memprihatinkan, bocor, bau," ujar Septianingsih, salah satu pedagang, Rabu (15/4/2026).
Septianingsih berharap pemerintah segera melakukan pembenahan, terutama pada aspek kebersihan dan infrastruktur dasar.
Baca juga: Pemkab Jember Mulai Desain Kawasan Street Food di Jalan Kartini
"Minimal kebersihannya. Sampah jangan telat diambil, karena akan bau. Bocor-bocor diperbaiki. Kalau hujan banjir," tegasnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan antara kewajiban pedagang membayar retribusi dengan kondisi fasilitas yang tidak memadai.
Pasar tradisional Jember
PAD Jember
revitalisasi pasar 2026
Pasar Tanjung Jember Memprihatinkan
Pasar Tradisional Jember Memprihatinkan
kondisi pasar Jember
| Nomenklatur Berubah, Tahun Ini Restribusi Pasar Ditarget PAD Rp 7,8 Miliar |
|
|---|
| Pendapatan PBB Jember 2025 Capai Rp 56,3 Miliar, Banyak Desa Menunggak |
|
|---|
| Pemkab Jember Bentuk Tim Optimalisasi Aset untuk Dongkrak PAD 2026 |
|
|---|
| Bupati Fawait Optimistis PAD Jember Tembus Rp 1,3 Triliun Tanpa Naikkan Pajak |
|
|---|
| Dari Target 1,137 Triliun Capaian PAD Jember Masih Rp Rp 805,4 Miliar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/MEMPRIHATINKAN-Kondisisi-di-Pasar-Tanjung-Jember.jpg)