Minggu, 17 Mei 2026

Bank Sampah Sripeling Jember Ubah Sampah Jadi Tabungan Emas

Bank Sampah Sripeling Jember ajak warga pilah sampah rumah tangga dan ubah sampah anorganik jadi tabungan emas.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Sri Wahyunik
BANK SAMPAH - Kegiatan penimbangan sampah di Bank Sampah Sripeling, Tegalbesar, Jember, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Bank Sampah Sripeling memiliki 60 nasabah, dan 30 orang di antaranya merupakan nasabah tabungan emas. 
Ringkasan Berita:
  • Bank Sampah Sripeling di Jember memiliki 60 nasabah aktif dengan penimbangan sampah dua kali setiap bulan.
  • Sebanyak 30 nasabah menukarkan hasil sampah anorganik menjadi tabungan emas melalui kerja sama dengan Pegadaian.
  • Program bank sampah membantu warga memilah sampah rumah tangga sekaligus mengurangi volume sampah ke TPA.
  • Bank Sampah Sripeling juga menjadi lokasi studi tiru pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Jember.
 

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Di Perumahan Villa Tegalbesar, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, warga datang silih berganti sambil membawa kantong berisi sampah anorganik, Sabtu (16/5/2026).

Di sebuah rumah kawasan tersebut, sejumlah pengurus tampak sibuk memilah, menimbang, dan mencatat hasil setoran sampah warga. Lokasi itu merupakan tempat operasional Bank Sampah Sripeling (Srikandi Peduli Lingkungan).

Kegiatan penimbangan sampah rutin dilakukan dua kali setiap bulan sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah dari sumber utama, yakni rumah tangga.

Ketua Bank Sampah Sripeling, Nursiyatin, mengatakan antusiasme warga terus meningkat setiap kali jadwal penimbangan dibuka.

“Wah ini Sabtu-Sabtu banyak juga nasabah yang menabung sampah,” ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Umma Titin itu menjelaskan, penimbangan biasanya dilakukan saat akhir pekan karena sebagian besar warga sedang libur dan memiliki waktu luang untuk memilah sampah dari rumah.

Meski baru memasuki tahun keempat berdiri, Bank Sampah Sripeling kini memiliki sekitar 60 nasabah yang mayoritas berasal dari warga RW 07 Perumahan Villa Tegalbesar.

“Dari jumlah itu, 30 orang di antaranya menabungkan hasil sampahnya ke tabungan emas,” imbuh Titin.

Baca juga: Terima Studi Pengelolaan Sampah, Pemdes Randupitu Perkuat Budaya Peduli Lingkungan

Sampah Ditukar Jadi Tabungan Emas

Program tabungan emas menjadi salah satu daya tarik utama Bank Sampah Sripeling. Pengelola bekerja sama dengan PT Pegadaian untuk mengonversi hasil penjualan sampah menjadi tabungan emas bagi nasabah.

Karena itu, bank sampah tersebut menggunakan slogan “ayo tabung sampahmu jadi emas” dalam setiap sosialisasi kegiatan penimbangan.

Menurut Titin, keberadaan bank sampah tidak hanya membantu mengurangi volume sampah rumah tangga, tetapi juga memberi nilai ekonomi dan edukasi kepada masyarakat.

“Menjaga lingkungan itu dengan memilah sampah dari sumber utama, yakni rumah tangga. Supaya sampah ini tidak semuanya terbuang ke tempat pembuangan akhir yang sekarang juga sudah menggunung,” jelasnya.

Baca juga: Program Banyuwangi Hijau Jangkau 23.410 Rumah Tangga, Kelola 14 Ribu Ton Sampah

Ia menambahkan, warga juga belajar mengenali jenis-jenis sampah anorganik yang memiliki nilai jual berbeda.

Sebagian warga awalnya datang membawa sampah campur, kemudian belajar memilah langsung di lokasi penimbangan. Setelah memahami prosesnya, mereka mulai membawa sampah yang sudah dipisahkan dari rumah.

“Ada yang belajar di lokasi penimbangan, kemudian datang lagi sudah dalam kondisi sampah terpilah. Jadi kami juga memberikan sisi edukasi,” lanjutnya.

Baca juga: Berkat TPS3R Sungai Songgon Banyuwangi Bertransformasi, dari Gunungan Sampah Jadi Ruang Bersih Warga

Jadi Lokasi Studi Tiru Pengelolaan Sampah

Keberhasilan Bank Sampah Sripeling juga menarik perhatian warga dari wilayah lain di Jember. Saat kegiatan penimbangan berlangsung, sejumlah tamu datang untuk belajar pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Salah satunya adalah Indahsari, warga Kecamatan Patrang yang datang mewakili pengurus lingkungan tempat tinggalnya untuk melakukan studi tiru.

“Saya mendengar info tentang bank sampah ini, akhirnya mewakili Bu RT datang ke sini untuk belajar. Sangat bermanfaat sekali, terutama bagaimana mengurangi sampah,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman tersebut bisa menjadi langkah awal pembentukan bank sampah di lingkungannya.

Baca juga: TPA Mulai Penuh, Pemkab Jember Gandeng BUMN Kaji Pengolahan Sampah Jadi Energi

Selain menjadi lokasi studi tiru, pengurus Bank Sampah Sripeling juga beberapa kali diundang untuk berbagi pengetahuan tentang pemilahan dan pengelolaan sampah bernilai ekonomi di sejumlah wilayah di Kabupaten Jember.

Peran bank sampah dinilai semakin penting sejak Pemerintah Kabupaten Jember menerapkan kebijakan pengelolaan sampah mandiri melalui Surat Edaran Bupati yang mulai berlaku sejak April 2026.

Kebijakan tersebut mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi sampah organik dan anorganik guna mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Langkah itu juga diikuti sejumlah toko ritel modern yang mulai membatasi penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved