Minggu, 31 Mei 2026

Apresiasi Dua Desa Yang Masuk Program Berseri, Dewan Sebut Ini Perubahan Perilaku

Apresiasi Dua Desa Yang Masuk Program Berseri, Dewan Sebut Ini Perubahan Perilaku

Tayang:
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Haorrahman
Tribun Jatim Timur/Galih Lintartika
PERUBAHAN : Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Sugiarto saat ikut dalam penilaian Desa Berseri di Purwodadi. 

 

Ringkasan Berita:
  • Desa Purwodadi dan Kelurahan Prigen lolos verifikasi lapangan Program Desa Berseri Jatim 2026.
  • Penilaian menitikberatkan pada pengelolaan sampah dan partisipasi masyarakat.
  • DPRD Pasuruan menilai lingkungan bersih berdampak pada kesehatan hingga ekonomi warga.
  • DLH Jatim menyebut perubahan pola pikir masyarakat soal sampah menjadi tantangan utama.
  • Warga Desa Purwodadi membangun budaya bersih mulai dari tingkat rumah tangga hingga dusun.

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - Upaya menjaga lingkungan berbasis partisipasi masyarakat mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Pasuruan.

Dua wilayah, yakni Desa Purwodadi Kecamatan Purwodadi dan Kelurahan Prigen Kecamatan Prigen masuk tahap verifikasi lapangan dalam program Desa Bersih dan Lestari (Berseri) tingkat Jawa Timur tahun 2026.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiarto.

Menurutnya, lingkungan yang bersih dan lestari bukan hanya soal keindahan kawasan permukiman, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat.

“Lingkungan yang bersih dan lestari itu sangat strategis. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan masyarakat, tetapi juga ekonomi, sosial hingga keberlanjutan lingkungan ke depan,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Baca juga: Kepala Pasar se-Pasuruan Teken Pakta Integritas Untuk Kerja Lebih Profesional dan Transparan

Ia menilai, keberhasilan desa membangun budaya peduli lingkungan patut didukung karena membutuhkan proses panjang dan keterlibatan masyarakat secara nyata.

Terlebih, perubahan pola pikir warga menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Sementara itu, anggota tim penilai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur, Gita Istiqfarani menjelaskan, penilaian Desa Berseri tidak lagi hanya melihat kondisi fisik lingkungan yang tampak hijau dan rapi.

Menurutnya, aspek kepemimpinan kepala desa maupun lurah, keterlibatan warga, kelembagaan lingkungan hingga sistem pengelolaan sampah menjadi indikator penting dalam penilaian.

Baca juga: FIFGROUP Dorong Penguatan Posyandu dan Kesehatan Anak di Pasuruan

“Bobot terbesar justru ada di pengelolaan sampah, sekitar 40 persen. Jadi bukan hanya sekadar bersih secara visual,” katanya.

Selain pengelolaan sampah, tim penilai juga mengevaluasi keberadaan ruang terbuka hijau (RTH), kawasan rumah pangan lestari (KRPL), taman toga, hingga konservasi air yang dijalankan masyarakat.

Gita menyebut, tantangan terbesar hampir di seluruh desa sebenarnya sama, yakni mengubah kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Selama ini, kata Gita, pola yang berjalan masih sebatas kumpul, angkut dan buang.

Padahal, konsep Desa Berseri menuntut pengelolaan sampah berkelanjutan mulai dari tingkat rumah tangga.

“Kesadaran masyarakat menjadi hal paling sulit. Sampah organik harus mulai diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan untuk taman toga, sedangkan sampah anorganik masuk bank sampah,” jelasnya.

Baca juga: DPRD dan Bupati Pasuruan Sepakati Tiga Raperda untuk Kepentingan Masyarakat

Berdasarkan data DLH Jawa Timur, tahun ini terdapat 189 usulan desa dan kelurahan dari 34 kabupaten/kota.

Setelah melalui evaluasi administrasi, hanya 176 wilayah yang lolos penilaian dokumen dan berhak masuk tahap verifikasi lapangan.

Di Desa Purwodadi, gerakan menjaga lingkungan dibangun dari tingkat paling bawah.

Kepala Desa Purwodadi, Mulyono mengatakan, budaya bersih dimulai dari rumah tangga sebelum berkembang ke tingkat RT, RW hingga dusun.

“Kalau budaya bersih dibangun dari rumah tangga, masyarakat akan bergerak sendiri. Leadership mulai RT, RW sampai kepala dusun juga sangat menentukan,” ujarnya.

Setiap RT didorong memiliki kawasan penghijauan seperti RTH, KRPL hingga taman toga.

Selain menciptakan lingkungan hijau, kawasan tersebut juga menjadi ruang interaksi sosial warga melalui kegiatan kerja bakti dan gotong royong lingkungan.

Di Dusun Krajan yang memiliki delapan RT, sejumlah lahan fasilitas umum hingga pekarangan rumah warga mulai diubah menjadi titik penghijauan.

Warga juga membentuk tim pegiat lingkungan tingkat RW untuk menggerakkan program kebersihan secara berkelanjutan.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved