Hikmah Ramadan
Ramadan dan Tazkiyatun Nafs di Tengah Kompleksitas Kehidupan
Sifat-sifat buruk dalam diri manusia posisinya beda-beda, ada yang hinggap dalam waktu lama dan ada yang sebentar.
Oleh: Prof Dr Muhammad Turhan Yani MA
Guru Besar FISIP, Direktur LPPM Universitas Negeri Surabaya, Ketua Komisi Pendidikan MUI Provinsi Jatim
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Ramadan mengajarkan kepada umat manusia untuk membersihkan dan mensucikan diri dari sifat-sifat buruk yang ada dalam diri melalui berpuasa. Sifat-sifat buruk dalam diri manusia posisinya beda-beda, ada yang hinggap dalam waktu lama dan ada yang sebentar.
Tantangan terberat adalah membersihkan dan menyucikan diri dari sifat-sifat buruk yang sudah hinggap lama, bagaikan kerak yang nempel pada keramik, perlu alat pembersih yang ampuh supaya cepat dan mudah hilang. Pada diri manusia sifat-sifat buruk itu disebut kotoran atau sampah, anehnya sebagian manusia sering dan kadang senang menyimpan kotoran dan sampah dalam dirinya.
Bagi yang memiliki kemauan untuk membersihkan kotoran atau sampah diperlukan kekuatan diri dan komitmen untuk menindaklanjuti agar kotoran dan sampah tersebut tidak menjadi penghalang (hijab) kebaikan, kebenaran, dan hikmah yang masuk pada dirinya.
Kekuatan spiritual puasa Ramadan
Tidak dapat dipungkiri jiwa yang bersih dan suci (tazkiyatun nafs) dapat ditembus dan sekaligus menembus batas atau sekat ruang dan waktu. Ruang fisik dan nonfisik dapat dilalui oleh orang-orang yang mendapat kemuliaan (karomah) yang diperoleh dengan latihan-latihan spiritual (riyadloh) dengan cara-cara yang benar menurut agama, salah satunya melalui berpuasa.
Demikian pula keberadaan waktu selalu dimanfaatkan dengan lompatan-lompatan kebaikan dan kemanfaatan, sehingga tidak ada waktu yang sia-sia. Sebaliknya jiwa yang kotor, penuh dengan noda dan dosa akan menjadi penghalang bagi siapapun untuk bisa menerima nasihat, kebaikan, dan kebenaran yang datang kepadanya, sekalipun dari jarak yang dekat secara fisik. Mengapa? karena masih ada penghalang berupa kotoran dan sampah yang melekat pada dirinya, itulah sifat-sifat buruk (madzmumah).
Ketika jiwa bersih dan suci dari kotoran dan sampah maka hati dan pikiran dapat berfungsi dengan baik untuk membaca situasi, menelaah, dan menganalisis berbagai fenomena alam dan fenomena sosial. Hati dan pikiran yang bersih (qolbun wa aqlun saliim) dari kotoran-kotoran akan menghasilkan pribadi berakhlak.
Dalam konteks ini Ramadan menjadi pembakar kotoran dan sampah berupa sifat-sifat buruk yang ada di dalam diri manusia sehingga diharapkan tujuan berpuasa bagi orang-orang yang menunaikannya akan terbentuk, yaitu menjadi pribadi bertakwa (muttaqin). Dan, pribadi bertakwa secara sosial akan memberikan dampak positif dan kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia.
Dengan riyadloh tingkat tinggi, salah satunya melalui berpuasa, orang-orang tertentu dianugerahi mendapatkan keistimewaan atau kemuliaan (karomah). Oleh karena itu tidak heran dalam faktanya banyak orang alim yang allaamah (para wali, kiai, dan habib) memiliki ilmu mukasyafah (menembus tabir) secara cerdas dan tepat.
Hal demikian tidak lepas dari jiwa yang bersih dan suci yang telah melekat pada dirinya, sehingga hati dan pikirannya dapat menembus sekat-sekat fisik dan non fisik. Dari fakta inilah banyak orang yang sowan kepada para wali, kiai, dan habib untuk mohon doa restu atau mohon dapat barokahnya karena kemuliaan ilmu dan akhlaknya, bukan karena harta dan kepopulerannya, mereka dengan riyadloh spiritualnya menjadi pribadi teladan yang layak menjadi role model bagi kehidupan umat manusia karena merekalah sesungguhnya pewaris Nabi.
Derajat (maqom) keilmuan dan pribadi berakhlak menjadikan para wali, kiai, dan habib didatangi/disowani oleh kalangan masyarakat. Hal demikian dapat dilihat khususnya ketika seseorang memiliki hajat tertentu, baik kalangan pejabat, akademisi, politisi, profesional, maupun orang biasa silaturrahim dan sowan kepada orang-orang mulia tersebut untuk mendapatkan wasilah (link) kepada Allah melalui nasihat-nasihat, hikmah, dan doa-doa yang dimunajatkan kepada Allah.
Kekuatan spiritual orang-orang istimewa tersebut tidak tiba-tiba dimiliki akan tetapi melalui proses panjang dan lama, di antaranya tirakat dan riyadloh-(latihan spiritual) seperti puasa Senin dan Kamis atau puasa Dawud secara istiqomah dan tirakat-tirakat lainnya, sehingga pengembaraan spiritualnya melalui taqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah menjadikan dirinya pribadi yang baik (akhlaqul karimah) dan membuahkan keistimewaan serta kemuliaan yang Allah anugerahkan kepadanya.
Dalam konteks Ramadan yang di dalamnya ada perintah berpuasa, kekuatan spiritual Ramadan di atas puasa-puasa sunnah di bulan lainnya. Oleh karena itu diperlukan internalisasi dan pembiasaan-pembiasaan kebaikan yang dapat mengasa dimensi batin manusia, tidak sekedar puasa fisik, akan tetapi juga puasa dalam pengendalian sifat-sifat buruk, sehingga hati dan pikiran menjadi lebih jernih dan terbuka menerima nasihat dan kebaikan yang datang kepadanya.
Selanjutnya, bisakah orang awam mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs) melalui puasa Ramadan? Jawabannya bisa, minimal dia dapat mengendalikan sesuatu yang buruk mulai dari fajar sampai matahari terbenam, pada masa itu pula jiwanya telah terbentengi dari sifat-sifat buruk, seperti mengumpat, bermusuhan, korupsi, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/Prof-Dr-Muhammad-Turhan-Yani-MA.jpg)