Kamis, 7 Mei 2026

Kelangkaan BBM Jember

Krisis BBM di Jember Harus jadi Peringatan dan Pembelajaran Bersama

Kelangkaan BBM yang melanda Kabupaten Jember sejak akhir pekan lalu kini mulai mereda.

Tayang:
Penulis: Imam Nawawi | Editor: Haorrahman
TribunJatimTimur.com/Imam Nawawi
SPBU - Suasana di SPBU Jalan Iskandar Dinata Kelurahan Mangli Mangli, Kecamatan Kaliwates Jember, Selasa (29/7/2025). Pada Rabu (30/7/2025) antrean pembelian BBM di Jember mulai normal. 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Kelangkaan BBM yang melanda Kabupaten Jember sejak akhir pekan lalu kini mulai mereda. Namun peristiwa ini harus menjadi peringatan dan pembelajaran bersama oleh semua pihak. 

KH. Abdul Muqit Arif, Wakil Bupati Jember periode 2016–2021, menilai krisis BBM ini menjadi pembelajaran bersama. Ia menegaskan kondisi ini bukan hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga berdampak pada pemerintah dan dunia usaha.

“Krisis ini sesuatu yang tidak diharapkan oleh semua pihak. Bukan hanya masyarakat, tetapi pemerintah juga sangat tidak berharap ini terjadi,” kata dia, Rabu (30/7/2025).

Dampak dari kelangkaan BBM juga dirasakan langsung oleh para pelaku usaha dan masyarakat di sektor pertanian. Sejumlah petani kesulitan mengangkut hasil panennya karena tidak ada bahan bakar untuk kendaraan.

Baca juga: Cynthia Lamusu dan Kisah Perjuangan Punya Anak dalam Film Lyora, Harapan Pejuang Garis Dua

“Bukan hanya pelaku usaha. Saat ini orang yang sedang panen kopi kesulitan mengangkut hasil panennya dari ladang ke rumah karena tidak ada BBM di kendaraannya,” imbuhnya.

Muqit mengapresiasi upaya Pertamina dan pemerintah dalam mengatasi krisis ini sudah maksimal, meski sempat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Saya kira usaha dari Pertamina dan pemerintah sudah maksimal. Masyarakat diharapkan bisa memahami kondisi. Penting, jangan sampai ada oknum-oknum yang memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan pribadi,” ujarnya, Rabu (30/7/2025).

Baca juga: Pengakuan Pelaku Pembunuhan Driver Ojol di Gresik Berbelit

Menurut Kiai Muqit, Pertamina telah mengerahkan sedikitnya 86 unit truk tangki BBM ke puluhan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di wilayah Jember. Ia menegaskan pentingnya pengawasan dalam proses distribusi tersebut.

“Pengiriman itu harus dikawal. Kalau tidak dikawal, saya khawatir nanti dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, ini.

Dia menyayangkan masih adanya pihak-pihak yang memanfaatkan situasi krisis dengan menjual BBM di atas harga eceran resmi. Ia menyebut, harga Pertamax sempat melambung hingga Rp35.000 per liter di tingkat pengecer.

“Saya harap aparat keamanan memperhatikan masalah ini. Jangan sampai ada pihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan ini,” ujarnya.

Baca juga: Terus Berlarut, DPRD Tuban Mediasi Konflik Internal Klenteng Kwan Sing Bio

Sementara Bupati Jember Muhammad Fawait mengungkapkan Pertamina telah mendatangkan armada tambahan dari empat depo berbeda untuk mempercepat distribusi BBM ke wilayah Jember.

“Bukan dari Banyuwangi lagi, tapi besar-besaran dari Malang, Surabaya dan bahkan dari Solo. Artinya, ada upaya serius dari Pertamina untuk menyelesaikan kelangkaan BBM,” kata Fawait.

Kelangkaan BBM di Jember terjadi sejak Sabtu (26/7/2025). Warga terpaksa mengantre panjang di sejumlah SPBU, bahkan ada yang rela menginap di lokasi demi mendapatkan bahan bakar.

Namun pada Rabu (30/7/2025), situasi mulai membaik. Antrean kendaraan di SPBU tidak lagi mengular hingga ke jalan raya, menandai mulai pulihnya distribusi BBM di wilayah Jember.

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur

Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur

(TribunJatimTimur.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved