Peringatan Maulid Nabi
Tradisi Endhog-Endhogan Banyuwangi, Ada Minitur Perahu Raksasa Berisi 2000 Telur Rebus
Endhog-endhogan merupakan tradisi turun-temurun di Banyuwangi merayakan Maulid Nabi dengan ribuan telur hias.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Haorrahman
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Setiap bulan Rabiul Awwal Hijriyah, masyarakat Banyuwangi memiliki tradisi turun-temurun memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Endhog-Endhogan. Ritual mengarak ribuan telur rebus yang telah dihias dengan bunga kertas.
Telur-telur hias itu ditancapkan ke batang pisang yang disebut jodhang, kemudian diarak keliling kampung atau ditempatkan di masjid, dengan diiringi lantunan selawat, pembacaan barzanji, zikir, serta doa bersama. Tradisi ini wujud cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Seperti di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jumat (5/9/2025). Ribuan warga memadati jalan sepanjang 2,2 kilometer dari Masjid Baiturrahman hingga Kantor Desa Kembiritan untuk mengikuti pawai endhog-endhogan.
Mereka membawa berbagai jodhang telur hias dengan iringan rebana dan lantunan selawat.
Baca juga: Permudah Urus e-Pas Kapal Kecil Gratis, Sejak 2020 Banyuwangi Rutin Jemput Bola ke Kampung Nelayan
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, mengatakan tradisi ini bukan sekadar festival, tetapi bentuk kecintaan warga kepada Rasulullah SAW.
“Endhog-endhogan ini bukan hanya sekadar festival yang penuh kemeriahan, tetapi juga menjadi wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW,” kata Ipuk.
Ipuk juga mengapresiasi semangat kebersamaan warga dalam menjaga tradisi.
Baca juga: Degan Goreng, Camilan Unik Gombengsari Banyuwangi Perpaduan Gurih-Manis dari Kelapa Muda
“Mudah-mudahan kita semua yang hadir di sini, yang menyemarakkan festival endhogan, kelak mendapat syafaat Rasulullah SAW,” tambahnya.
Selain di tempatkan batang pisang, berbagai kreasi juga dilakukan warga. Salah satunya replika perahu tumpeng raksasa karya warga Dusun Krajan Dua.
Perahu sepanjang 6-7 meter itu berisi sekitar 1.500–2.000 telur hias, yang dibuat secara gotong royong oleh 30-40 orang selama satu minggu penuh.
“Kami buat secara swadaya dengan menghabiskan biaya sekitar Rp7 juta, melibatkan 30-40 orang. Kita kerjakan mulai pagi, sore, dan malam selama seminggu. Apa yang kita lakukan ini untuk menyemarakkan Festival Endhog-endhogan,” jelas koordinator warga, Taufiq Hidayat.
Ketua Panitia Festival Endhog-endhogan Kembiritan, Guntur, menjelaskan tahun ini tercatat ada 221 kreasi dari tujuh dusun yang turut ditampilkan.
Baca juga: Komunitas Pecinta Kereta Api Banyuwangi Gelar Kampanye Antikekerasan Seksual
“Alhamdulillah setiap tahun tradisi turun-temurun ini selalu bertambah meriah, apalagi Endhog-endhogan Kembiritan sudah dua tahun ini masuk dalam kalender Banyuwangi Festival (B-Fest),” ujar Guntur yang juga Ketua Takmir Masjid Baiturrahman.
Festival ini diikuti lebih dari 1.000 peserta. Setelah pawai, acara dilanjutkan dengan pembacaan dzikir maulid dan pengajian umum di Masjid Baiturrahman.
Guntur menambahkan perayaan ini sebenarnya sudah dimulai sejak awal bulan Rabiul Awal dengan gerakan membaca 1.000 selawat.
“Sebelumnya, juga diawali dengan gerakan membaca 1.000 selawat yang sudah kami lakukan sejak 25 Agustus lalu,” katanya.
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Jatim Timur
Ikuti saluran whatsapp, klik : Tribun Jatim Timur
(TribunJatimTimur.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/PAWAI-Tradisi-Endhog-endhogan-di-Desa-Kembiritan.jpg)