Kamis, 11 Juni 2026

Sunat On The Road, Pasutri Polisi dan Dokter Khitan Anak Kurang Mampu di Banyuwangi

Pasutri polisi dan dokter di Banyuwangi gelar sunat on the road gratis bagi anak yatim dan kurang mampu.

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Haorrahman
ist/Dok Pribadi
SUNAT ON THE ROAD - Kegiatan sunat on the road yang digagas pasangan suami-istri Setyo Budi Bijaksana dan Khusnul Imama di Banyuwangi. Sebanyak 15 anak telah disunat dalam kegiatan sosial itu. 

Ringkasan Berita:
  • Pasutri polisi dan dokter gelar sunat on the road di Banyuwangi
  • Layanan khitan gratis menyasar anak yatim dan keluarga kurang mampu
  • Khitan dilakukan langsung di rumah anak dengan tenaga medis profesional
  • Program berjalan empat bulan dan telah membantu 15 anak
  • Seluruh kegiatan dibiayai secara mandiri tanpa sponsor

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Pasangan suami istri (pasutri) polisi dan dokter, Setyo Budi Bijaksana dan Khusnul Imama, berinisiatif menggelar program sosial “sunat on the road” di Kabupaten Banyuwangi. Mereka mendatangi langsung rumah-rumah warga kurang mampu dan anak yatim piatu untuk memberikan layanan khitan secara gratis.

Setyo merupakan anggota Polri berpangkat Aiptu yang berdinas di Polresta Banyuwangi, sementara sang istri, Khusnul Imama, adalah seorang dokter yang bertugas di salah satu rumah sakit swasta di Banyuwangi.

Program sunat on the road telah berjalan sekitar empat bulan. Selama periode tersebut, setidaknya 15 anak dari keluarga kurang mampu telah mendapatkan layanan khitan gratis dengan pendampingan tenaga medis profesional.

Baca juga: ​Mengintip Geliat Ekonomi di Desa Wisata Kemiren Banyuwangi, Anak Muda hingga Lansia Berdaya

Setyo mengatakan, sunat on the road pada dasarnya mirip dengan kegiatan sunat massal. Perbedaannya, proses khitan dilakukan langsung di rumah anak, sehingga keluarga tidak perlu datang ke klinik atau fasilitas kesehatan.

“Kegiatan ini lahir atas keinginan kami untuk membantu anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung,” kata Setyo, Selasa (3/2/2026).

Keputusan mendatangi rumah anak bukan tanpa alasan. Setyo mengungkapkan, masih banyak warga yang enggan mengikuti sunat massal gratis karena merasa malu atau khawatir dicap sebagai keluarga miskin.

Selain itu, sunat di rumah dinilai lebih nyaman bagi anak. Setelah dikhitan, mereka bisa langsung beristirahat di lingkungan yang familiar.

Baca juga: Kopi Langka Yellow Caturra asal Amerika Selatan Tumbuh di Banyuwangi, Arabika Aroma Buah dan Bunga

Mulut ke Mulut

Informasi mengenai program ini disebarkan secara dari mulut ke mulut, serta melalui nomor kontak yang bisa dihubungi warga yang membutuhkan.

Setyo dan Khusnul juga menetapkan kriteria penerima manfaat, yakni anak dari keluarga kurang mampu, yatim, korban broken home, atau anak yang diasuh oleh keluarga lanjut usia karena orang tuanya merantau.

“Ada juga anak yang tinggal bersama neneknya karena orang tuanya merantau. Intinya sasaran kami adalah mereka yang benar-benar tidak memiliki biaya,” jelas Setyo.

Baca juga: Kampung Nelayan Modern Tambah Daya Tarik Wisata Kuliner Seafood Banyuwangi

Sebelum pelaksanaan, pasangan ini terlebih dahulu melakukan survei lapangan dan meminta persetujuan keluarga. Langkah ini penting untuk menghindari kesalahpahaman.

“Pernah ada keluarga yang tiba-tiba menolak karena tidak ingin dianggap berasal dari keluarga miskin,” cerita Setyo.

Setyo mengatakan, kegiatan sosial tersebut dilakukan tanpa sponsor. Seluruh kebutuhan khitan gratis ditanggung secara mandiri oleh keluarganya.

Khusnul Imama mengatakan sunat on the road melibatkan dokter dan perawat berpengalaman dengan metode khitan yang aman.

Baca juga: "ASN Berbagi" Gotong Royong Kurangi Kemiskinan, ASN Banyuwangi Ikut Rasakan Kebahagiaan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved