Apresiasi Dua Desa Yang Masuk Program Berseri, Dewan Sebut Ini Perubahan Perilaku
Apresiasi Dua Desa Yang Masuk Program Berseri, Dewan Sebut Ini Perubahan Perilaku
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Haorrahman
Ringkasan Berita:
- Desa Purwodadi dan Kelurahan Prigen lolos verifikasi lapangan Program Desa Berseri Jatim 2026.
- Penilaian menitikberatkan pada pengelolaan sampah dan partisipasi masyarakat.
- DPRD Pasuruan menilai lingkungan bersih berdampak pada kesehatan hingga ekonomi warga.
- DLH Jatim menyebut perubahan pola pikir masyarakat soal sampah menjadi tantangan utama.
- Warga Desa Purwodadi membangun budaya bersih mulai dari tingkat rumah tangga hingga dusun.
TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - Upaya menjaga lingkungan berbasis partisipasi masyarakat mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Pasuruan.
Dua wilayah, yakni Desa Purwodadi Kecamatan Purwodadi dan Kelurahan Prigen Kecamatan Prigen masuk tahap verifikasi lapangan dalam program Desa Bersih dan Lestari (Berseri) tingkat Jawa Timur tahun 2026.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiarto.
Menurutnya, lingkungan yang bersih dan lestari bukan hanya soal keindahan kawasan permukiman, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat.
“Lingkungan yang bersih dan lestari itu sangat strategis. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan masyarakat, tetapi juga ekonomi, sosial hingga keberlanjutan lingkungan ke depan,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: Kepala Pasar se-Pasuruan Teken Pakta Integritas Untuk Kerja Lebih Profesional dan Transparan
Ia menilai, keberhasilan desa membangun budaya peduli lingkungan patut didukung karena membutuhkan proses panjang dan keterlibatan masyarakat secara nyata.
Terlebih, perubahan pola pikir warga menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Sementara itu, anggota tim penilai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur, Gita Istiqfarani menjelaskan, penilaian Desa Berseri tidak lagi hanya melihat kondisi fisik lingkungan yang tampak hijau dan rapi.
Menurutnya, aspek kepemimpinan kepala desa maupun lurah, keterlibatan warga, kelembagaan lingkungan hingga sistem pengelolaan sampah menjadi indikator penting dalam penilaian.
Baca juga: FIFGROUP Dorong Penguatan Posyandu dan Kesehatan Anak di Pasuruan
“Bobot terbesar justru ada di pengelolaan sampah, sekitar 40 persen. Jadi bukan hanya sekadar bersih secara visual,” katanya.
Selain pengelolaan sampah, tim penilai juga mengevaluasi keberadaan ruang terbuka hijau (RTH), kawasan rumah pangan lestari (KRPL), taman toga, hingga konservasi air yang dijalankan masyarakat.
Gita menyebut, tantangan terbesar hampir di seluruh desa sebenarnya sama, yakni mengubah kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah.
Selama ini, kata Gita, pola yang berjalan masih sebatas kumpul, angkut dan buang.
| Bank Sampah Sripeling Jember Ubah Sampah Jadi Tabungan Emas |
|
|---|
| Terima Studi Pengelolaan Sampah, Pemdes Randupitu Perkuat Budaya Peduli Lingkungan |
|
|---|
| Program Banyuwangi Hijau Jangkau 23.410 Rumah Tangga, Kelola 14 Ribu Ton Sampah |
|
|---|
| Berkat TPS3R Sungai Songgon Banyuwangi Bertransformasi, dari Gunungan Sampah Jadi Ruang Bersih Warga |
|
|---|
| TPA Mulai Penuh, Pemkab Jember Gandeng BUMN Kaji Pengolahan Sampah Jadi Energi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/PERUBAHAN-Anggota-Komisi-II-DPRD-Kabupaten-Pasuruan-berseri.jpg)