Hikmah Ramadan
Puasa dan Kesehatan
Hadits Nabi SAW menyebut hubungan puasa dengan kesehatan, yakni: Bepuasalah, kalian akan sehat.
Oleh: H Ainul Yaqin MSi Apt
Ketua MUI Provinsi Jatim
TRIBUNJATIMTIMUR.COM - Membincang puasa kaitannya dengan kesehatan bisa dilihat dari dua sisi, pertama dari sisi manfaat puasa bagi kesehatan. Yang kedua dari sisi tips agar puasa tetap sehat, utamanya bagi yang mempunyai masalah kesehatan.
Dari sisi yang pertama terdapat hadits Nabi SAW yang biasa dikutip ketika membincang hubungan puasa dengan kesehatan, yakni: Bepuasalah, kalian akan sehat.
Sehubungan dengan hadits ini, terdapat tiga riwayat yang ketiga-tiganya dinilai dlaif. Pertama riwayat dari sahabat Abu Hurairah Ra, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath (Juz VIII/hlm. 174). Al-Hafidz al-Iraqi dalam takhrij Ihya menyebut, bahwa sanad hadits ini dlaif (lih. Ihya Juz III/hlm 87).
Riwayat kedua dari sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. Hadits ini dimuat oleh al-Hafidz Ibnu Adi dalam al-Kamil fi Dlua’fa’ al-Rijal (Juz IV/ hlm. 10) dari jalur Husain bin Abdullah bin Dlamirah yang dinilai dlaif. Riwayat ke tiga dari sahabat Ibnu Abbas Ra. Hadits ini juga dimuat oleh al-Hafidz Ibnu Adi dalam al-Kamil fi Dlua’fa’ al-Rijal (Juz X/ hlm. 231) dari jalur Nahsyal bin Sa’id yang juga dinilai dlaif.
Baca juga: Perang Sarung dan Petasan Resahkan Warga Lumajang saat Ramadan, Polisi Amankan Puluhan Pemuda
Para ulama berbeda pendapat menyikapi penggunaan hadits dlaif. Ada yang menolak sama sekali penggunaannya, ada yang membolehkannya untuk hal tertentu. (Mahammad Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits, hlm. 351). Ulama yang membolehkan menggunakannya memberikan kriteria: hadits tersebut berisi kisah, nasihat, keutamaan amalan, dan sejenisnya.
Kemudian tidak berkaitan dengan sifat Allah, masalah akidah, masalah halal-haram, dan hukum syariat. Bukan hadits maudhu’ serta ke-dlaif-annya tidak terlalu. (lih. Syeikh Hasan Muhammad al-Masath, al-Taqrirat al-Sunniyyah Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyyah, hlm. 17-18).
Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, membincang puasa dari sisi manfaatnya bagi kesehatan dapat dilihat secara praktis dari tinjauan sains seperti ilmu kesehatan, ilmu faal dan biokimia, ilmu kedokteran, dan sejenisnya. Sudah banyak ahli yang mengkaji dan meneliti manfaat puasa bagi kesehatan.
Puasa sendiri dalam praktik kedokteran bisa dimaknai sebagai tindakan tidak makan atau minum apa pun kecuali air dalam kurun waktu 8 hingga 12 jam. Juga tidak boleh merokok dan mengunyah permen karet (bahkan tanpa gula), selain itu juga tidak berolahraga. Puasa seperti ini biasanya dikerjakan apabila seseorang akan melakukan cek darah. Tujuannya untuk memastikan agar hasil pemeriksaan tidak dipengaruhi oleh konsumsi makanan terakhir. Dengan begitu dokter bisa melakukan analisis dengan lebih akurat.
Baca juga: Suami di Jember Hajar Pria Selingkuhan Istrinya Hingga Babak Belur
Ada lagi puasa yang dilakukan ketika seseorang akan menjalani operasi. Biasanya dilakukan 12 jam sebelum operasi. Orang yang akan mendapatkan pembiusan total tidak diizinkan untuk makan atau minum sesuatu. Karena jika perut dalam kondisi terisi makanan, selama operasi pasien dapat muntah.
Padahal dia ada di bawah pengaruh bius. Keadaan terbius sementara ada kebutuhan memasukkan lubang atau pipa melalui mulut atau hidung untuk pertukaran udara akan memungkinkan tubuh untuk menghirup muntahan isi perut ke dalam paru-paru, yang hal ini tentu bisa berbahaya.
Adapun pengertian puasa dari tinjauan syara’ adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari disertai dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Ada puasa wajib khususnya puasa bulan Ramadan dan ada puasa sunah di hari-hari tertentu. Selain itu di waktu-waktu tertentu ada larangan berpuasa.
Puasa yang sempurna tak hanya meninggalkan hal-hal yang membatalkannya, namun juga hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasanya. Selain itu, orang yang berpuasa didorong untuk berupaya agar bisa mendapatkan nilai lebih dari puasa yang dilakukan, seperti rasa empati dan peduli terhadap yang orang yang kekurangan dan sebagainya.
Baca juga: Saat Maling di Lumajang Minta Ampun ke Tetangganya Lantaran Curi Sapi
Maka sebenarnya puasa tak sekadar mengubah jam makan dari siang menjadi malam hari, atau meskipun makan dan minum di siang hari tidak dilakukan, tetapi malam harinya asupan makanan yang masuk harus tidak boleh berlebih. Jika justru makan berlebih saat berbuka tentu kurang memberikan manfaat yang optimal baik dari aspek kejiwaan maupun aspek kesehatan.
Puasa yang sempurnya dan dijalani dengan baik akan memberikan manfaat kesehatan baik secara fisik maupun mental. Secara mental orang yang berpuasa biasanya lebih tenang. Apa lagi jika disela-sela beraktivitas, bisa menyempatkan pula membaca Al-Qur’an, membaca buku-buku agama, berzikir dan sebagainya. Yang demikian ini akan membawa pada suasana hati yang lebih teduh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim-timur/foto/bank/originals/H-Ainul-Yaqin-MSi-Apt.jpg)